Kembali

© Administrator

Administrator



Berburu Rupiah di Balik Rimbunnya Mangrove Sorong Selatan

Posted on 06 November 2018
Author by

Oleh: Arya Kusuma Dhani/Fisheries Science Assistant SEA Project

 

Hutan mangrove merupakan salah satu dari tiga ekosistem penting di wilayah pesisir selain terumbu karang dan lamun. Tak bisa dipungkiri bahwa hutan mangrove memegang peran penting dalam menunjuang kehidupan pesisir baik dari segi ekologis maupun dari segi ekonomi masyarakat yang tinggal disekitarnya. Salah satu biota yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove adalah udang dan merupakan salah jenis tangkapan utama masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan mangrove.

 

Udang merupakan salah satu komoditi perikanan yang menjadi primadona dunia sehingga tak heran harganya sangat menggiurkan bagi berbagai pihak untuk mendapatkannya. Udang dapat diperoleh dari hasil budidaya dan hasil tangkapan alam. Seiring dengan meningkatnya pemintaan pasar global maka tak bisa dipungkiri bahwa penangkapan udang dari alam dapat memberikan ancaman ​serius bagi ketersediaan sumberdaya udang di alam.

 

Distrik Konda di Sorong Selatan merupakan salah satu daerah yang dianugerahi kawasan hutan mangrove yang masih lebat dan merupakan salah satu lokasi pendataan harian ​perikanan yang dilaksanakan oleh WWF-Indonesia sebagai mitra pelaksana dari Proyek USAID Sustainable Ecosystems Advanced (USAID SEA). Hampir seluruh warga Konda merupakan nelayan pencari udang. Alat tangkap yang digunakan merupakan jaring berlapis atau sering disebut dengan Trammel Net. Terdapat 8 pengepul udang dan 121 armada penangkapan udang yang telah terdata selama kegiatan pendataan harian perikanan yang dilaksanakan di Konda.


Seperti halnya kebanyakan warga Konda, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat, Peter Irio juga menggantungkan hidupnya terhadap sumberdaya udang yang berada di sekitar kawasan hutan mangorove. Setiap paginya sekitar pukul 05.00 Peter sudah bersiap-siap membelah sungai yang dikelilingi hutan mangrove dengan menggunakan perahu kayu bermesin tempel 15 PK untuk berangkat ke fishing ground menebar jaring dengan harapan mendapatkan hasil tangkapan udang banana (Penaeus merguensis) yang banyak.

 

“Setiap hari sekitar Pukul 05.00 saya berangkat dan pulang tak menentu kadang siang hari kadang pula sore hari, tergantung hasil tangkapan udang” jelas Peter. Daerah fishing ground yang menjadi lokasi favorit Peter dan nelayan Konda lainnya adalah daerah Warongge, Seremuk, dan Seneboi. Namun jika hasil tangkapan mulai menurun makan Peter dan nelayan lainnya akan mencari lokasi lain yang lebih jauh seperti daerah Inanwatan, Isogo, Klabra, dan Kelapa Dua.


Menurut Peter, dibandingkan dengan tahun 90-an hasil tangkapan udang saat ini dirasa semakin menurun yang dikarenakan semakin tingginya persaingan untuk melakukan ​aktivitas penangkapan. “Saat ini paling banyak saya hanya bisa dapat paling banyak sekitar 20 kg satu kali trip penangkapan itupun jika musim udang sedang bermain, jika bukan musimnya paling hanya sekitar 5 kg saja, sangat berbeda ​dibanding dengan tahun 90-an” tutur Peter.

 


Cerita Terkini

Ular Sanca Hijau

Ular Sanca Hijau (Morelia viridis) merupakan jenis sanca pohon yang hanya dapat ditemukan dalam hutan  huja...

Aksi Nyata Bebenah Ciliwung di Hari Sungai Sedunia 2019

Masih dalam rangkaian kegiatan World River Day 2019, WWF-Indonesia bersama relawan HSBC-Indonesia kembali menggela...

Rangkong

Indonesia menjadi rumah bagi 13 spesies burung rangkong, dan tiga jenis di antaranya adalah spesies endemik, yakn...

Get the latest conservation news with email