Kembali

Photo By : Jürgen Freund/WWF

Menyelam bertemu pari manta menjadi salah satu kegiatan wisata laut yang dapat dilakukan di bentang laut Indonesia.

Baca Juga




Hasil Daya Dukung Jadi Rekomendasi Pengelolaan TNK dan TNBB

Posted by Nur Arinta on 28 October 2019
Author by Wayan Panca

Seperti banyak negara lainnya, Indonesia juga mengalami paradox lingkungan; dimana kawasan perairan diproteksi dengan tujuan perlindungan jangka panjang, namun di satu sisi pemanfaatan kawasan diperlukan untuk meningkatkan pendapatan ekonomi. Strategi dan pengawasan yang kurang efektif berpeluang menimbulkan tekanan lebih pada ekosistem perairan tersebut dan pada akhirnya memberikan risiko jangka panjang pada manusia. 

WWF-Indonesia dan Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (PE3) secara bersama mendorong pengawasan areal konservasi melalui pendekatan pengaturan jumlah kunjungan wisatawan (carrying capacity) di Taman Nasional Bali-Nusra. Di tahun 2017 dan 2019, WWF-Indonesia dan P3E juga mendukung pengaturan kunjungan wisatawan di Taman Nasional Komodo dan Bali Barat bekerjasama dengan pengelola Taman Nasional Komodo dan Bali Barat, Pemerintah dan sejumlah stakeholders. Meskipun belum 100 % terlaksana, namun skema pengaturan tersebut berpeluang menjadi pendorong efektivitas tata kelola dalam kawasan terproteksi.

Taman Nasional Bali Barat merupakan kawasan dengan potensi bahari yang telah menjadi magnet bagi wisatawan. Jumlah kunjungan wisatawan tahun 2010 – 2017 menunjukkan peningkatan sebesar 42 persen, dimana tahun 2017 jumlah kunjungan sebanyak 60.027, 86 persen diantaranya berkunjung dengan tujuan snorkeling dan diving ke Pulau Menjangan. Di Taman Nasional Komodo sendiri jumlah kunjungan mengalami peningkatan signifikan dari tahun 2014 ke 2018. Data tahun lalu misalnya, menunjukkan sekitar 170.000 jumlah kunjungan wisatawan di tahun 2018.

Peningkatan jumlah kunjungan baik di Bali Barat maupun TN Komodo Angka ini menunjukkan sejumlah hal positif antara lain; meningkatnya image positif Bali Barat dan Taman Nasional Komodo, meningkatnya pendapatan ekonomi Indonesia melalui Penerimaan Negara Bukan Pajak,  tumbuhnya lapangan kerja untuk memenuhi ekspektasi wisatawan dan meningkatnya investasi pariwisata di Bali Barat dan Labuan Bajo-Taman Nasional Komodo. Meskipun di sisi lain, peningkatan populasi wisatawan ini membawa tekanan pada ekosistem sekitar (keterjaminan air bersih, energi, sampah), marginalisasi masyarakat lokal hingga perubahan tata kelola. 

“Untuk mengurangi tekanan ini, diperlukan rencana jangka panjang yang sistematik. Saat ini kami menilai pengaturan populasi kunjungan wisatawan cukup efektif mengurangi tekanan yang datang dari berbagai aktivitas wisatawan,” kata Drs. Rijaluzzaman, Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Bali dan Nusa Tenggara. 

Sebagai tahap awal dari proses pengaturan jumlah kunjungan tersebut, tim P3E, Taman Nasional Komodo dan Bali Barat didukung WWF-Indonesia melakukan pengambilan data daya dukung wisata bahari diving dan snorkeling.   Proses ini  dilakukan secara bertahap dimana Tim menganalisis faktor koreksi sosial, kerapuhan, kontak fisik dengan biota sekitar dan koreksi angin areal sekitar.

Di Taman Nasional Komodo, observasi dan kajian dilakukan di 23 lokasi penyelaman. Hasil kajian menunjukkan  jumlah maksimal penyelam yang direkomedasikan dalam satu tahun sebanyak 116.813 orang, sedangkan di Taman Nasional Bali Barat dilakukan di 10 lokasi penyelaman di Pulau Menjangan dengan hasil kajian menunjukan jumlah maksimal penyelam yang direkomedasikan dalam satu tahun sebanyak 81.733 orang, dalam implementasinya dari total tersebut penyelaman direkomedasikan tidak hanya dilakukan pada satu atau dua lokasi paling favorit, namun juga dilakukan di site lokasi penyelaman lainnya. Angka tersebut diperoleh setelah mengkaji dan menganalisis data lapangan melalui Physical Carrying Capacity (PCC),  Real Carrying Capacity (RCC), dan Tourism Carrying Capacity (TCC).

Rekomendasi

“Kajian daya dukung wisata ini bisa menjadi langkah awal untuk menjaga ekosistem laut dan darat di Kawasan Taman Nasional Bali Barat yang saat ini sudah eksis menjadi salah satu daya tarik wisata menyelaman” Ujar (Drs. Agus Ngurah Krisna Kepakisan, M.Si , Kepala Balai Taman Nasional Bali Barat). “Kajian management capacity yang dilakukan oleh P3E dibantu analisis oleh WWF-Indonesia juga bisa menjadi acuan untuk pembangunan sarana dan prasara apa saja yang dibutuhkan oleh wisatawan”. tambahannya.

Langkah lanjutan dari angka selanjutnya adalah mengimplementasikan angka carrying capacity di Taman Nasional Komodo melalui  1) Pengaturan pengunjung melalui penetapan kuota wisatawan, 2) Pengembangan sistem informasi, 3) Pengawasan aktivitas dalam Kawasan TNK, 4) Peningkatan keselamatan dan penerapan kode etik berwisata, 5) Monitoring dan Evaluasi penerapan kajian carrying capacity.

Sedangkan di TNBB implementasi dilaksanakan melalui 1) pengaturan kunjungan sesuai dengan kuota yang telah ditetapkan yang kemudian dievaluasi per tahun, 2) menyediakan sistem reservasi berbasis teknologi untuk kunjungan di Taman Nasional Bali Barat dengan pengguna kawasan yang telah terdaftar dan terverifikasi. 3) pengembangan sarana dan prasarana pariwisata di Taman Nasional Barat dengan prinsip keberlanjutan dan lestari. 4) Menerapkan kode etik pariwisata bertanggung jawab bagi pengunjung dan manajemen Taman Nasional Bali Barat. 5) Melakukan monitoring dan evaluasi Daya Dukung Wisata Selam.


Cerita Terkini

Semerbak Wangi Kopi Srikandi dari Selatan Sumatera

Semerbak Wangi Kopi Srikandi dari Selatan Sumatera

Melestarikan Bumi dengan Pangan Lokal dan Pertanian Tradisional

Melestarikan Bumi dengan Pangan Lokal dan Pertanian Tradisional

Dukung Konservasi dan Edukasi Lingkungan Hidup, Angkasa Pura I Tandatangani Nota Kesepahaman dengan WWF-Indonesia

Dukung Konservasi dan Edukasi Lingkungan Hidup, Angkasa Pura I Tandatangani Nota Kesepahaman dengan

Get the latest conservation news with email