Kembali

© WWF-Indonesia

Upaya Bersama untuk Melindungi Gajah Kalimantan



Upaya Bersama untuk Melindungi Gajah Kalimantan

Posted on 09 June 2020
Author by Agus Suyitno

Kalimantan adalah pulau terluas ketiga di dunia, setelah Greenland, dan Papua. Pulau ini memiliki banyak sungai dan hutan tropis yang rapat, hutan ini menjadi habitat bagi spesies gajah terkecil, yang memiliki tinggi maksimum 2,5 meter. Gajah ini dikenal dengan panggilan gajah kerdil Kalimantan. Gajah Kalimantan keberadaan populasinya ditemukan di wilayah Sabah, Malaysia dan di wilayah Kalimantan Bagian Utara. Populasi gajah di Sabah sangat besar berkisar 1.500 – 2.000 individu, sedangkan populasi yang berada di Kalimantan Utara sangat kecil berkisar 30 - 80 Individu.

Di Indonesia, WWF senantiasa berupaya melindungi spesies terancam punah yang penting bagi ekosistem, rantai makanan, spesies yang berkontribusi menjaga stabilitas ekosistem dan regenerasi habitat, serta spesies yang mewakili kebutuhan konservasi dalam skala luas. Salah satu dari spesies tersebut adalah gajah Kalimantan.

Kalimantan Utara, Indonesia dan Sabah, Malaysia sebagai tempat habitat gajah juga masuk dalam kawasan pengelolaan konservasi penting di 3 Negara yang dikenal dengan Kawasan Jantung Kalimantan (The Heart of Borneo). Kehadiran gajah di wilayah tersebut juga menandakan tersedianya sumber daya untuk mendukung kehidupan satwa lainnya.

Gajah betina pada umumnya hidup berkelompok, sedangkan gajah jantan hidup soliter. Mereka bertemu hanya pada saat musim kawin. Gajah hamil hanya dengan satu anak, dengan periode kehamilan sekitar 19-21 bulan. Meskipun ukuran badan mereka lebih kecil daripada gajah sumatera, gajah Kalimantan tetap memerlukan habitat yang luas, karena mereka dapat berjalan 7-13 kilometer dalam satu hari.

Walaupun hingga saat ini belum ada kasus perburuan gajah di Kalimantan Utara, tetapi dengan populasi gajah Kalimantan tidak begitu banyak dapat menjadi ancaman jika tidak dilakukan pengelolaan yang kuat. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh WWF-Indonesia pada tahun 2012, populasi gajah Kalimantan ada sekitar 30 – 80 individu dan masuk kedalam daftar satwa yang terancam punah dalam IUCN Red List. Oleh karenanya, penting untuk dilakukan berbagai upaya konservasi agar gajah di Kalimantan Utara dan habitatnya tetap lestari.

Untuk mendorong upaya konservasi gajah kalimantan, WWF bersama Toyota Motor Corporation sejak 2016 melalui program “Living Asian Forest Project” telah berkomitmen untuk mendukung kegiatan konservasi gajah Kalimantan di provinsi Kalimantan Utara.

Pada tahun 2017 lalu, WWF-Indonesia bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara menyelenggarakan lokakarya “Evaluasi Dokumen Strategi & Rencana Aksi Konservasi Gajah Kalimantan (SRAK-GK) 2011-2017 dan Rencana Penyusunan Dokumen SRAK-GK untuk periode 2018 – 2028. Tercatat sebanyak 36 peserta mengikuti acara lokakarya ini dan berasal dari berbagai kelompok baik pemerintah, LSM, sektor swasta, media dan lain-lain.

Pada kesempatan tersebut Agus Suyitno, Human-Elephant Conflict Mitigation Officer WWF-Indonesia menyampaikan bahwa target konservasi gajah walaupun belum maksimal, populasi dan habitat gajah di Kalimantan Utara masih bisa diselamatkan. Lebih lanjut Agus pun memaparkan tantangan kedepan bagi konservasi gajah di Kalimantan yakni Perlindungan dan Pengeloaan Populasi Habitat juga Penegakan Hukum, Survei dan Monitoring, Kerjasama Lintas Batas Indonesia-Malaysia, Penanganan Konflik Gajah-Manusia, Sinergi Keterlibatan Berbagai Pihak, Peningkatan Ekonomi bagi Masyarakat sekitar Habitat Gajah dan Dukungan Anggaran Pemerintah dari dana APBP dan APBN, serta sumber dana lainnya dari pemerhati lingkungan  bagi konservasi gajah di Kalimantan.

Dari tantangan tersebut, sudah ada beberapa upaya yang WWF-Indonesia lakukan yaitu berkolaborasi dengan berbagai mitra salah satunya survei dan monitoring habitat. Kegiatan ini dilaksanakan pada 13 – 23 Februari 2018 di Kecamatan Tulin Onsoi, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara dan telah dilanjutkan kembali survei pada bulan April-Juni 2018. Survei ini bertujuan untuk memperbarui data survei gajah di Kalimantan Utara pada tahun 2012, survei yang telah dilakukan baru mencapai 43% dari target yang telah ditetapkan dan akan dilanjutkan kembali surveinya hingga tahun 2019 untuk mencapai target 100%.

Kegiatan survei dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan para pihak diantaranya Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Nunukan, Pecinta Alam Gapeta Borneo Nunukan, Mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman Samarinda, Satgas Konflik Gajah Tulin Onsoi dan masyarakat setempat.

Selama kegiatan survei berlangsung, tim masih belum dapat bertemu secara langsung dengan para gajah tetapi menemukan jejak, kotoran, bekas gesekan dan kubangan. Hal tersebut dikarenakan populasi gajah kalimantan cukup kecil sedangkan habitatnya begitu luas. Namun demikian, semua temuan tidak langsung itu dapat menjadi pertanda baik bahwa keberadaan gajah kalimantan masih ada dan berkembang biak di kawasan tersebut.

Kemudian ada juga upaya dalam menangani konflik antara manusia dan gajah. Hal ini kerap terjadi karena adanya alih fungsi atau konversi hutan sehingga gajah kehilangan sebagian habitatnya. Sejak 2003-2010, Sekitar 16% kawasan habitat gajah telah menjadi perkebunan kelapa sawit, 84% sisa habitatnya masih dapat dipertahankan sampai sekarang. Sebagian hutan yang dahulunya adalah tempat dimana gajah berjalan, mencari makan dan minum sekarang berubah menjadi perkebunan sawit, perkebunan warga serta kawasan perusahaan. Hal tersebut yang menyebabkan para gajah memasuki kawasan tersebut yang akhirnya menimbulkan konflik.

Kegiatan ini dapat terselenggara atas kerjasama WWF-Indonesia dengan Dinas Lingkungan Hidup Nunukan, Satgas Konflik Gajah Kecamatan Seimanaggaris. Walaupun intensitasnya relatif jarang terjadi, tetapi mitigasi konflik seperti kegiatan penghalauan atau penggiringan gajah agar kembali ke kawasan hutan terus digalakkan. Pada 14 Desember 2017, tim satgas konflik gajah melaporkan bahwa ada sekitar 3 individu gajah yang masuk kedalam perkebunan kelapa sawit milik masyarakat metode penggiringan gajah tersebut menggunakan meriam karbit (Cannon Carbide) yang menimbulkan suara seperti ledakan yang membuat gajah terusik dan akhirnya meninggalkan area dan kembali ke hutan.

_______________________________________________________________________________________________________________________________

Joint Efforts to Protect Kalimantan's Remaining Pygmy Elephants

Kalimantan is the third-largest island in the world after Greenland and Papua. With its vast river systems and dense tropical forests, it is home to the Kalimantan pygmy elephant – the world's smallest elephant species with a maximum height of 2.5 meters. Locally known in Indonesia as Gajah Kerdil, their population is confined to Sabah, Malaysia, and estimated to range between 1,500 to 2,000 and only around 30 to 80 in the North Kalimantan province of the Indonesian part of Kalimantan. 

In Indonesia, WWF has been striving to protect this endangered species which maintains the stability of the forest ecosystem, habitat regeneration, and are a high priority in wildlife conservation to the region. One of the challenges to preserving the iconic Gajah Kerdil is the females and male elephants living mostly in isolation. The female elephants are social animals, living in herds with their relatives, while males usually live alone. They only meet when the females are in their mating season. Elephants have a gestation period of almost 21 months and only give birth to one offspring. 

Although smaller in size compared to Sumatran Elephants, Kalimantan Pygmy Elephants need a broad home range because they can walk an average of 10 kilometers every day. Sadly, the issue of shrinking forests bring the elephants into more frequent contact with people and as a result, fall victim to poaching or general human-wildlife conflict. There is a dire need to reduce these threats by improving the management of these forests and identify elephant corridors. 

Conserving the Gajah Kerdil, Kalimantan Pygmy Elephants

To support the conservation effort of the Kalimantan Elephant, WWF has been working together with Toyota Motor Corporation since 2016 through the "Living Asian Forest Project" which is a series of activities dedicated toward biodiversity conservation in Southeast Asia and to raise the awareness of the public on environmental and biodiversity issues.

In 2017, WWF-Indonesia, in collaboration with the Government of North Kalimantan Province, held a workshop on "Evaluation of Kalimantan Elephant Conservation Strategy & Action Plan for Preparation of Conservation Strategy & Action Plan Documents for the upcoming year 2018-2028”. There were 36 participants from various groups, including government, NGOs, private sector, media, and others.

Agus Suyitno, Human-Elephant Conflict Mitigation Officer of WWF-Indonesia said “We still have time to save Kalimantan Elephants’ population and habitat although we are still far from the conservation targets.” Agus further explained the future challenges and activities of Kalimantan elephant conservations including habitat management and population protection, law enforcement, monitoring and survey, protect the transboundary landscape of Indonesia-Malaysia, human-elephant conflict mitigation, multi-stakeholder involvement, economic improvement for communities living in the elephant corridor, government budget support, as well as other funding sources from environmental organization/individual for elephant conservation in Kalimantan.

In early 2018, WWF conducted a population survey for the Kalimantan elephants with partners including the Natural Resources Conservation Center of East Kalimantan, Environmental Agency of Nunukan Regency, Gapeta Nature Lovers of Nunukan, Forest Faculty students from Mulawarman University Samarinda, the Tulin Onsoi Elephant Conflict officers and the local community in Tulin Onsoi District of North Kalimantan. This survey has made significant progress and will continue through 2019 when 100 per cent of the intended survey area will be completed.

Unfortunately, during the survey in 2018, the team was unable to get visual contact with the elephants but found plenty of traces, dirt, friction marks and puddles. However, in a situation where the population is quite small with a vast habitat, any traces would be valuable signs of their whereabouts and condition.

Preserving Kalimantan Forests, home of the iconic Kalimantan Elephants and many wildlife

Shrinking forests bring the elephants into more frequent contact with people, increasing the number of human-elephant conflicts in the region. Since 2003 to 2010, around 16% of the elephant habitat area has been converted into palm oil plantations. There are some forests that were once identified as one of the corridors for the elephants, but it too has been turned into commercial plantations. With the large blocks of forests, they require are fragmented by plantations, conflict between elephant and human is inevitable.

WWF-Indonesia in collaboration with the Environmental Agency of Nunukan Regency, Human-Elephant Conflict Task Force of the Seimanaggaris Subdistrict held “Human-Elephant Conflict Mitigation” training for local community who lives in the forest boundary area. Although the conflict intensity is relatively low, mitigation measures have been introduced. On December 14, 2017, the conflict mitigation team reported that three elephants have entered the community's palm oil plantation, the herd was driven away using loud sounds produced with bamboo or PVC pipe cannons.


Cerita Terkini

Manisnya Madu ‘Odeng’ Ujung Kulon

‘Odeng’ adalah panggilan sayang masyarakat Ujung Kulon untuk lebah jenis Apis Dorsata, jenis lebah penghasil m...

WWF dan James Cook University Luncurkan Pedoman Praktik Perancangan da

Jumlah hiu dan pari menurun secara global, dan sejak 2014, seperempatnya berstatus terancam punah dan sebagian bes...

Pagelaran Dongeng Tesso Nilo: Belajar Mengenal Satwa, Bertutur dan Men

Dua kendaraan tampak berhenti tepat di gerbang pondok restorasi milik WWF yang terletak di Taman Nasional Tesso Ni...

Get the latest conservation news with email