Kembali

© USAID SEA/Umi Kalsum Madaul

Sosialisasi pengolahan sampah untuk mengurangi plastik di kawasan perairan Sorong Selatan.



Meningkatkan Kepedulian Masyarakat terhadap Laut Sorong Selatan

Posted on 22 November 2019
Author by Ehdra Beta Masran, Mansur, Siti Yasmina Enita

Kalau orang bisa menempel boleh, kalau tidak bisa menempel begitu sudah habis pakai kasih tinggal saja––Kalau orang bisa perbaiki jaringnya ya diperbaiki, tapi jika tidak ya dibuang saja” menurut seorang nelayan Konda saat Direktur Marine and Fisheries WWF-Indonesia, Imam Mustofa bertanya terkait jaring (trammel net) yang berserakan di bawah camp penyimpanan ikan. Ratusan jaring ikan yang tidak dapat dipakai lagi terikat rapi pada tiang-tiang kayu tersebut. Jaring ini menjadi sebuah ancaman yang disebut ghost net, berserakan bersama sampah-sampah di sekitar pantai Konda.

Kawasan Konservasi Perairan (KKP) di Sorong Selatan yang dikenal sebagai KKP Seribu Satu Sungai Teo Enebikia ini terkenal akan komoditas udangnya. Namun, saat ini para nelayan udang banyak mengeluhkan tentang banyaknya sampah plastik yang tersangkut pada jaring, dan mengurangi hasil tangkapan mereka. Sampah-sampah plastik yang menumpuk di pesisir Sorong Selatan berasal dari masyarakat setempat dikarenakan kurangnya pengetahuan masyarakat pesisir tentang pengelolaan sampah, ditambah dengan sifat konsumtif masyarakat terhadap suatu barang yang meninggalkan sisa atau sekali pakai. Pada akhirnya, sampah yang ditinggalkan ini berdampak negatif untuk bagi masyarakat setempat yang mayoritas bekerja sebagai nelayan.

Mendengar isu sampah tersebut, WWF-Indonesia sebagai mitra pelaksana Proyek USAID Sustainable Ecosystems Advanced (USAID SEA) bekerja sama dengan Bank Sampah Sorong Raya, Komunitas Pecinta Sungai dan Komunitas Srikandi Sungai memberikan Sosialisasi tentang Pengolahan Sampah Plastik kepada masyarakat yang tinggal di bantaran sungai khususnya di Kampung Sayolo, Ampera, Konda dan Wamargege serta mengajak mereka membersihkan sampah di pesisir. Sampah-sampah yang dikumpukan lalu dipilah berdasarkan jenis-jenisnya, sampah yang masih bisa didaur akan dipisahkan dengan sampah yang tak bisa didaur ulang. “Untuk limbah jaring, saat ini belum ada alat daur ulangnya di Indonesia, paling tidak, jaring bisa kita olah kembali menjadi produk lain seperti keranjang belanja, atap rumah/kandang, dan sebagainya” tutur Tommy, perwakilan dari Bank Sampah Sorong Raya. 

Sebagai tindak lanjut dari sosialisasi ini, Tim Inisiasi KKP Seribu Satu Sungai Teo Enebikia menggandeng Dinas Lingkungan Hidup untuk membangun kerja sama dengan Bank Sampah Sorong Raya untuk membuka Cabang Unit Bank Sampah. Sehingga, masyarakat di Sorong Selatan yang sudah mulai untuk mengurangi dan memilah sampah ini juga didukung oleh Dinas Lingkungan Hidup setempat, untuk dapat memproses sampah-sampah rumah tangga di Sorong Selatan ke dalam Unit Bank Sampah untuk didaur ulang. Tim Inisiasi berharap dengan adanya Unit Bank Sampah yang didukung oleh dinas dan komunitas lokal ini dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi sampah plastik di kawasan perairan dan mengurangi gangguan dalam aktivitas perikanan.

Sosialisasi juga dilakukan kepada perwakilan siswa-siswi SD dan SMP di Teminabuan dan Konda dalam kegiatan "Kelas Pesisir". Materi sosialisasi yang disampaikan kepada siswa-siswi SD dan SMP tidak hanya seputar menjaga kebersihan, namun juga memperkenalkan ekosistem mangrove di sekitar mereka dengan mengitari sungai dengan menggunakan perahu. Dalam perjalanan tersebut, mereka juga bertemu dengan nelayan yang mempraktikkan cara menggunakan alat tangkap udang dan kepiting bakau. “Dengan memperkenalkan lingkungan alam sejak dini, diharapkan motivasi para siswa dapat meningkat tentunya untuk ikut serta menjaga sumber daya alam di lingkungan yang mereka tinggali,” ujar salah seorang guru yang juga ikut serta dalam sosialisasi.

Terianus Wugaje, sekretaris Tim Inisiasi KKP Seribu Satu Sungai Teo Enebikia, menuturkan “anak-anak sekolah tidak harus belajar tentang lingkungan lewat buku saja tapi mereka harus melihat langsung.” Menurut Terianus, dengan menyaksikan secara langsung tentang hutan mangrove, sungai, hewan yang hidup didalamnya, dan bagaimana mereka saling terhubung, dapat menumbuhkan rasa kecintaan terhadap lingkungan. Selain itu, siswa-siswi juga belajar ekosistem mangrove dari permainan ular tangga, “Dengan metode seperti ini yang justru akan mudah diingat oleh anak-anak, karena mereka bermain sambil belajar,” ujar Johanes Regoy, tokoh masyarakat yang juga mengajar anak-anak kecil di Desa Teminabuan.

Serangkaian sosialisasi ini diharapkan mampu meningkatkan kesadartahuan masyarakat dari berbagai kalangan tentang keberadaan dan pengelolaan KKP Seribu Satu Sungai Teo Enebikia yang tengah dibentuk di Sorong Selatan. Sosialisasi pun akan terus dilakukan oleh WWF-Indonesia bersama tokoh-tokoh masyarakat Sorong Selatan tentunya dengan menggunakan metode dan media yang sesuai dengan masyarakatnya. Saat ini, Tim Inisiasi KKP sedang mempersiapkan acara siaran radio yang bekerja sama dengan RRI Teminabuan, guna menyebarkan informasi penting seputar kawasan konservasi dan perikanan berkelanjutan.


Cerita Terkini

Parade Satwa di Peringatan Hari Bumi Banda Aceh

Lebih dari 50 anak muda dan pegiat lingkungan di Banda Aceh  melakukan aksi parade satwa dalam rangka  G...

Tangkapan Udang di Sorong Selatan Didominasi Ukuran Remaja

Ekosistem mangrove yang lebat dan terjaga kelestariannya menjadikan Kabupaten Sorong Selatan memiliki sumber daya ...

SMP Tara Salvia Mengenal Penyu Bersama Panda Mobile

Pada Kamis (08/10) lalu, WWF-Indonesia mengadakan Panda Mobile Virtual Class bertema penyu bersama siswa-siswi SMP...

Get the latest conservation news with email