Kembali

© Administrator

Administrator



Wisata Dataran Tinggi yang Eksotis dan Murni di Krayan

Posted by Administrator on 16 April 2019
Author by

Di balik area berbukit-bukit, berbatasan langsung dengan Sabah, Malaysia, tersimpan Krayan. Wilayah dataran tinggi di Kalimantan Utara, yang cukup terisolasi karena infrastuktur yang belum memadai, menjanjikan keindahan alam, budaya dan sejarah yang kaya serta mempunyai potensi wisata yang luar biasa. Tulisan ini menceritakan sebagian kecil dari kekayaan itu yang diramu oleh penulis berdasarkan cerita dari para nara sumber yang ditemuinya.

Keindahan dan Kekayaan Krayan dari Atas Bukit

Bukit Yuvai Semaring (± 1,100dpl) salah satu areal kunjungan favorit di Krayan. Dari atas bukit yang terletak di Kecamatan Krayan Induk, wisatawan bisa melihat dengan jelas seluruh Krayan yang terdiri dari lima kecamatan. Wisatawan bisa menikmati keindahan matahati terbit atau matahari tenggelam dari atas bukit ini bila tidak tertutup kabut.

Memanjat bukit ini membutuhkan waktu sekitar 30 – 45 menit, tergantung dari kemampuan wisatawan. Bagi hikers dimungkinkan untuk naik sekitar 15 – 20 menit. Sekitar 300 meter pertama sudah dibangun tangga hasil kerja sama penduduk desa. Sementara selebihnya masih berupa jalur tanah yang cukup sempit, terjal dan lumayan licin.

“Yuvai Semaring sendiri adalah sosok yang sangat dikagumi oleh masyarakat Krayan. Ia merupakan sosok pahlawan bagi masyarakat Dayak Lundayeh di Krayan pada masanya,” demikian Alex Balang, pemandu wisata kami, mengawali ceritanya. Yuvai Semaring di kenal juga sebagai penjaga dan memberikan sinyal kepada masyarakat Long Bawan ketika musuh datang untuk menyerang dari berbagai arah.

Signalnya mengisyaratkan agar laki laki  bersiap - siap untuk menghadapi musuh dan anak-anak serta perempuan bersembunyi.
Konon ceritanya, Yuvai Semaring juga dikenal sebagai seseorang yg sangat pandai mengukir. Sehingga banyak sekali masyarakat yang menaruh sarung parang atau gagang parang di depan guanya untuk diukir. Anehnya, tidak ada satupun orang yg pernah melihat sosoknya. Masyarakat hanya mendengarkan suaranya dari atas bukit pada pagi hari dan jika ada serangan musuh.

Alex menjelaskan, “gua tempat tinggal Yuvai Semaring ada di bukit ini, tepat di bawah kaki kita.” Hingga saat ini gua tempat Yuvai Semaring tinggal tetap dijaga oleh masyarakat dan dinamakan Bukit Yuvai Semaring atau Buduk Yuvai Semaring (dalam bahasa lokal) serta di jadikan sebagai objek wisata. Nama Yuvai Semaring  juga diabadikan menjadi nama Bandar Udara di Long Bawan, Krayan.

Melestarikan Budaya Tradisional

Mata pencaharian umum masyarakat Dayak Lundayeh adalah bertani, terutama beras organik. Namun menanam beras organik hanya dilakukan satu musim. Peneliti juga membuktikan bahwa tanah di wilayah ini memang tidak bisa ditanami beras tersebut lebih dari satu kali.
Lalu apa yang dikerjakan oleh masyarakat selain bertani?

Di Desa Lembudud, Kecamatan Krayan Barat, dalam rumah panggung kayu, Makda Elisa memaparkan kegiatan yang dilakukan oleh Kelompok Tenun Mada Fudut berupa menganyam dan menenun. Kedua kegiatan ini awalnya dilakukan untuk kebutuhan rumah tangga. Namun ternyata banyak peminat terhadap hasil kerajinan tersebut sehingga sekarang menjadi salah satu sumber pendapatan masyarakat.

Mahda menerangkan, “Bahan baku anyaman dari rumput liar yang bisa ditemui di jalan-jalan’ Temar bahasa lokalnya.” Proses pembuatan alami satu barang bisa memakan waktu sampai dua minggu terhitung dari pengambilan rumput. Semua diolah di rumah panggung itu dan dengan alat-alat sederhana.

“Kami membutuhkan perangkat tenun guna meningkatkan produksi,” Makda menambahkan.  Luar biasanya, hasil karya Ibu-Ibu dari kelompok tenun ini sudah terkenal di tingkat nasional, bahkan internasional.

Budaya lokal ini terus diupayakan untuk dilanjutkan ke generasi muda. Angel, gadis manis berkulit kuning langsat, berusia 8 tahun dan duduk di kelas 2 SD. Dengan gemulai, Angel memainkan tangannya di mesin tenun, dan menunjukkan kemampuannya menjalin benang-benang. “Dari kecil harus kita ajarkan menenun ini,“ Mahda menegaskan.

Histori yang Tertinggal Menjadi Cerita Turun Temurun

Saat memasuki areal hutan dan menelusuri pedesaan di Krayan ditemui banyak peninggalan sejarah yang sudah ratusan tahun dipercayai oleh masyarakat lokal. Di Desa Pa’ Rupai, Kecamatan Krayan, Alex mengenalkan kami kepada “Kakek Melud”, demikian panggilan beliau. Pada usia 73 tahun, “Kakek Melud” masih kuat dan penuh semangat menjelaskan temuan cerita turun temuan di dalam hutan.

“Buaya adalah lambang keperkasaan atau power tanda kemenangan sehabis berperang bagi nenek moyang kita,” demikian beliau menjelaskan satu areal prasasti yang mereka sebut dengan Ilung Buaya. Simbol buaya dibuat oleh nenek moyang dari tanah, dan masih bisa ditemui beberapa banyak di area tertentu di dalam hutan. 

Konon ceritanya, sehabis berperang dan bila menang, maka nenek moyang akan mengadakan pesta kemenangan. Kampung tetangga diundang pada pesta tersebut dan mereka menyediakan minuman sampai beberapa tempayan. Sambil berpesta itu, mereka membuat prasasti buaya tersebut sehingga waktu pembuatannya bisa berminggu bahkan berbulan.

Ada juga kuburan kuno yang dibuat dari batu. “Kuburan ini khusus dibuat untuk para bangsawan yang tidak punya keturunan. Semua harta karunnya juga ditanam di dalamnya karena tidak ada yang mewarisi,” Kakek Melud bercerita tentang Batu Perupun. Kedalaman kuburan ini bisa mencapai 4 meter, dan seluruhnya ditutupi oleh batu yang diambil dari sungai, serta hanya diisi oleh satu orang bangsawan.

Batu Arit menggambarkan cerita lain dari kehidupan nenek moyang dulu. Pada batu ini terukir segala macam hal, seperti manusia dan hewan. Ukiran itu menggambarkan kisah hidup mereka. Ukiran ini dulu juga dibuat di lumbung padi.

Satu cerita termurun lain tentang Air Bunga terletak di Desa Tang Paye, Kecamatan Krayan Barat. Air yang keluar dari gunung ini tidak pernah berhenti, walaupun di musim kemarau. Masyarakat percaya bahwa air yang keluar dari pancuran dapat menyembuhkan beberapa penyakit. “Kalau kita kita cuci muka dari Air Bunga kita bisa awet muda,” tambah Alex.

Keseluruhan cerita di atas hanya sebagian kecil dari keelokan dan kekayaan yang ada di Krayan. Keterbatasan waktu-lah yang membuat hanya sedikit yang disampaikan. Ayo, jangan ragu! Kunjungi Krayan dan nikmati keajaiban yang diberikan oleh alam di sana.


Cerita Terkini

Wanita Telinga Panjang Terakhir

Oleh: Ari Wibowo, Community Organizer di Kutai Barat, Kalimantan Timur, WWF-IndonesiaEditor: Arum Kinasih, WWF Ho...

Kelompok Penjaga Laut Menarbu

Kelompok Pengelola Sasi Kampung Menarbu merupakan suatu kelompok masyarakat diangkat dengan SK Kepala Kampung Mena...

Deklarasi Kembali ke Riau (Sungai) di Hari Sungai Nasional

Ketika 27 Juli ditetapkan sebagai Hari Sungai Nasional oleh pemerintah  pada tahun 2011 lalu, gempitanya tida...

Get the latest conservation news with email