Kembali

© Yayasan WWF Indonesia / Rian Satria

 



Peran Guru dalam Pelestarian Lingkungan melalui Pendidikan di Sekolah

Posted on 26 November 2022
Author by Rara Yulia Putri & Nazli Herimsyah

Penyelamatan lingkungan tidak hanya dilakukan oleh praktisi-praktisi lingkungan, tapi seluruh aspek masyarakat harusnya turut andil dalam menyelamatkan bumi. Kerusakan lingkungan yang sama-sama kita rasakan contohnya adalah banjir yang terjadi tidak hanya di kota besar bahkan sampai ke desa-desa. Sumber resapan air berkurang, hutan berubah menjadi pemukiman-pemukiman atau beralih fungsi, kemudian air sungai menjadi keruh akibat pendangkalan karena abrasi/maupun erosi. 

Banyak hal sederhana yang bisa dilakukan dari diri sendiri, salah satunya adalah dengan mengelola sampah organik menjadi pupuk kompos. Minimal hal ini dapat mempengaruhi berkurangnya sampah plastic yang menumpuk di sungai-sungai, di mana kita tahu bersama, aliran sungai tersebut melalui proses panjang yang akan di konsumsi kembali oleh kita. Banyak masalah lingkungan lainya yang dilakukan oleh kita sendiri dan berdampak buruk untuk kita sendiri.

Mengingat pentingnya lingkungan bagi mahkluk hidup yang sedang mengalami kerusakan, tentu ini menjadi tugas semua orang, sepert komite, LSM, dan juga sekolah dalam hal ini adalah guru. Karena guru adalah model dari pembelajaran dan teladan bagi siswa/i. 

Untuk mendorong penyadartahuan tentang lingkungan, Yayasan WWF Indonesia berupaya untuk meningkatkan pemahaman serta partisipasi masyarakat melalui program Peningkatan penyadartahuan Pendidikan lingkungan hidup yang berkelanjutan. Usaha-usaha WWF dalam mendorong pemahaman akan pentingnya lingkungan sejak tahun 2016 berbuah manis.

Tahun 2019, lahir SK Bupati Tebo no 370 tentang implementasi Pendidikan Lingkungan Hidup di tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Sekolah merupakan basis untuk penyadartahuan, tidak hanya untuk siswa/i tapi juga untuk masyarakat yang lebih luas. Sehingga usaha-usaha menyelamatkan lingkungan kita mulai dari sekolah-sekolah di lanskap Bukit tigapuluh, dimana hutan dataran rendah masih ada disana.

Usaha-usaha penyelamatan lingkungan di lanskap bukit tigapuluh ini akan berdampak pada kehidupan sehari-hari masyarakat di sana. Hubungan yang erat antara masyarakat dan alam sangat kuat di sini, misalnya dampak perubahan iklim (baik banjir maupun kekeringan) atau bahkan konflik manusia dan satwa. Maka penyadartahuan sejak dini menjadi salah satu solusi untuk penyelamatan lingkungan di lanskap bukit tigapuluh. 

Untuk itu guru-guru juga menjadi mitra kerja WWF-Indonesia. Dalam cerita kali ini, terdapat dua orang guru yang hidup dan mengajar di sekolah pelosok desa, akan berbagi pengalamannya dalam upaya penyadartahuan sejak dini melalui pendidikan. Mereka ialah Nurwati dari Desa Napal Putih dan Dewi dari Dusun Kelumpang Jaya, Kabupaten Tebo. 

Pengabdian Guru Ditengah Kebun Sawit

Sudah 9 tahun lamanya, Nurwati, S.Pd hidup mengabdi menjadi guru di Desa Napal Putih, Kecamatan Serai Serumpun, Kabupaten Tebo, Jambi yang berlokasi ditengah-tengah kebun sawit. 

“Jalannya tentu tidak mulus, berkerikil, tanah liat, berlubang, belum lagi bila hujan turun cukup lebat, sekolah dan desa bisa kebanjiran, terpaksa anak-anak diliburkan. Bila hujan hanya sekedar datang, jalanan menjadi sangat becek. Lain lagi kondisinya bila musim panas, terik matahari menyengat masuk hingga ke kelas-kelas, kondisi ini membuat anak-anak tidak betah berlama-lama dikelas,” jelas Nur menceritakan kondisi lingkungan di sekitar sekolah tempat ia mengajar. 

Namun kondisi tersebut tidak sedikitpun mengurangi tekadnya dalam mengajar dan mendorong anak-anak di desa untuk dapat mencapai cita-citanya. Ia ingin menyediakan tempat yang nyaman bagi siswa/i dalam proses belajar.

Nur pertama kali mengajar di SDN 204 Napal Putih pada 20 Agustus 2013. Antusias siswa/i sangat tinggi, meski diakui cukup sulit untuk dapat menerima materi pembelajaran. Seiring berjalannya waktu, sekolah mulai berkembang, jumlah siswa/i pun bertambah dan itu tandanya semakin banyak anak di desa yang memiliki keinginan untuk belajar. “Tapi tentu semangat belajar ini harus terus terjaga, sekolah harus mampu berkembang, menyesuaikan perubahan-perubahan,” tutup Nur menyampaikan harapannya. 

Menciptakan sekolah yang asri, kelas yang nyaman, akan jauh lebih membuat anak-anak semangat dan senang datang ke sekolah, kegiatan-kegiatan di luar kelas membuat anak-anak akan lebih antusias dalam proses belajar mengajar. 

“Maka, beberapa tahun belakangan ini, aktivitas pagi yang tidak boleh dilewatkan adalah memastikan kondisi lingkungan sekolah/kelas bersih, anak-anak memungut sampah dan membersihkan kelas,” tutur Nur. Bagi Nur, sekolah tidak hanya untuk belajar namun juga menjadi ruang sosial. Maka itu area yang kosong kemudian dimanfaatkan untuk berkegiatan dengan menanam pohon agar dapat lebih rindang dan asri. 

Nur menjelaskan tidak hanya siswa/i yang harus belajar, guru pun harus terus meningkatkan kapasitas diri, “Guru-guru juga mengikuti kegiatan peningkatan kapasitas, agar mampu menyesuaikan diri karena perubahan-perubahan sangat cepat baik pengetahuan, informasi dan teknologi. Selain meningkatkan kapasitas di proses belajar mengajar, kami juga belajar membuat pupuk kompos, mengolah sampah menjadi barang yang berguna, tentu ini menjadikan bekal bagi kami untuk menambah antusias bagi siswa/i agar mampu menjadi pribadi sebagai pahlawan lingkungan.”

Nur bersama rekan-rekannya kemudian menyusun poin-poin komitmen untuk diterapkan bersama di sekolah, yaitu:

  1. Secara sadar dan ikhlas mengajak anak anak memungut sampah setiap pagi
  2. Memilah sampah organik dan an organik untuk memanfaatkan menjadi pupuk kompos serta pemanfaatan barang bekas.
  3. Membina anggota kepramukaan untuk menjadi pion penghasil kompos.
  4. Merawat tanaman dari WWF
  5. Mengembangkan fungsi greenhouse yang difasilitasi WWF
  6. Bersama paguyuban kelas merawat taman kelas sebagai bentuk kerja sama sekolah dengan paguyuban kelas yg berperan sangat besar dalam mewujudkan sekolah bersih, hijau, dan nyaman.

“Semoga apa yang sudah dilakukan SDN 204 dapat menginspirasi sekolah lainnya dan bermanfaat, di mana kami berkeyakinan dalam tiga tahun kedepan sudah bisa terlihat betapa rindang dan indahan sekolah kami dari pohon yang sebelumnya kami tanam dan bermanfaat bagi sekitar,” tutup Nur menyampaikan harapannya. 


Belajar Menjadi Pendidik yang Memahami Budaya Anak 

“Saya benama Dewi Mulyati, merupakan seorang pendidik  yang jauh dari perkotaan, di dusun Kelompang Jaya, Desa Balai Rajo, Kab. Tebo, Prov. Jambi. Dusun ini dikelilingi hutan dan perbukitan. Belum ada jalan aspal disini, masih tanah liat. Sering kali bila hujan akan kebanjiran dan jalan di dusun ini akan sangat becek sehingga sulit dilalui. Hal lain lagi yang menarik, didusun kami banyak Orang Rimba (SAD) dan bila beruntung, kita akan melihat gajah melintas di belakang sekolah”.

Dewi memulai pengabdiannya di SDN 200/VIII Sungai Karang tahun 2011 yang saat ini telah berubah menjadi SDN 236/VIII Kelumpang Jaya atas dukungan para pihak. Dewi mengungkapkan pengalamannya mengajar Suku Anak Dalam yang terdiri dari beragam suku, terdapat masyarakat asli yang merupakan Melayu, Batak, ada juga pendatang dari Jawa dan juga masyarakat adat. 

“Bahagia rasanya, bahwa saya tidak hanya mengajar pembelajaran yang umum diberikan, tapi saya juga belajar menjadi pendidik yang memahami budaya dari masing-masing anak. Mengajar Suku Anak Dalam (SAD) sebenarnya gampang-gampang susah. Mereka memiliki antusias yang tinggi dalam belajar, namun terkadang terbentur dengan kebiasan mereka yang akan tinggal di dalam hutan untuk waktu yang cukup lama, biasanya hingga tiga bulan, sehingga banyak pelajaran yang tertinggal. Namun anak-anak ini memiliki kecerdasan yang tinggi, sehingga memudahkan pemahaman dalam proses belajar yang cepat. Menumbuhkan jiwa semangat belajar dalam mencari ilmu kepada anak-anak SAD ini saja, rasanya sudah cukup memuaskan hati saya,”

WWF-Indonesia memulai pendampingannya di SDN 200/VIII pada tahun 2017. Kegiatan diawali dengan sesi penyadartahuan lingkungan bagi siswa kelas 4 hingga 6 dengan metode menarik seperti kartu, hingga permainan ular tangga.

“Lambat laun, pendidikan lingkungan mulai terasa manfaatnya, di mana memberikan pemahaman kepada siswa/i bahwa kita hidup sangat bergantung kepada alam, maka memanfaatkan alam dengan bijak sehingga tidak menjadi bencana dikemudian hari,”jelas Dewi.

Salah satu kegiatan yang dilakukan bersama beberapa pihak dan sekolah ialah kegiatan menanam 500 pohon di tepi sungai area dusun setempat. Memanfaatkan lingkungan yang masih  kosong di sekitar sekolah untuk pembibitan tanaman kayu agar bisa ditanam disekitar sekolah sebagai pencegahan banjir. Area sekolah merupakan kawasan lembah yang rawan banjir saat musim hujan.

Selain itu terdapat aktivitas menanam sayuran, yang sekaligus menjadi pembelajaran kewirausahaan hijau untuk mendorong masyarakat memanfaatkan pekarangan di rumah. Nilai-nilai kecintaan akan lingkungan ini kemudian dibawa ke dalam pagelaran pentas seni yang diikuti oleh siswa/i bertema ekosistem hutan. 

“Kegiatan ini melatih mental atau kepercayaan diri peserta didik dan pentingnya hubungan baik terhadap makhluk hidup sekitar,” tambah Dewi. 

Peserta didik SAD sangat antusias dalam mengikuti proses pembelajaran. Namun, kebiasaan untuk berpindah-pindah tempat atau nomaden tidak dapat ditinggalkan. Sehingga peserta didik SAD terpaksa meninggalkan kelas, padahal mereka masih semangat belajar jika waktu mandah (masuk/kembali ke hutan untuk meramu dan berburu) tiba.

“Suatu kebanggaan tersendiri untuk saya dan kawan-kawan pendidik dengan adanya pendampingan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH), banyak inspirasi dan motivasi yang didapat sehinga menjadi lebih semangat dalam mengajar meskipun saya mengajar dengan metode Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR) karena dengan berbagai macam kondisi seperti kurangnya tenaga pendidik, daerah yang terpencil, kurangnya ruang untuk belajar, pendidik yang tidak bisa hadir karena kondisi  jalan ektrim (saat musim penghujan) ditambah sarana dan prasarana yang belum cukup untuk menunjang proses pembelajaran.”

Dengan segala keterbatasan dan tantangan yang dialami Dewi dan rekan guru lainnya mereka tidak putus semangat untuk melangkah maju dan membangun Pendidikan di daerah terpencil. “Walaupun kami jauh dan terpencil dukung kami untuk dapat melakukan proses pembelajaran  dengan sarana dan prasarana yang mencukupi dan pemimpin yang kompeten”.



Cerita Terkini

Penyusunan Rencana Strategis dan Rencana Induk Perkebunan Provinsi Kal

Saat ini disadari atau tidak, strategi daerah dalam pengembangan perkebunan berkelanjutan masih belum bersinergi d...

Berkenalan dengan Sudin, Kewang Laut Pulau Buano

Pulau Buano adalah salah satu pulau besar yang dikelilingi berbagai gunung dan berbagai pulau kecil yang berada di...

Satu dari Lima Orang di Dunia Masih Bergantung pada Spesies Hidupan Li

Miliaran penduduk di seluruh dunia, menggantungkan hidup dari memanfaatkan sumber daya alam dalam bentuk makanan, ...

Get the latest conservation news with email