Kembali

© Administrator

Administrator



Kopi dan Konservasi: Cerita dari Ulubelu

Posted by Anastasia Joanita on 19 June 2019
Author by Hijrah Nasir

Dengan cepat kedua tangannya bergerak memetik biji-biji kopi yang memerah. Keranjang rotan atau dalam bahasa setempat disebut ginjar telah diikat dengan kain di pundak yang kemudian disampirkannya di bagian depan. Keranjang inilah yang ia isi dengan biji-biji kopi yang siap petik. Tak lupa ia mengenakan topi untuk menghindari terik matahari saat memanen kopi. Sesekali tangannya dengan sigap menyingkirkan ranting-ranting yang menghalangi gerakannya. Tanaman kopi di kebun itu lebih tinggi dari tubuhnya sehingga seringkali dia harus menarik ranting-ranting yang dipenuhi oleh biji kopi berbagai warna, mulai dari hijau tua, kuning, hingga merah serupa cherry. Ia dengan telaten memilih biji berwarna merah untuk dimasukkan ke dalam keranjang. Hal ini karena biji merah akan menghasilkan kopi berkualitas terbaik. Namun terkadang ia juga masih menggabungkan dengan biji yang berwarna kuning. Cara ini ditempuh agar produksi bisa lebih banyak karena biji petik merah masih belum memiliki peminat. Kalaupun ada, pengepul cenderung membeli biji petik merah dengan harga yang sama dengan kopi asalan.

Siang itu, matahari tidak begitu terik. Biji-biji merah pada tanaman ini juga masih belum banyak karena memang belum musim panen. Slamet terkadang memetik biji kopi sebelum memasuki musim panen. Petani menyebutnya musim sela. Saat ini masih bulan April. Panen raya masih lama. Puncak panen raya biasanya pada bulan Agustus hingga September. Selebihnya petani harus mencari sumber penghasilan lain karena penghasilan dari biji kopi tidak sepanjang tahun bisa dinikmati. 

Slamet Widodo, salah satu petani kopi yang tinggal di Desa Ngarip, Kecamatan Ulubelu, Kabupaten Tanggamus. Ulubelu adalah daerah yang terletak di dataran tinggi Tanggamus yang merupakan salah satu penghasil kopi robusta terbesar di Lampung. Desa yang berada di ketinggian 800 mdpl ini menjadi salah satu sentra kopi Lampung yang terkenal dengan robustanya. Slamet adalah salah satu dari petani yang menggantungkan hidupnya pada tanaman kopi, meneruskan usaha budidaya tersebut dari orang tuanya. Pengetahuan budidaya kopi yang diperolehnya pun merupakan pengetahuan turun temurun yang diteruskan dari generasi terdahulu. Namun hal itu perlahan berubah dengan program sekolah lapang pertanian berkelanjutan yang diikutinya sejak tahun 2012. Ia menjadi salah satu petani yang memperoleh pelatihan dari WWF Indonesia mengenai budidaya kopi berkelanjutan selama 16 kali pertemuan. Ketertarikannya dengan program ini bukan tanpa alasan. Menurutnya dengan pengetahuan baru yang ia miliki pasca program tersebut, kemampuannya dalam berbudidaya kopi yang lebih baik dan lebih berkelanjutan bisa ia peroleh.

Langkah sederhana ini berbuah hasil. Ia menjadi salah satu peserta yang diajak oleh WWF untuk menjadi fasilitator Sekolah Lapang Pertanian Berkelanjutan setelah mengikuti serangkaian pelatihan Training of Trainers (ToT). Fasilitator ini bertugas untuk melatih masyarakat petani dalam berbudidaya kopi yang ramah lingkungan. Namun bukan hanya kopi, pengetahuan ini juga bisa diterapkan untuk komoditas lainnya. Bahkan tak jarang ia juga diajak menjadi fasilitator di desa lain. Rainforest Alliance yang bekerja di daerah itu bahkan mengajaknya sebagai salah satu fasilitator untuk melatih petani di Ulubelu. Dengan menjadi fasilitator, ia berharap bisa membagikan pengetahuan yang ia peroleh agar petani-petani lain maju bersama. Namun tantangan yang ia hadapi selama jadi fasilitator adalah untuk meyakinkan petani bahwa apa yang diberikan kepada mereka baik. Di balik itu, ia merasa kesuksesan terbesarnya sebagai fasilitator adalah apabila petani bisa dan mau menerapkan apa yang diajarkan dan pendapatan petani meningkat.

Sebagai petani yang menggantungkan hidup dari kopi, Slamet menyadari bahwa tantangan yang dihadapi oleh kebanyakan petani di daerah ini adalah tingginya curah hujan di saat buah kopi masih terlalu muda. Hal itu mengakibatkan produksi kopi menjadi menurun. Curah hujan yang tinggi ini juga membuat petani membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk mengeringkan kopi. Diakuinya bahwa saat ini ia masih memilih untuk berkebun semi-organik.

Manfaat paling jelas yang ia rasakan dengan berbudidaya kopi secara berkelanjutan adalah berkurangnya biaya produksi karena saat ini pupuk yang biasanya dibeli dari toko sudah diganti dengan pupuk kandang. Selain itu biaya perawatan pun lebih murah dan mudah. Misalnya ia membuat mikro-organisme lokal, POC, dan melakukan sambung tunas kepada tanaman-tanaman tua agar bisa bereproduksi lebih optimal dan memiliki keunggulan. Ia menjelaskan bahwa hampir seratus persen petani di daerah itu sudah melakukan sambung tunas untuk memperoleh sifat-sifat unggul tanaman kopi. Dari pola budidaya seperti itu, ia mengakui bahwa ada peningkatan produksi di kebun kopinya. Peningkatannya cukup tinggi karena mampu mencapai dua ratus kg di lahan yang ia kelola seluas 1 Ha itu.

Dengan keberadaan hutan lindung dan TNBBS di sekitar kebun masyarakat, ia menaruh harapan bahwa petani dapat menjaga kelestarian hutan namun tetap mendapatkan hasil bukan kayu. Ia mengajak petani lainnya untuk tidak lagi melakukan aktivitas di dalam kawasan TNBBS karena sudah cukup mengelola kebun yang ada saat ini. Dengan pola intensifikasi pertanian ini, WWF mendorong agar masyarakat bisa mengurangi ketergantungan terhadap hutan TNBBS.


Cerita Terkini

Optimalkan Sumber Daya Perikanan dan Kelautan Papua Barat Melalui RZWP

Oleh: Siti Yasmina Enita / Communication Officer SEA Project Manokwari, Papua Barat – Pada tanggal 13-14 No...

Cara Seru Mengenal Trenggiling bersama Panda Mobile dan Siswa Al-Jabr

Oleh: Suci Dwi Pangestu (Volunteer Panda Mobile)Senin (08/04), tim Panda Mobile berkunjung ke Al-Jabr Islamic Sc...

Seraya Marannu Fishermen, The Eco-Friendly Coral Fish Fishermen from W

Author: Muhammad G. Salim (Fisheries Program Assistant, WWF-Indonesia)Translator: N.E. SyaputriSeraya Marannu Vil...

Get the latest conservation news with email