Kembali

© Administrator

Administrator



Melestarikan Bumi dengan Pangan Lokal dan Pertanian Tradisional

Posted by Administrator on 22 April 2019
Author by Admin

Budidaya tanaman dan produksi pangan untuk penduduk yang terus bertambah membuat sektor pertanian dan konsumsi pangan sebagai salah satu penyebab signifikan terjadinya degradasi lingkungan, termasuk perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati  di tingkat global. Namun, ada cara-cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi tekanan pada lingkungan, memitigasi  polusi air tanah dan udara dengan mempertahankan dan memperkuat karakter-karakter budidaya pangan sebagai bentuk praktik konservasi yang dapat melestarikan  keanekaragaman hayati dan proses biologis alami untuk menjamin  produksi pangan  dan juga konsumsi yang lebih sehat.

Salah satu contohnya yang dilakukan di Dataran Tinggi Krayan, sebuah wilayah dengan pemandangan yang menakjubkan dan tradisi budaya yang kuat.. Terletak di Kalimantan Utara dan di sepanjang perbatasan dengan Sarawak dan Sabah, Malaysia, dataran tinggi ini adalah tanah leluhur bagi masyarakat adat Lundayeh, Lun Bawang, Kelabit, dan Sa’ban. Meski secara administratif kini terbagi di antara dua negara, mereka masih satu  bahasa, satu sejarah dan warisan budaya yang sama. Meskipun lokasinya terpencil dan sebagian  hutan alami,  lembah aluvial di Dataran Tinggi Krayan  telah dimanfaatkan masyarakat adat selama berabad-abad untuk menanam padi.  Masyarakat juga mengembangkan sistem pertanian yang mengutamakan penanaman padi sawah  yang cukup  unik di pedalaman Kalimantan. Bentuk lansekap di Dataran Tinggi Krayan pada umumnya adalah perpaduan pemanfaatan lahan dengan  sawah  rumpun bambu dan pohon buah-buahan dan dikelilingi hutan yang menyelimuti bukit-bukit dan gunung.. Sementara air bersih dan segar dari pegunungan tersalurkan melalui batang-batang bambu atau kanal-kanal di dalam tanah menuju lahan-lahan sawah.

Apakah ini sebuah lansekap konservasi? Atau lansekap pertanian dan bagian dari ruang hidup masyarakat adat? Bagaimana sebuah tata guna lahan dan praktik pertanian tradisional dapat menjaga Bumi hingga generasi yang akan datang? Berkat sistem pertanian yang mereka kembangkan yang berdasarkan pengetahuan lokal, pasokan benih tradisional, kerbau-kerbau , dan lingkungan yang sehat, masyarakat di wilayah ini memiliki ketahanan pangan dan mampu menjaga kesuburan lahan pertanian.. Selain itu, keanekaragaman hayati memegang peran yang sangat penting. Baik pria maupun wanita telah menjadi penjaga keanekaragaman hayati pertanian di wilayah tersebut. Lebih dari 40 varietas padi dibudidayakan di wilayah ini, ditambah 3 varietas sorgum dan jawawut. Keanekaragaman buah-buahan juga sangat tinggi di sini. Varietas lokal yang banyak tumbuh di kebun-kebun buah atau tepian hutan memiliki karakteristik fenotip dan sensorik yang cukup spesifik hingga mendapat nama yang dalam bahasa Lundayeh. Untuk bahan makanan sehari-hari, masyarakat tidak hanya mengandalkan hasil sawah dan kebun, melainkan juga dari hutan dan kawasan  alam lainnya.

Selama beraba-abad, lokalitas dan keanekaragaman hayati terkait praktek pertanian ini telah menjadi cara untuk membangun keamanan, ketahanan, kemampuan beradaptasi, dan mengurangi kerentanan terhadap perubahan iklim dan peristiwa cuaca lainnya. Kenakeragaman sumber pangan dan tanaman ini juga tercermin dalam hidangan lokal, ‘Luk Kenen Tau’ atau apa yang kita makan, makanan kita.

Beras menjadi sumber ketahanan pangan sekaligus bagian dari identitas budaya dan etnis masyarakat adat Dataran Tinggi Krayan. Masyarakat memilih untuk melindungi daerah pertanian tradisional dan wilayah sekitarnya, serta melestarikan pengetahuan tradisional yang berhubungan dengan praktik pertanian. Pada tahun 2016, masyarakat adat mendeklarasikan Dataran Tinggi Krayan  sebagai kawasan  pertanian tradisional dan organik dengan tingginya keanekaragaman hayati tanaman pangannya. Inisiatif ini menjadi cara untuk melestarikan varietas padi dan tanaman pangan lainnya, menjaga tradisi, dan mempertahankan ruang hidup masyarakat. 

Sistem pertanian lokal yang dikembangan oleh masyarakat adat dan lokal dapat ditemukan di banyak tempat dan kepulauan di Indonesia. Mereka telah membuktikan sistem tersebut mampu berjalan efisien, berkelanjutan dan berintegrasi baik dengan ekosistem sekitarnya. Sistem-sistem serupa dan  pengetahuan tradisonal yang terkait harus didokumentasikan, didukung, dan jika dibutuhkan, dikembangkan secara inovatif. Konsumen urban juga dapat berperan dengan memilih produk pangan lokal yang memiliki sertifikasi asal produk yang jelas, serta memilih bahan pangan organik yang membatasi penggunaan bahan kimia berbahaya bagi bumi dan diri kita. Sistem produksi pangan tradisional di wilayah pedesaan Indonesia bisa menjadi solusi untuk mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan, pemberdayaan ekonomi baik untuk laki-laki maupun  perempuan , dan membantu pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Selain itu, system  pangan tradisional adalah contoh praktik produksi yang lebih selaras dengan alam dan budaya lokal, serta menghormati ibu pertiwi.


Cerita Terkini

BMP Perikanan Tuna

BMP Perikanan Tuna

Setahun Berkiprah, KSU Sampah Komodo Bebaskan Labuan Bajo dari 54,8 Ton Sampah Plastik

Setahun Berkiprah, KSU Sampah Komodo Bebaskan Labuan Bajo dari 54,8 Ton Sampah Plastik

Tapir Sumatera

Tapir Sumatera

Get the latest conservation news with email