GLOBAL ELEPHANT DAY 2026: MERAWAT RUANG, MENJAGA KEHIDUPAN GAJAH SUMATERA MELALUI KOLABORASI
Cerita tentang gajah, dan pesan tentang pentingnya menjaga hutan berpadu dalam perayaan Global Elephant Day (GED) 2026 di Taman Wisata Alam (TWA) Buluh Cina, Riau. Di ruang yang mempertemukan masyarakat, komunitas seni, pemerintah desa, hingga pegiat konservasi, perlindungan Gajah Sumatera disuarakan dengan cara yang lebih dekat dan kreatif. Sobat Gajah Riau bersama WWF-Indonesia, BBKSDA Riau, komunitas seni, pemerintah desa, dan masyarakat menggelar rangkaian kampanye yang memadukan edukasi, seni, literasi, dan aksi konservasi untuk menumbuhkan kepedulian terhadap gajah sekaligus habitat yang menjadi rumahnya.
Berbagai kegiatan, seperti penanaman pakan gajah, Bincang Gajah, Sketch On The Spot, Workshop Elephant Zine, dan Nada untuk Gajah, dikemas secara kreatif agar pesan konservasi lebih mudah diterima oleh berbagai kalangan. GED juga menunjukkan pentingnya kolaborasi antara komunitas, pemerintah, seniman, dan masyarakat. Melalui kerja sama tersebut, konservasi tidak hanya menjadi tanggung jawab satu pihak, tetapi menjadi gerakan bersama untuk meningkatkan kepedulian terhadap Gajah Sumatra beserta habitatnya secara berkelanjutan.
Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) merupakan salah satu satwa ikonik Indonesia yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Pergerakannya membantu proses regenerasi hutan dan penyebaran biji, keberadaannya turut mendukung kehidupan berbagai satwa dan tumbuhan lain. Keberadaan gajah di suatu kawasan dapat menjadi indikator sumber daya yang dibutuhkan oleh satwa lain masih tersedia.
Gajah merupakan satwa yang membutuhkan ruang jelajah yang luas, pakan dan air yang cukup untuk mendukung kehidupannya. Kepala BKSDA Riau, Supartono, mengatakan bahwa pergerakan gajah menunjukkan betapa pentingnya menjaga habitat dan jalur jelajahnya. “Ketika gajah berjalan, ia tidak pernah mengarah ke belakang, sehingga arah pergerakannya terus maju dan berada pada jalur jelajah yang tetap setiap tahunnya,” ujarnya.
Kajian Muhammad Ali Imron menjelaskan bahwa tiga puluh dua persen, atau 135.646 km2, dari luas daratan Sumatera diprediksi sebagai habitat gajah yang baik. Dalam penjelasannya, Supartono juga menyebutkan bahwa “terdapat tiga koridor penting bagi pergerakan gajah di Riau yang perlu dikelola secara bersama yaitu Koridor Tesso-Taranegra, Koridor Tahura, dan Koridor Balai Raja”. ketiga koridor tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga konektivitas ruang jelajah gajah.
Meski demikian, populasi Gajah Sumatera kini menghadapi tekanan yang semakin besar. Satwa yang berstatus kritis (Critically Endangered) menurut IUCN ini menghadapi ancaman berupa perburuan, perdagangan ilegal, kehilangan dan fragmentasi habitat karena perubahan hutan menjadi perkebunan dan kawasan pemukiman. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap populasi dan ruang jelajah gajah. Berkurangnya dan terfragmentasinya hutan dapat memecah populasi gajah ke dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil. Akibatnya, ruang hidup gajah semakin berdekatan dengan ruang aktivitas manusia, sehingga meningkatkan potensi terjadinya konflik antara manusia dan gajah.
Edukasi dan Literasi untuk Mengenal Gajah Lebih Dekat
Bagi Sobat Gajah Riau, mengenalkan keberadaan gajah kepada masyarakat menjadi salah satu langkah awal dalam membangun kepedulian terhadap konservasi. Keberadaan tiga ekor gajah di TWA Buluh Cina yang terdiri dari gajah jantan, betina, dan anak dinilai memiliki potensi besar sebagai media edukasi. Masyarakat dapat belajar secara langsung mengenai kehidupan dan perkembangan gajah, sekaligus mengenal kawasan TWA Buluh Cina yang sebelumnya belum banyak diketahui sebagai rumah gajah. Kegiatan edukasi juga dilakukan oleh Non Blok melalui kegiatan belajar di alam bersama anak-anak. Dalam kegiatan tersebut, anak-anak diperkenalkan dengan berbagai informasi dan fakta mengenai gajah. Proses pembelajaran tidak hanya dilakukan dengan mendengarkan, tetapi juga melalui kegiatan melihat, membaca, menulis, dan menggambar. Selama kegiatan berlangsung anak-anak terlihat bersemangat dan berani berinteraksi.
Melalui pendekatan tersebut, anak-anak mendapatkan pengalaman langsung melihat dan berinteraksi dengan gajah. Pendekatan edukasi yang interaktif dan kreatif ini diharapkan dapat membantu anak-anak untuk lebih mudah mengingat pembelajaran tentang gajah. Edukasi menjadi pintu awal untuk membangun kepedulian masyarakat khususnya anak-anak. Semakin banyak masyarakat mengenal gajah dan memahami keberadaannya, semakin besar pula peluang untuk membangun kesadaran mengenai pentingnya menjaga satwa dan ruang hidupnya.

Seni sebagai Bahasa untuk Mengkampanyekan Gajah
Selain edukasi, seni juga menjadi salah satu pendekatan dalam menyuarakan konservasi gajah. Dalam Global Elephant Day 2026, musik dan seni visual digunakan untuk membawa pesan konservasi kepada masyarakat dengan cara yang lebih kreatif. Musisi Ibnu Syam melihat musik sebagai media yang memiliki kekuatan untuk mempengaruhi cara manusia mengingat dan memahami sebuah pesan. Nada dan lirik dapat terus melekat dalam pikiran pendengarnya, sehingga musik dapat menjadi ruang untuk menyampaikan pesan mengenai kepedulian terhadap lingkungan dan satwa. Ibnu membawakan lagu yang dibuat khusus tentang gajah dalam kegiatan Global Elephant Day 2026. Berbagai informasi yang diperoleh mengenai ancaman terhadap gajah menjadi inspirasi dalam menciptakan karya tersebut. Melalui musik, pesan tentang pentingnya hidup berdampingan dengan seluruh unsur kehidupan disampaikan kepada masyarakat.
Hal ini dilakukan pula oleh komunitas Sketsa Gembira melalui aktivitas menggambar langsung di alam. Bagi para peserta, kegiatan ini bukan sekadar menghasilkan karya, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mengenal lingkungan dan gajah secara lebih dekat. Melalui musik dan seni visual, pesan konservasi hadir dengan cara yang lebih dekat dengan pengalaman dan emosi masyarakat, sehingga dapat menjangkau khalayak melalui bahasa yang kreatif dan mudah diterima.
Peraturan desa dan Peran Masyarakat dalam Menjaga Alam
Kemeriahan Global Elephant Day (GED) 2026 di TWA Buluh Cina juga tumbuh dari keterlibatan masyarakat setempat. Pemerintah Desa Buluh Cina dan warga turut mendukung jalannya kegiatan, mulai dari menyediakan konsumsi hingga mendampingi anak-anak dalam aktivitas mewarnai gambar Gajah Sumatera. Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa konservasi tidak hanya hadir melalui kegiatan kampanye, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di sekitar kawasan.
Komitmen itu telah lebih dulu diwujudkan Pemerintah Desa Buluh Cina melalui peraturan desa (Perdes) yang mengatur pengelolaan lingkungan. Di dalamnya terdapat larangan penebangan hutan secara sembarangan serta penggunaan racun dan setrum untuk menangkap ikan. Aturan di tingkat desa ini menjadi salah satu bentuk upaya masyarakat untuk menjaga kawasan dan sumber daya alam yang menopang kehidupan mereka.
Bagi Gajah Sumatera, menjaga habitat berarti menjaga keberlangsungan ekosistem yang juga menjadi ruang hidup manusia. Karena itu, edukasi, kreativitas, keterlibatan masyarakat, dan kebijakan lokal perlu berjalan beriringan. Upaya tersebut menjadi semakin penting agar perlindungan gajah tidak berhenti sebagai pesan dalam sebuah peringatan, tetapi tumbuh menjadi kesadaran dan praktik yang terus berlangsung dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Pelestarian gajah memerlukan kolaborasi multipihak dan multigenerasi, karena spesies ini adalah bagian dari kehidupan manusia. Menjamin kelestariannya berarti memberikan harapan kualitas hidup yang lebih baik bagi manusia di masa yang akan datang,” ujar Beno Fariza Syahri, Project Leader & Wildlife Biologist WWF-Indonesia.
Semangat kolaborasi itulah yang menjadi bagian penting dari peringatan GED 2026 di TWA Buluh Cina—menghubungkan seni, edukasi, masyarakat, dan konservasi dalam satu upaya untuk menjaga Gajah Sumatera beserta habitatnya.