Kembali

© WWF-Indonesia

Penjualan produk laut di supermarket.



Seafood Savers dan MSC Dukung Ketelusuran Produk dan Manajemen Rantai Suplai yang Bertanggung Jawab

Posted on 18 August 2020
Author by Arif Fajar Sulistyo

Keberlanjutan sumber daya laut Indonesia sangat tergantung pada kemampuan produk perikanan kita bersaing menembus pasar internasional. Selain kualitas produk, saat ini keterlacakan produk dan kemampuan menjangkau pasar menjadi faktor penentu apakah produk kita sesuai standar.

Tanggal 29-30 Juli 2020, Program Seafood Savers WWF-Indonesia bersama Marine Stewardship Council (MSC) menyelenggarakan pelatihan online mengenai Standar Rantai Pengawasan atau Chain of Custody (CoC) MSC Versi Baku 5.0, sebagai bagian dari program pengembangan pasar berkelanjutan. Pelatihan ini bertujuan membantu peserta untuk mampu memperoleh sertifikasi CoC MSC termasuk pelaksanaan audit CoC. Materi pelatihan mencakup prinsip dasar standar CoC, indikator penilaian, ketelusuran produk dan manajemen rantai suplai, serta proses sertifikasi MSC dan CoC.

Peserta pelatihan berjumlah 23 orang, berasal dari berbagai latar belakang, seperti perwakilan dari produsen mitra Seafood Savers, akademisi, buyer dan sejumlah staf Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi di Indonesia. 

Dalam sambutannya, Head of Marine and Fisheries Program WWF-Indonesia – Dr Imam Musthofa Zainudin, menyampaikan perlunya para pebisnis, pemerintah daerah dan akademisi untuk memahami CoC, sehingga setiap pihak yang mau menuju sertifikasi dapat saling membantu. Dari pelatihan ini, WWF-Indonesia berharap akan semakin banyak Asesor dan Auditor untuk sertifikasi MSC yang tersedia di Indonesia, untuk menekan biaya yang dibutuhkan untuk sertifikasi. Program Seafood Savers dari WWF-Indonesia juga merupakan mitra yang tepat untuk menjalani tahapan-tahapan perbaikan dalam menerapkan praktik-praktik perikanan yang berkelanjutan.

Hari pertama pelaksanaan acara pelatihan, pemateri utama, Hirmen Syofyanto selaku Program Director MSC Indonesia memaparkan materi yang mencakup pembahasan terkait pengenalan MSC, ketelusuran produk, menjamin otentifikasi produk dan aspek ketelusuran. Sesi berjalan sangat dinamis, hal ini ditunjukkan dengan hadirnya pertanyaan kritis dari peserta mengenai topik pembahasan yang dipaparkan oleh pemateri.

Dalam Pelatihan Daring Standar dan Persiapan Audit Rantai Pengawasan CoC, peserta tidak hanya mendapatkan presentasi materi saja, melainkan terdapat aktivitas kuis disela-sela sesi presentasi materi maupun ketika pemaparan materi sudah usai. Hal ini bermanfaat sebagai kilas balik terhadap apa yang telah peserta pelajari dan pahami, sekaligus menjadi tolak ukur pemahaman peserta.

Pada hari kedua pelatihan, materi yang diberikan mulai menjadi lebih kompleks dan detail.  Materi merujuk pada pembahasan ranah teknis seperti proses sertifikasi dan auditing (pemeriksaan, peninjauan, uji ketelusuran, penemuan ketidaksesuaian, pemeliharaan sertifikasi dsb), penjelasan menjadi MSC Techinal Consultant, serta 5 prinsip utama CoC. Selaras dengan pelatihan hari pertama, hari kedua turut diisi dengan aktivitas kuis, dan peserta dibagi menjadi beberapa kelompok kecil untuk melakukan perencanaan  pelaksanaan audit sebuah perusahaan, peserta harus merembukan secara bersama terkait langkah-langkah yang harus dipersiapkan dalam melaksanan audit. Aktivitas ini didampingi oleh fasilitator yang berasal dari tim WWF-Indonesia dan MSC agar peserta mendapatkan gambaran awal mengenai aktivitas yang mereka kerjakan.

Sebelum penutupan, peserta menyampaikan kesan dan pesan tentang pelaksanaan Pelatihan Daring Standar dan Persiapan Audit Rantai Pengawasan CoC yang telah mereka lakukan selama 2 hari ini. 

“Kami dari NTT baru pertama kali mengikuti kegiatan semacam ini, pelatihan ini memang sangat bagus dan mungkin ke depannya kalau ada pelatihan-pelatihan seperti ini kita dapat diinformasikan sehingga tidak saya saja yang ikut, barangkali dinas teknis yang lain maupun dinas provinsi yang lain dapat ikut serta dalam kegiatan semacam ini. Hal ini juga sebagai informasi bagi kami di Dinas Kelautan dan Perikanan agar terus mengikuti perkembangan isu tentang keterlacakan produk perikanan kedepannya” ujar salah satu peserta, Anakletus Tese, S.Pi selaku Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Produk Kelautan dan Perikanan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT.

____________________________________________________________________________________________________________________________________________

SEAFOOD SAVERS AND MSC SUPPORT PRODUCT TRACEABILITY AND RESPONSIBLE SUPPLY CHAIN MANAGEMENT

The sustainability of Indonesia's marine resources is very dependent on the ability of our fishery products to compete in the international market. Apart from product quality, traceability, and the ability to reach the market are currently determining factors whether our products comply with standards.

On 29-30 July 2020, WWF-Indonesia Seafood Savers Program together with the Marine Stewardship Council (MSC) held an online training on Chain of Custody Standard (CoC) MSC Standard Version 5.0, as part of a sustainable market development program. The training aimed to help participants to be able to obtain MSC CoC certification including conducting CoC audits. The training materials covered the basic principles of the CoC standard, assessment indicators, product traceability, supply chain management, and the MSC and CoC certification processes.

The training participants were 23 people from various backgrounds, such as representatives from partner producers of Seafood Savers, academics, buyers, and a few staff from the Provincial Marine and Fisheries Office (DKP) Indonesia.

In his remarks, the Head of Marine and Fisheries Program of WWF-Indonesia - Dr. Imam Musthofa Zainudin, conveyed the need for business people, local governments, and academics to understand CoC for everyone who wants to go towards certification can help one another. From this training, WWF-Indonesia hopes that there will be more Assessors and Auditors for MSC certification available in Indonesia, to reduce the costs required for certification. WWF-Indonesia's Seafood Savers Program is also the right partner to undergo the stages of improvement in implementing sustainable fisheries practices.

On the first day of the training event, the main speaker, Hirmen Syofyanto, as the Program Director of MSC Indonesia, presented the material that included discussions related to the introduction of MSC, product traceability, assurance of product authenticity, and traceability aspects. The session went very dynamic, this was proven by the critical questions from the participants regarding the discussion topics presented by the speaker. 

During the Standard Online Training and Preparation for the CoC Chain of Custody Audit, participants did not only receive material presentations, but there was also a quiz session in between the material presentation session and after the presentation was over. That was useful as an insight into what the participants have learned and understood, as well as a benchmark for participants' understanding.

On the second day of training, the given material started to become more complex and detailed. The material referred to the discussion of technical areas such as the certification and auditing process (inspection, review, traceability test, the discovery of non-conformities, maintenance of certification, etc.), an explanation of being an MSC Technical Consultant, and the 5 main principles of CoC. In line with the first day of training, the second day was filled with quiz session, and participants were divided into several small groups to plan the implementation of an audit of a company, participants had to discuss together the steps that had to be prepared in carrying out an audit. This activity was accompanied by facilitators from the teams of WWF-Indonesia and MSC so that participants would get an initial picture of the activities they were doing.

Right before the closing, participants conveyed their impressions and messages about the implementation of the Standard Online Training and Preparation for the CoC Chain of Custody Audit which they had been doing for 2 days.

“We are from NTT and it was our first participation in this kind of activity, the training was indeed very good, and maybe in the future, if there will be any training like this we hope to be informed. Thus, not only will I participate, but also perhaps other technical offices or provincial offices will participate in this kind of activity. This is also information for us at the Department of Marine Affairs and Fisheries to keep well-informed about issues regarding the traceability of fishery products in the future," said one of the participants, Anakletus Tese, S.Pi as Head of Processing and Marketing of Marine and Fisheries Products from the Provincial Marine and Fisheries Service in NTT.


Cerita Terkini

Panthera tigris sondaica, Si Harimau Indonesia

Oleh: Nur Arinta Dunia selama ini mengenal ada sembilan subspesies harimau, yakni Harimau Indochina (Pan...

Panda Mobile Ajak Siswa-Siswi KidzArt Menjaga Kelestarian Hutan

Sabtu (27/07), Panda Mobile WWF-Indonesia berkunjung ke KidzArt Harapan Indah, Bekasi. Pada kesempatan kali ini, t...

Setahun Moratorium Sawit, Menyusun Langkah Strategis Implementasi

Jakarta, 10 Oktober 2019 – Pada 19 September 2018, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo mengeluarkan kebijaka...

Get the latest conservation news with email