Kembali

© Richard Barrett/WWF-UK

Orangutan jantan teramati sedang duduk di atas sebuah pohon.



Orangutan Telah Kembali

Posted on 19 August 2020
Author by Tutong (Kepala Dusun Ngaung Keruh, Desa Labian, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat)

Saya dan seorang kawan berhenti berjalan dan terdiam. Dihadapan saya, berjarak hanya sekitar 3 meter, satu individu orangutan berjalan di lantai hutan. Ia kemudian memanjat naik ke pohon, berayun-ayun sebentar kemudian menghilang di rerimbunan daun. Beberapa tahun terakhir ini orangutan cukup mudah dijumpai di sekitar kawasan hutan Dusun Ngaung Keruh. Dalam satu bulan terakhir, ini adalah perjumpaan kedua saya dengan orangutan. 

Saya Tutong, Kepala Dusun Ngaung Keruh, Desa Labian, Kecamatan Lanjak, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Saya memimpin warga Dayak Iban Betang Ngaung Keruh dengan jumlah 22 bilik yang terdiri dari 173 jiwa. Hutan adat kami dulu sangat lebat, dengan pepohonan yang rapat dan aneka satwa termasuk orangutan ada di dalamnya. Pada satu masa antara tahun 1999-2005, hutan kami rusak. Saat itu banyak orang berbisnis kayu seperti tengkawang dan meranti, illegal logging jadi marak, hutan kami rusak dan orangutan menghilang.

Kami suku Dayak Iban memang tidak mengganggu orangutan, namun perlakuan kami terhadap hutan membuat mereka kehilangan pohon-pohon yang menjadi sarang dan sumber pakan, sehingga mereka pindah ke lokasi lain yang lebih aman. Dulu orangutan banyak, mereka mencari makan di pohon-pohon buah yang kami tanam setelah masa berladang usai, yang kami sebut Tembawang. Mereka juga membangun sarang diatas pohon-pohon tengkawang dan meranti yang bertajuk lebar.

Orangutan Pergi

Bagi saya, orangutan berperan penting sebagai kelengkapan ekosistem. Suku Dayak Iban menganggap orangutan adalah nenek moyang mereka, sehingga mereka tidak akan mengganggu atau membunuh orangutan. Namun sebagian masyarakat Dusun Ngaung Keruh menganggap orangutan itu menakutkan dan sering mengganggu. Tampilan fisiknya yang seram dan kisah-kisah orangutan mengejar orang dan merusak ladang yang diceritakan dari mulut ke mulut, membuat masyarakat menganggap orangutan sebagai hama. Orangutan jadi diburu dan diusir, sehingga mereka menghilang dan pindah ke hutan lain.

Tahun 1950-1960an, orangutan mudah dijumpai di hutan dekat kampung. Masyarakat di dusun biasa membuka lahan hutan untuk berladang. Lahan yang dibuka kemudian akan diwariskan ke anak cucu, untuk terus ditanami. Namun perkembangan jumlah manusia kemudian membuat lahan yang dibuka semakin banyak, dan di sisi lain banyak lahan terdegradasi namun tidak ditanami lagi.

Pada masa itu pula, bisnis kayu naik daun dan beberapa perusahaan meminta konsesi untuk menebang hutan kami, dengan alasan akan dijadikan kebun sawit. Kami menolak keras. Kami sadari, penguasaan lahan oleh perusahaan, justru akan menghilangkan akses kami terhadap hutan dan seluruh sumber daya alam di dalamnya. Hutan dan sumber kehidupan kami bisa tambah rusak. Kami pun mencari bantuan agar kami bisa menanami kembali lahan yang sudah terbuka.

Solusi Pasokan Air

Berbagai tantangan kami dapatkan, antara lain ditetapkannya hutan kami sebagai Area Penggunaan Lain (APL) yang berarti lahan itu diperuntukkan bagi pemegang ijin konsesi. Kami terpaksa menolak semua permintaan ijin konsesi tersebut. Tantangan dari masyarakat Dayak Iban sendiri adalah kebiasaan membuka lahan dengan cara tebas dan bakar, yang membuat upaya restorasi kami tambah sulit. 

Banyak tawaran bantuan dari berbagai LSM yang kami tolak, karena kami takut lahan akan diambil alih oleh pihak yang membantu itu. Namun rupanya kelompok ibu-ibu berpendapat lain terhadap sebuah tawaran bantuan dari WWF-Indonesia. Mereka mendengar reputasi WWF yang cukup baik dalam pendampingan masyarakat local di Koridor Labian-Leboyan. Proyek restorasi kawasan koridor Labian-Leboyan yang dananya disediakan oleh WWF-Swedia ini, dianggap bisa membantu kami dalam mendapatkan pasokan air bersih.

Air bersih biasanya harus diambil dari sungai menggunakan ember. Jarak sungai dan betang sekitar 20 meter, dan tinggi betang sekitar 2 meter meniti tangga balok kayu. Ibu-ibu setiap hari harus bolak-balik mengambil air, sehingga ide memiliki pipa yang mengalirkan air ke 22 bilik di betang kami sangat didukung. Seluruh penghuni betang kemudian bekerja keras mengumpulkan bibit dari hutan dan membangun persemaian, sehingga dana pembelian bibit dan membangun persemaian bisa disisihkan untuk membeli pipa air. Kami juga bergotong royong membangun instalasi pipa air dari sumber mata air di hulu. 

Proyek restorasi WWF ini telah menjadi proyek restorasi berbasis masyarakat yang melibatkan penuh seluruh warga betang, dengan pendampingan dari WWF-Indonesia. Hutan kami pulih, sumber air terjaga, dan untuk pertama kalinya kami memiliki air bersih yang mengalir langsung ke bilik-bilik kami.

Masyarakat sepakat bahwa lahan yang direstorasi tidak boleh dibuka lagi untuk berladang. Sanksi akan diberikan bila ada pihak yang menebang pohon dan menyebabkan kerusakan atau kebakaran di lahan restorasi. Warga yang merokok pun dilarang membuang puntung rokok sembarangan. Kami percaya bahwa upaya kami akan membuat kehidupan kami lebih baik. Alam menjadi bersahabat, sumber daya alam kembali tersedia. Paling menggembirakan adalah kembalinya orangutan di hutan adat kami. Mereka merasa nyaman membuat sarang dan mencari makan tanpa gangguan. 

Seandainya masalah hutan ini dibiarkan, alam akan hancur, anak cucu tidak akan dapat memanfaatkan hutan kembali. Cita-cita kami, dalam 50 tahun ke depan, alam Ngaung Keruh sudah hijau sesuai dengan komitmen yang kami bangun. Kami juga sangat menyadari, bahwa air bersih yang kami nikmati berasal dari hutan di bagian hulu. Saat ini, debit air di sungai kami semakin bertambah, pohon-pohon yang kami tanam mulai menutupi lahan-lahan terdegradasi, mengikat lebih banyak air dan menciptakan mata air baru. Sampai hari ini, air bersih semakin lancar mengalir sampai ke rumah betang kami.

Orangutan Kawan Kami

Kami masih berdiam diri, tidak ingin mengganggu orangutan karena mungkin ia masih berada di dekat kami, di pucuk pohon-pohon buah yang memang banyak tumbuh hutan Desa Labian yang menjadi koridor penghubung Taman Nasional Betung Kerihun di bagian hulu, dan Taman Nasional Danau Sentarum di bagian hilir Sungai Labian. Saya berpikir, orangutan pasti juga punya perasaan. Mereka memiliki kesamaan DNA 97% dengan manusia. Ia pasti tidak ingin diganggu, ia ingin dilindungi dan diselamatkan. Saya mengatakan dalam hati, agar orangutan tidak perlu khawatir. 

Saat ini, interaksi dengan orangutan mulai berubah, masyarakat sekarang merasa aman jika bertemu orangutan, karena sudah tahu bahwa orangutan tidak menggangu. Orangutan penting karena mereka adalah bagian penting dari siklus kehidupan. Mereka ada dan ikut menyebarkan kelanjutan kehidupan di hutan dengan menyebarkan benih buah hutan. Anak cucu kami pun dapat terus melihat orangutan. Saya akan mendidik anak cucu saya, agar tidak merusak lingkungan, tidak membunuh orangutan dan satwa lain yang dilindungi. Karena mereka juga punya perasaan, ingin aman, ingin berkembang biak.

____________________________________________________________________________________________________________________________________________

ORANGUTANS ARE BACK

My friend and I stopped walking and went silent. In front of me, only about 3 meters away, an orangutan was walking on the forest floor. It then climbed up into a tree, swayed for a while then disappeared into the grove of leaves. In the last few years, orangutans are quite easy to find around the forest area of Ngaung Keruh Hamlet. In the past month, that was my second encounter with orangutans.

I am Tutong, the Head of Ngaung Keruh Hamlet, Labian Village, Lanjak District, Kapuas Hulu Regency, West Kalimantan. I lead the Dayak Iban Betang Ngaung Keruh residents with a total of 22 rooms consisting of 173 people. Our customary forest used to be very dense, with dense trees and various animals including orangutans. During 1999-2005, our forest was damaged. At that time, many people were involved in the timber business such as tengkawang and meranti, illegal logging was rampant, our forest was damaged, and orangutans then disappeared.

We, the Iban Dayak tribe, did not disturb orangutans, but our actions toward the forest made them lost their nests and source of food, so they moved to other safer locations. In the past, there were many orangutans, they looked for food in the fruit trees we planted after the farming period was over, which we called Tembawang. They also built nests on tengkawang and meranti trees with wide crowns.

Orangutans Ran Away

For me, orangutans play an important role in completing the ecosystem. The Iban Dayak tribe considers orangutans to be their ancestors, so they will not agitate or kill orangutans. However, some of the people of Ngaung Keruh Hamlet consider orangutans to be scary and often disturbing. Their terrifying physical appearance and stories of orangutans chasing people and destroying fields are told by word of mouth, making people think of orangutans as pests. Orangutans hunted and driven away, so they disappeared and moved to other forests.

In the 1950-1960s, orangutans were easily found in the forest near villages. People in the sub-village used to clear forest land for farming. The land that has been cleared would then be inherited by the children and grandchildren, to continue planting. However, the development of the number of humans then made the land cleared more and more, and on the other hand, a lot of land has been degraded but no longer planted.

During that time, the timber business was on the rise, and several companies asked for concessions to cut our forest, and that it would be turned into palm oil plantations. We balked. We realized that tenure by companies will eliminate our access to the forest and all-natural resources in them. The forest and our livelihoods would be further damaged. We were also looking for help so that we can replant the cleared land.

Water Supply Solutions

We have encountered various challenges, including the designation of our forest as Other Land Use (APL), which means that the land is designated for concession holders. We were forced to refuse all requests for concession permits. The challenge for the Dayak Iban community is the habit of clearing land by slashing and burning, which makes our restoration efforts even more difficult.

We rejected many offers of assistance from various NGOs because we were afraid that the land would be taken over by those who helped them. Nonetheless, it seems that the women's group has a different opinion regarding an offer of assistance from WWF-Indonesia. They heard about WWF's good reputation in assisting local communities in the Labian-Leboyan Corridor. The restoration project for the Labian-Leboyan corridor area, funded by WWF-Sweden, is presumably able to help us get a clean water supply.

Clean water usually has to be taken from the river using a bucket. The distance between the river and the Betang housing is about 20 meters, and the Betang housing itself is about 2 meters high, climbing the wooden beam ladder. Mothers have to go back and forth to fetch water every day, so the idea of having pipes that supply water to the 22 booths in our Betang housing is very much supported. All Betang residents then worked hard to collect seedlings from the forest and built a nursery, so that funds for purchasing seedlings and building a nursery could be saved to buy water pipes. We also worked together to build a water pipe installation from a spring upstream.

WWF's restoration project has become a community-based restoration project that fully involves all Betang residents, with assistance from WWF-Indonesia. Our forest is recovering, water sources are preserved, and for the first time, we have clean water flowing directly into our houses.

The community agreed that the land restored could not be opened again for farming. Sanctions will be given if someone cuts down trees and causes damage or fire in the restoration area. Residents who smoke are prohibited from throwing cigarette butts carelessly. We believe that our efforts will make our lives better. Nature becomes revived, natural resources are available again. The most exciting part is the return of orangutans to our customary forests. They feel comfortable nesting and foraging without interruption.

If this forest problem is left hanging, nature will be destroyed, the children and grandchildren will not be able to use the forest again. Our goal is that in the next 50 years, Ngaung Keruh will be green by the commitment we have built. We are also very aware that the clean water we enjoy comes from the forest's upstream. Currently, the water discharge in our river is increasing, the trees we are planting are starting to cover degraded lands, absorb more water, and create new springs. To this day, clean water flows more efficiently to our Betang housing.

Orangutans are Our Friends

We are standing still, we do not want to agitate the orangutan because maybe he is still near us, at the top of the trees, which are indeed spread all over the forest in Labian Village that connects the Betung Kerihun National Park in the upstream part and Danau Sentarum National Park in the upper reaches, downstream of the Labian River. I thought that orangutans must have feelings too. They share 97% of human DNA. They do not want to be disturbed, they want to be protected and saved. I told myself that orangutans do not have to worry about that. 

Currently, interactions with orangutans have begun to change. People now feel safe when they meet orangutans because they already know that orangutans do not disturb them. Orangutans are important because they are an essential part of the life cycle. They exist and participate in spreading the continuity of life in the forest by spreading fruit seeds within the forest. Our children and grandchildren can continue to see orangutans. I will educate my children and grandchildren not to damage the environment nor kill orangutans and other protected animals. Because they also have feelings, they want to be safe and want to reproduce.


Cerita Terkini

Nasib Pilu Burung Eksotis yang Setia

Indonesia adalah rumah bagi 13 spesies burung rangkong, dan tiga jenis di antaranya adalah spesies endemik, yakni ...

LPP TVRI dan WWF-Indonesia Bermitra dalam Program Edukasi Konservasi

Jakarta, 13 September 2019 – Guna meningkatkan penyebarluasan pesan konservasi dan keberlanjutan, juga menginten...

Pernyataan Resmi Posisi WWF-Indonesia Terhadap Perpres Nomor 44 Tahun

PERNYATAAN POSISI WWF-INDONESIA TERHADAP TERBITNYA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2020 TENTA...

Get the latest conservation news with email