Kembali

© WWF-Indonesia

Raisha bersama relawan Panda Mobile lainnya bercerita tentang satwa payung kepada murid-murid.



Mengenalkan Satwa Payung Secara Langsung dan Lewat Modul Panda Mobile

Posted on 14 July 2020
Author by Raisha Sahib

Belalaiku memangkas pohon tinggi agar sinar matahari dapat masuk ke dalam rimbunnya hutan. Bobot tubuhku mampu membuat bibit tanaman masuk ke dalam tanah agar bisa tumbuh dan berkembang. Sisa bibit yang menempel di kakiku akan tersebar seiring daya jelajahku yang luas. Kotoranku bisa menjadi pupuk alami bagi paru-paru Bumi.  

Halo, nama saya Raisha. Saat ini saya sedang menempuh pendidikan tinggi di salah satu universitas swasta di Jakarta. Selain berkuliah, saya juga aktif menjadi sukarelawan bersama Panda Mobile WWF-Indonesia sejak tahun 2018. Melalui tulisan ini, saya ingin berbagi pengalaman berkegiatan bersama Panda Mobile selama hampir dua tahun, khususnya sebagai bagian dari tim penyusun Modul Panda Mobile.

Salah satu "pelajaran" yang paling membekas dan selalu saya ceritakan di sekolah-sekolah adalah tentang bagaimana gajah menjaga ekosistem hutan. Selama ini, saya hanya tahu bahwa gajah memiliki daya jelajah yang luas sehingga hewan tersebut menjadi salah satu satwa payung. Ternyata, gajah juga berjasa besar bagi hutan. Gajah adalah penyeimbang ekosistem. Setiap hari, ia menjelajahi hutan yang luas. Sepanjang perjalanan, kaki gajah yang kuat ditambah dengan bobot tubuh yang berat mampu menginjak bibit-bibit tanaman masuk ke dalam tanah sehingga tumbuhan baru bisa berkembang. Selain itu, biji tanaman yang menempel di kaki gajah juga kemungkinan terlepas di bagian hutan yang lain. Artinya, gajah juga turut menyebarkan berbagai jenis tanaman. Selain itu, kotoran dan air seni gajah juga merupakan pupuk alami bagi hutan.

Gajah juga berperan sebagai pengendali hutan. Jika ada pepohonan yang tumbuh terlalu tinggi, sinar matahari akan terhalang dan menghambat pertumbuhan tanaman yang lebih rendah dan kehidupan di dasar hutan. Peran gajah adalah memangkas pohon-pohon yang tinggi dengan belalainya, sehingga sinar matahari tetap dapat masuk ke dalam hutan.

Sebagai salah satu satwa payung yang berperan besar dalam keberlangsungan hidup hutan, gajah diangkat menjadi salah satu tema yang dibahas khusus dalam Modul Panda Mobile. Modul terpadu yang terdiri dari 12 tema ini berisi rencana kegiatan Panda Mobile, rekomendasi film penunjang, dan permainan interaktif yang berkaitan dengan tema, serta rangkuman materi-materi penting yang akan disampaikan oleh relawan selama kegiatan. Modul yang didesain dengan gambar dan ilustrasi menarik ini diharapkan dapat menjadi “buku saku” bagi para fasilitator, dan menjadi acuan bagi pihak pengundang (guru sekolah, korporasi, dan yang lainnya) untuk dapat menentukan tema apa yang ingin dibawakan Panda Mobile saat berkegiatan. Dengan demikian, acara akan terselenggara dengan persiapan yang lebih matang.

Menjadi bagian dari penyusunan modul yang sedemikian penting ini merupakan hal yang benar-benar baru bagi saya. Jangankan menyusun modul, menulis jurnal saja saya malas sekali, karena hal-hal seperti itu melibatkan proses penelitian yang lama dan harus komprehensif. Ketika pertama kali diberikan tawaran untuk bergabung dalam tim penyusun, saya senang sekaligus ragu. Senang karena mendapat kepercayaan besar, dan ragu saya mampu menjalaninya atau tidak. Saya sadar kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali dan sayang jika dilewatkan. Akhirnya tawaran tersebut saya terima.

Rekan saya adalah kakak-kakak dari Tim Engagement Activation WWF-Indonesia. Selain itu, ada juga seorang sukarelawan lain yang juga sedang berkuliah seperti saya, hanya saja ia adalah seorang mahasiswa tingkat akhir jurusan kedokteran hewan yang otomatis memiliki banyak pengetahuan mengenai satwa. Saya semakin takut dan minder, karena pengetahuan saya seputar satwa dan lingkungan hanya berdasarkan pengalaman empiris, materi dari berbagai pelatihan bersama WWF, serta sedikit dari program National Geographic. Bisa dipastikan, di antara tim penyusun modul saat itu, saya adalah yang paling awam.

Ternyata, rasa takut, minder, dan segala kekhawatiran saya hilang sejak meeting pertama di kantor WWF. Rekan-rekan meyakinkan saya bahwa mereka akan membantu, dan bahwa kami di sini belajar bersama. Benar saja, proses penyusunan berlangsung menyenangkan dan sangat berkesan bagi saya. Kegiatan diskusi dan penyusunan modul ini berlangsung cukup singkat, sekitar empat atau lima bulan. Meeting, diskusi, review, serta evaluasi dari berbagai pihak dilakukan untuk setiap materi, untuk benar-benar menyaring dan mempertimbangkan informasi apa saja yang dapat dimuat pada setiap bab. 

Banyak materi baru yang saya dapatkan dari diskusi dan mendengarkan cerita dari kakak-kakak yang pernah bertugas langsung di lapangan. Contohnya cerita di balik penyelamatan seekor Badak Kalimantan bernama Pahu, lengkap dengan lagu yang diciptakan selama proses penyelamatan. Materi-materi tersebut saya serap dan sebisa mungkin disampaikan kepada peserta kegiatan Panda Mobile. Selain menyusun materi, kami juga ditantang untuk menciptakan permainan baru yang interaktif dan menarik untuk siswa sekolah dasar, sebagai tambahan aktivitas yang sudah ada dalam rangkaian kegiatan Panda Mobile. Tahap akhir penyusunan modul adalah evaluasi dengan penyunting atau editor. Dari evaluasi ini pun banyak pelajaran yang bisa saya ambil. Misalnya, mengenai tips penulisan yang sistemik dan mudah dipahami. Setelah melalui proses editing dan disetujui oleh editor, baru kemudian modul tersebut diserahkan kepada tim desain untuk proses selanjutnya. 

Menjadi bagian dari tim penyusun modul Panda Mobile ini memberi banyak pelajaran dan pengalaman baru bagi saya. Saya juga menjadi lebih percaya diri dalam menyampaikan materi konservasi di hadapan para peserta kegiatan Panda Mobile. Saya harap modul ini dapat menjadi standar baru dalam kegiatan Panda Mobile. Semoga para fasilitator dan pihak pengundang terbantu dengan informasi yang dimuat dalam modul. Untuk relawan baru atau kalian yang berniat untuk mendaftar menjadi bagian dari kegiatan Panda Mobile, terus semangat berkegiatan, ya! Semoga kesempatan pengembangan diri seperti yang saya dapatkan ini terbuka juga untuk kalian. Salam Lestari!


Cerita Terkini

WWF-Indonesia dan Provinsi Jawa Barat Bekerja Sama Mewujudkan Pembangu

Bandung, 6 September 2019 – Bertempat di Gedung Pakuan, Bandung, Jawa Barat WWF-Indonesia menandatangani Kesepak...

Selangkah Lagi Menuju Penetapan Wilayah Kelola Sumber Daya Alam Berbas

Oleh: Hendry Kurniawan (Social Development Officer, WWF-Indonesia Southern Eastern Sulawesi Subseascape)Tiga tahun...

KUMBANG 2020: Your Voice Matters

Kumpul Belajar Bareng (KUMBANG) adalah acara rutin tahunan yang menjadi ajang perjumpaan teman-teman penggiat dan ...

Get the latest conservation news with email