DKLH PROVINSI PAPUA BANGUN KESADARAN LINGKUNGAN MELALUI AKSI GREBEK SAMPAH DI MOMEN HARI LINGKUNGAN HIDUP SEDUNIA
Jayapura, 6 Juni 2026. - Kunci penting dalam menjaga kualitas lingkungan kita di tengah banyaknya tantangan yang dihadapi saat ini adalah kolaborasi, partisipasi, dan kesadaran masyarakat. Keterlibatan aktif berbagai pihak tentu dibutuhkan untuk dapat bersama-sama mengatasi persoalan sampah plastik, sampah makanan, pencemaran lingkungan, hingga isu yang lebih besar lagi, yaitu perubahan iklim.
Dalam rangka meningkatkan kapasitas, pemahaman, dan kepedulian masyarakat terhadap isu-isu tersebut, Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Provinsi Papua menyelenggarakan kegiatan pendidikan dan penyuluhan lingkungan pada 6 Juni 2026 di Taman Imbi, Kota Jayapura dengan mengangkat tema “Saatnya Bekerja Untuk Iklim”. Kegiatan ini meliputi pameran kampung iklim, serta kerja bakti bersih lingkungan bersama. Selain itu, kegiatan ini juga didukung beberapa pemangku kepentingan terkait lainnya, salah satunya adalah WWF Indonesia Program Papua sebagai bagian dari upaya berama dalam mendorong keterlibatan masyarakat.
Dalam kegiatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Provinsi Papua tersebut turut berpartisipasi dalam teleconfrence nasional yang diselenggarakan secara online. Teleconfrence tidak hanya dihadiri oleh pemerintah daerah Provinsi Papua saja, tetapi juga daerah lainnya. Disampaikan dalam teleconference bersama tersebut bahwa perubahan iklim, degradasi keanekaragaman hayati, dan polusi udara dan lingkungan menjadi tiga krisis lingkungan global yang saat ini dihadapi dunia. Sebagai bagian dari komitmen internasional melalui Paris Agreement, Indonesia turut berupaya dan berusaha menurunkan emisi gas rumah kaca dan memperkuat aksi mitigasi perubahan iklim. Upaya ini menjadi semakin penting mengingat Indonesia merupakan salah satu negara yang rentan terhadap dampak perubahan iklim, seperti kenaikan permukaan air laut, banjir, kekeringan, hingga ancaman terhadap ketahanan pangan. Di sisi lain, persoalan sampah, seperti sampah plastik dan sampah makanan juga menjadi tantangan besar karena pengelolaannya yang belum optimal. Sampah organik yang menumpuk di tempat pembuangan akhir menghasilkan gas metana, yang memiliki potensi pemanasan global sekitar 30 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida. Oleh karena itu, gerakan pengurangan dan pemilahan sampah perlu menjadi aksi bersama yang dimulai dari tingkat rumah tangga, hingga ke tingkat yang lebih luas.
Selain menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, komunitas, lembaga kemasyarakatan, dan pemangku kepentingan lainnya, kegiatan ini juga menjadi ruang pembelajaran untuk sama-sama saling menjaga lingkungan dan menghambat laju perubahan iklim dengan hal-hal sederhana atau yang bisa kita lakukan, misalnya tidak membuang sampah sembarangan untuk mencegah bahaya banjir, minimalisir penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah sesuai jenisnya secara bijak, hemat energi, hingga tidak membuang makanan di piring kita agar tidak menjadi sampah yang menyumbang gas berbahaya bagi lingkungan, yaitu gas metana. Hal-hal tersebut dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari di lingkungan kita berada untuk menghambat laju perubahan iklim.

Pada kesempatannya, Kepala DKLH. Plt. Kepala DKLH Provinsi Papua, Yakonias Maitindom, M.Si turut menyampaikan bahwa lingkungan hidup yang bersih adalah hak asasi manusia. “Aksi hari ini untuk memperingati momen Hari Lingkungan Hidup, kami memilih sungai Anafre. Bagi kami, Anafre yang letaknya di jantung Kota Jayapura, sehingga Sungai Anafre menjadi wajah kita. Kita harus membersihkan dia agar bersih dan juga sehat. Lingkungan hidup yang bersih dan sehat adalah hak asasi manusia, jadi kalau tidak bersih, sesungguhnya kita sedang melanggar HAM,” tuturt Yakonias.
Sementara itu, di sisi lain, WWF-Indonesia Program Papua sendiri menegaskan komitmennya untuk mendukung upaya menghambat laju perubahan iklim dan membangun komitmen Indonesia Asri. Salah satunya adalah penurunan emisi gas rumah kaca melalui pengelolaan sampah yang bertanggung jawab dan berkelanjutan, misalnya sampah makanan. WWF-Indonesia Program Papua percaya bahwa perubahan besar berawal dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten oleh setiap individu, komunitas, dunia usaha, dan pemerintah. Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini diharapkan menjadi momentum penting untuk memperkuat kesadaran, kolaborasi, dan gerakan masyarakat dalam mewujudkan aksi nyata peduli lingkungan, mulai dari mengurangi sampah, memilah dan mendaur ulang, hingga mengelola pangan secara bijak.
Diharapkan, penyelenggaraan kegiatan ini dapat memperkuat jejaring komunikasi dan kerja sama lintas sektor dalam mendukung upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan, demi kesejahteraan masyarakat Papua saat ini maupun generasi mendatang. (tan)