Kembali

© WWF-Indonesia

Tim ASOY Santa Ursula Jakarta



Aksi Nyata Empat Siswi Santa Ursula Jakarta Selamatkan Orangutan

Posted by Nur Arinta on 07 April 2020
Author by Resti Octaviani

“Ayo Selamatkan Orangutan Yuk!”

Tagline ini terus disuarakan oleh empat siswa SMA Santa Ursula Jakarta di kanal media sosialnya. Dengan mengusung slogan “Ayo Selamatkan Orangutan Yuk!” yang disingkat menjadi “ASOY”, Livia Monika, Ernestita Natalie, Sekar Tiara, dan Vincentia Natasya mengajak masyarakat untuk menjadi bagian dari solusi dalam menjaga populasi primata yang satu ini. Cara yang ditawarkan terbilang mudah, hanya dengan membeli merchandise berupa kaus seharga Rp 70 ribu saja.

Para gadis belia yang masih duduk di bangku kelas XII tersebut juga rajin memperbaharui informasi mengenai kondisi orangutan di Instagram story (Instastory). Dengan demikian, teman-teman online bisa memahami arti penting keberadaan orangutan di alam sehingga tergerak untuk melestarikannya. 

Setelah proyek kampanye dan penggalangan dana berakhir, tim ASOY berkunjung ke kantor WWF-Indonesia untuk bertemu dengan tim Panda Mobile pada Selasa (10/03). Mereka datang untuk menyampaikan dukungan pada program konservasi orangutan. Kontribusi dari mereka berupa donasi dari hasil penjualan merchandise kaus.

Proyek yang dikerjakan tim ASOY sangat menginspirasi, khususnya untuk anak muda yang seusia. WWF-Indonesia merasa perlu mengangkat cerita dari keempat siswi ini. Maka, pada Senin (30/03), WWF-Indonesia menghubungi tim ASOY melalui email Livia Monika untuk mengulik kisah dibalik kampanye dan penggalangan dana. Berikut kutipan wawancara dengan empat siswi SMA Santa Ursula Jakarta yang telah bergerak untuk melakukan aksi nyata demi kelestarian orangutan.

Siapa saja anggota tim ASOY?

Kami berempat, Livia Monika, Ernestita Natalie, Sekar Tiara, dan Vincentia Natasya. Kami adalah sahabat dari Kelas XI Sosial di SMA Santa Ursula Jakarta. 

Kenapa kalian menggunakan nama tersebut?

Awal diciptakannya hashtag #ASOY bermaksud untuk memudahkan promosi penjualan kaus merchandise di Instagram, supaya lebih mudah diingat orang. ASOY sendiri singkatan dari “Ayuk, Selamatkan Orangutan Yuk!” Kami rasa ASOY bisa menjadi nama tim atau nama program yang menggambarkan misi untuk membantu menyelamatkan orangutan.

Apa motivasi tim ASOY untuk menggalang donasi yang akan disalurkan untuk menyelamatkan alam Indonesia?

Kami sadar bahwa generasi muda sekarang harus melakukan sesuatu. Mungkin siswi seusia kami sulit berpartisipasi untuk terjun langsung ke lapangan membantu menyelamatkan orangutan. Tapi bukan artinya kami berhenti sampai di situ. Kami berempat memutar otak, dan mencari tahu bagaimana caranya bisa ikut berkontribusi untuk menyelamatkan orangutan. Cara yang kami suka dan bisa, yaitu berjualan di mana 100 persen keuntungannya didonasikan ke WWF-Indonesia. 

Siapa yang menginspirasi tim ASOY untuk melakukan penggalangan donasi melalui penjualan merchandise?

Kami terinspirasi dari banyak aktivis lingkungan di dunia. Bahkan ada yang seusia kami seperti Gretha Thunberg yang dia meng-influence banyak orang di dunia. Mungkin kami belum di tahap itu. Namun, bagi kami yang terpenting adalah bergerak untuk melakukan aksi nyata. Kami memilih tujuan yang spesifik, yaitu membantu penyelamatan orangutan di Indonesia.

Sebelumnya, project apa saja yang telah kalian lakukan terkait konservasi alam? Apakah ada cerita di setiap project tersebut? 

Sebelum ini, tidak ada project besar yang kami lakukan. Kami sendiri memulai dari hal simple untuk menyelamatkan bumi. Misalnya, kami menggunakan stainless straw, hingga membiasakan diri membawa botol minum dan tempat makan sendiri ketika jajan di sekolah.

Jadi, sejak kapan kalian melakukan penjualan merchandise untuk donasi?

Ide ini pertama kali terlintas di benak kami sejak sekitar bulan September 2019. Saat itu, pada pelajaran geografi, kami sedang mempelajari mengenai kekayaan alam termasuk juga flora fauna. Guru geografi kami di kelas memutarkan video dan memberi banyak informasi mengenai keadaan dunia sekarang, berfokus pada fauna. Kami pun tergerak untuk melakukan sesuatu. 

Sebelumnya, kami berempat lebih fokus melakukan kegiatan bakti sosial untuk sesama manusia. Namun, saat itu, kami sadar bahwa binatang sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang perlu mendapat perhatian. Banyak manusia yang tidak peduli dan tidak sadar untuk bersyukur akan keberadaan mereka.

Akhirnya kami menyusun rencana dan memutuskan untuk melakukan aksi nyata dengan menjual merchandise untuk menggalang dana bagi upaya penyelamatan orangutan pada awal Oktober. Penjualan dibuka selama sebulan, baik internal sekolah maupun eksternal (melalui Instagram). 

Kenapa project kalian bertema orangutan?

Pada saat pelajaran geografi, guru memutar video mengenai kebakaran hutan di Indonesia yang berdampak pada rusaknya habitat hewan. Dari banyaknya hewan yang menjadi program donasi di WWF-Indonesia, kami memilih orangutan. Alasannya karena menurut kami berempat orangutan adalah salah satu hewan yang lucu dan pintar.

Berapa lama project tersebut berlangsung?

Kami membuka penjualan mulai dari awal Oktober hingga sebulan kemudian. Setelah itu, kami menghitung dan mendata untuk kemudian diproses ke vendor. Di vendor sendiri memakan waktu tiga minggu. Alasannya karena kaus yang dipesan cukup banyak yakni mencapai sekitar 200 potong. 

Siapa saja target pasar penjualan merchandise orangutan tersebut?

Sekitar tiga perempat merchandise kami tawarkan ke internal sekolah. Alasannya karena lebih mudah dijangkau dan melakukan promosi. Sisanya, kami jual ke lingkup teman di luar sekolah, seperti di tempat les, dan sebagainya. Ada juga pembeli eksternal yang mengontak kami lewat Instagram. 

Bagaimana cara kalian menjual merchandise tersebut? Narasi apa yang kalian bawa untuk calon pembeli?

Kami melakukan marketing di Instagram. Caranya dengan mem-posting di Instagram story kami masing-masing. Kami memberikan latar belakang dari tujuan penjualan merchandise ini. Kami juga mem-posting video kebakaran hutan di Indonesia lewat Instagram beberapa kali. Harapannya teman-teman online tahu bahwa kejadian ini nyata dan memprihatinkan. Jadi, sudah sepatutnya mendapat perhatian kita. Kemudian, kami mengajak teman-teman online untuk bersama-sama melakukan aksi nyata dengan berkontribusi membeli merchandise. Mereka hanya cukup menyumbang dengan membeli merchandise. Sisanya, biarkan kami yang mengurus.

Berapa banyak merchandise yang terjual? 

Kurang lebih 200 kaus. Sekitar tiga perempat dari jumlah tersebut, kami jual ke siswi di sekolah dengan cara mengedarkan form ke kelas-kelas.

Berapa donasi yang terkumpul dari masing-masing merchandise?

Keuntungan kotor mencapai Rp 11,9 juta, dan keuntungan bersih menjadi Rp 3,75 juta. Kami berempat tidak mengambil sepeser pun dari hasil keuntungan penjualan ini.

Apa suka duka kalian melakukan project tersebut?

Suka duka tentu banyak. Selama proses project ini, kami belajar banyak, baik tentang orangutan maupun skill marketing. Kami banyak berbicara dengan orang baru, belajar untuk menyusun rencana, bekerja dengan deadline, dan sebagainya. 

Rasa suka terbesar bagi kami adalah (mengetahui) tujuan dari project itu sendiri. Meskipun lelah membagi waktu dengan tugas sekolah dan aktivitas lainnya, rasa itu terbayar ketika mengingat tujuan baik untuk membantu menyelamatkan orangutan. 

Namun, sebagai anak SMA kami juga melakukan satu-dua kesalahan. Waktu itu jumlah kaus yang datang dari vendor ternyata tidak sesuai permintaan karena ada beberapa ukuran yang kurang. Namun itu bisa kami atasi. Kami terus belajar.

Apa ada hal menarik selama menjalankan project?

Banyak pengalaman menarik yang kami lewati selama menjalankan project ini. Misalnya saat kami harus membawa karung berisi tumpukan kaus yang cukup berat dari mobil ke lantai dua sekolah  (karena kami menjual kaus ini kepada siswi di sekolah lainnya). Selain itu, Ernestita yang memberikan ide desain justru menemukan minat menggambarnya dari project ini. 

Apakah kalian memang menyukai bidang marketing?

Ya, karena kami berempat dari jurusan sosial, dan sudah tertarik dengan marketing. Livia sendiri ingin melanjutkan studi di sekolah bisnis dan marketing. 

Kami juga membagi tugas cukup baik. Livia yang mengontak dan mengurus vendor serta melakukan bagian marketing terutama lewat Instagram. Tiara juga membantu pada bidang marketing. Sementara Ernestita yang mendesain dan mencetuskan ide gambar. Adapun Natasya mendata warna jumlah dan ukuran kaus.

Apa harapan tim ASOY dari project ini?

Meskipun tidak seberapa, kami berharap donasi dari project kali ini bisa membantu tim WWF-Indonesia menyelamatkan orangutan. Kami berharap, orangutan bisa terus lestari dan menjadi salah satu hewan kebanggaan Indonesia di masa depan.

Setelah ini, apakah kalian akan melakukan project penggalangan donasi lainnya?

Kami memang berencana untuk melakukan project ini jangka panjang. Mungkin, kami akan menjual merchandise bentuk lain (selain kaus), atau proyek yang ditujukan pada program konservasi lainnya, misalnya untuk Harimau Sumatera. 

Tapi, saat ini kami masih fokus pada sekolah dan rencana kuliah. Jadi, untuk sekarang, kami menunda project ini. Kami akan melanjutkan proyek lagi di waktu liburan, dan sebagainya.

Dari cerita empat siswi SMA Santa Ursula Jakarta, kita dapat memetik pelajaran bahwa semua orang bisa berkontribusi dalam menjaga alam Indonesia sesuai dengan bidang dan kemampuan yang dimiliki. Semoga teman-teman Panda Mobile dapat terinspirasi, dan tetap menyebarkan pesan konservasi kepada masyarakat. Saatnya generasi muda beraksi!


Cerita Terkini

Ular Sanca Hijau

Ular Sanca Hijau (Morelia viridis) merupakan jenis sanca pohon yang hanya dapat ditemukan dalam hutan  huja...

Coral 3.0: Milenial dan Tren Produk Ekolabel

Mempertahankan sumber daya laut menjadi suatu keharusan yang dilakukan oleh Indonesia sebagai negara maritim. Sala...

Perkemahan Pramuka "Turtle Hero" Indonesia-Malaysia

Sebagai bentuk implementasi dari kemitraan yang dibangun oleh World Organization of the Scout Movement dan WWF dal...

Get the latest conservation news with email