JALAN SETAPAK MENUJU KELESTARIAN HUTAN
Pendampingan Masyarakat Desa Kayu Bunga
Embun pagi masih enggan beranjak di deretan bukit yang melingkupi Desa Kayu Bunga di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, ketika Sudarto dan tiga warga lainnya bersiap untuk meronda hutan mereka. Tengkalang, tas terbuat dari rotan, yang mereka bawa sesak dengan perbekalan untuk tiga hari ke depan, mulai makanan, buku catatan, perangkat GPS, perlengkapan pemantauan dan dokumentasi SMART (Spatial Monitoring and Reporting Tool), dan perlengkapan dasar berkemah.
Kabupaten Melawi bersama-sama dengan Sintang, Ketapang dan Sekadau merupakan bagian dari 1,68 juta hektare Lanskap Arabela di Kalimantan Barat yang sebagian besar tutupan hutannya, sekitar 57%, masih utuh. Kabupaten Melawi yang ada di Arabela adalah salah satu habitat utama orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus wurmbii), dan juga ‘rumah’ bagi spesies lainnya, seperti kelempiau–owa kalawat (Hylobates muelleri), enggang gading (Rhinoplax vigil), trenggiling, beruang madu, dan lain-lain.

Bagi Sudarto dan rekan-rekannya, patroli hutan bukanlah perjalanan yang mudah. Untuk mencapai lokasi pemantauan, mereka harus berjalan kaki sepanjang hari melewati medan yang curam, menyeberangi sungai-sungai, dan menuruni perbukitan sebelum akhirnya bermalam di bawah rimbunnya hutan Kayu Bunga.
Namun, semua tantangan itu sepadan dengan tujuan yang mereka perjuangkan. Bagi Sudarto, setiap langkah adalah bagian dari upaya menjaga hutan yang telah menjadi sumber kehidupan masyarakat selama turun-temurun.

Bagi masyarakat Kayu Bunga, hutan adalah rumah. Nilai tersebut tercermin dalam nama Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Laman Kepayang, yang berarti ‘rumah’ dalam bahasa Dayak Kebahan–salah satu sub-suku Dayak. Sebagai ketua, Sudarto bersama masyarakat terus memperjuangkan pengelolaan hutan yang lestari melalui inisiatif Perhutanan Sosial.
Dengan pendampingan dari pemerintah dan mitra pembangunan seperti WWF-Indonesia, mereka menginisiasi pengusulan Laman Kepayang seluas 4.434 hektare melalui skema Hutan Desa, dan skema Hutan Adat untuk Toli Menuah–Selantan seluas 5.773 hektare. Saat ini, masyarakat masih melengkapi data dan dokumen yang diperlukan sebagai bagian dari proses pengajuan kedua usulan tersebut kepada pemerintah.

Sudarto memaknai hutan lebih dari ‘sekedar’ bentangan, ia adalah sumber kehidupan, ruang bagi berbagai kenangan, dan warisan yang harus dilestarikan untuk menjamin generasi berikutnya. “Hutan itu penting karena anak dan cucu kami harus dapat melihatnya di masa yang akan datang. Mereka harus bisa mengalami sendiri (berjumpa) binatang-binatang liar, pohon-pohon besar, dan semuanya yang membuat tempat ini istimewa.”
Sudah beberapa generasi masyarakat Kayu Bunga bergantung dari hutan, mereka biasa mengambil rotan, menyadap damar, memetik buah-buahan seperti durian, petai dan jengkol, mengambil kayu untuk membangun rumah, dan juga air yang mengalir dari sungainya yang jernih. Hutan telah mendukung penghidupan sekaligus membentuk identitas dan budaya Kayu Bunga.
Sudarto mengenang ketika hutan masih lebih lebat dari sekarang. Ketika musimnya, penduduk dengan mudahnya menemukan buah-buahan liar, sementara hidupan liar seperti orangutan, kelempiau atau owa, serta burung enggang atau rangkong lazim dijumpai.

Menjelajah hutan kerap mengejutkan. Gua tersembunyi, derasnya air terjun, riuh hidupan liar bergerak melalui pohon yang lebat, atau gemerisik yang mereka buat ketika menginjak dedaunan kering.
“Beberapa tahun lalu, lebih gampang melihat hewan dan buah hutan, sekarang susah” kenang bapak beranak tiga ini.
Aktivitas ekstraktif seperti pembalakan kayu, perburuan, dan pembukaan lahan pertanian perlahan mengurangi lebatnya hutan berikut sumber daya alamnya yang melimpah. Cukup lama akses ke hutan Kayu Bunga tak dibatasi, membebaskan siapapun masuk dan mengambil. Awalnya perubahan ini tak terasa, hingga semuanya berubah pada tahun 2021.

Tahun itu, banjir melanda Kayu Bunga. Lahan pertanian dan perkebunan sumber penghidupan warga binasa, panen pun musnah. Semuanya mesti digarap dari nol.
Bencana itu menjadi pengingat perih bagi warga Kayu Bunga. Mereka mulai mengait-ngaitkan banjir dengan penebangan hutan menahun yang terjadi di hulu sungai. Perbukitan yang tadinya menyerap air hujan perlahan-lahan menjadi tak mampu karena berubah menjadi lahan pertanian.
Bagi Sudarto, banjir besar itu menyadarkan banyak warga. “Banjir merusak lahan pertanian dan kebun kami. Kami kehilangan semuanya dan mesti memulai lagi. (Banjir) itu mengajarkan kami untuk tidak menebang hutan di daerah hulu.”
Setelah itu, tetua dan warga Desa bersepakat. Aturan baru dibuat untuk mencegah perluasan lahan pertanian kearah perbukitan. Warga didorong untuk mengolah lahan yang sudah dipakai. Meski perlahan, kesadaran masyarakat pun mulai mekar.
Perubahan itu tampak sederhana, namun ia menandakan peralihan pandangan masyarakat akan hubungan dengan hutan dan kesejahteraan mereka. Sekarang, rasa tanggung jawab masyarakat mulai bersemi; hal ini dapat dilihat dari patroli yang dilakukan oleh Sudarto dan kawan-kawannya hari itu.
Setiap bulan tim patroli memantau hutan desa dan hutan adat mereka. Warga Kayu Bunga bergiliran mendokumentasikan kondisi hutan mereka, mencatat perjumpaan dengan hidupan liar, mengidentifikasi ancaman potensial, dan mengumpulkan informasi untuk mendukung pengelolaan hutan.
Patroli masyarakat ini melelahkan sekaligus menantang. Mulai dari hujan deras yang membuat jalur aktivitas menjadi licin, atau panas menyengat, yang kesemuanya berisiko bagi kesehatan dan keselamatan mereka.
Meskipun demikian, komitmen masyarakat tetap teguh. Mereka didorong oleh keyakinan untuk melestarikan hutan hari ini sekaligus memastikan masa depannya; masa depan mereka.
Meski perjumpaan dengan aktivitas ilegal jarang terjadi, tim patroli kerap menemukan bukti-bukti yang ditinggalkan. Perangkap berburu, tanda-tanda aktivitas pertambangan, atau pengambilan hasil hutan tanpa izin dengan keras kepala mengingatkan bahwa ancaman terhadap hutan mereka nyata adanya.

Setiap sesi patroli semakin memperkuat keyakinan masyarakat akan pentingnya pelestarian dan konservasi alam. “Melindungi hutan itu tidak bisa sendiri, (melindungi hutan) perlu kita semua,” tegas Sudarto.
Aktivitas patroli bukanlah sekedar mencari-cari ancaman, namun juga untuk memperdalam hubungan antara partisipan dengan hutannya. Salah satu kenangan patroli yang membekas bagi Sudarto adalah ketika mereka meronda salah satu lokasi terpencil di hutan mereka berhasil mencapai Air Terjun Gunung Berasap.
Berdiri di hadapan tirai air yang tersembunyi jauh di dalam hutan, Sudarto merasakan rasa bangga atas keindahan alam yang ‘hidup’ di Kayu Bunga. “Luar biasa,” ia melanjutkan, “sebelumnya saya hanya pernah dengar dari orang lain. Melihatnya langsung membuatku semakin menghargai hutan.”

Apresiasi itu juga yang Sudarto coba tularkan kepada warga lain melalui Panda CLICK!, sebuah program jurnalisme warga yang membekali dan mendorong partisipannya untuk mendokumentasikan dan menceritakan alam di sekitarnya.
Berbekal kamera dan ponsel, Sudarto merekam bentang hutan, tetumbuhan unik, aktivitas pertanian, hingga kepada praktik-praktik tradisional. Melalui dokumentasi visual, warga bisa menjadi ‘pendongeng’ dan berbagi sudut pandang yang kerap terabaikan.
Gambar-gambar itu menceritakan lebih dari keindahan, namun memendam cerita mengenai masyarakat yang berusaha untuk tetap terhubung dengan hutan mereka, bahwa apa yang mereka lakukan bukan ‘hanya’ melindungi pohon dan hidupan liarnya, namun juga untuk melindungi hidup dan penghidupan, adat dan budaya, sekaligus merawat masa depan.
Baginya, setiap patroli, setiap foto, setiap langkah menerabas hutan adalah investasi untuk masa depan ketika manusia dan alam dapat hidup serasi di Kayu Bunga.
Sembari menatap ke depan, harapan Sudarto tidak goyah. Ia membayangkan hutan Kayu Bunga tetap sehat dan utuh, hidupan liar bertumbuh kembang, air bersih tetap mengalir lewat sungai dari perbukitan, dan generasi mendatang dapat merasakan rasa takjub yang sama setiap kali mereka menjelajahi hutan.
“Hutan harus terus dijaga,” pesan Sudarto. “Saya berharap anak dan cucu kami akan terus merawatnya, supaya (hutan) tetap ada untuk mereka.”
(Sudarto, Kepala Lembaga Pengelolaan Hutan Desa Laman Kepayang)
Restorasi Merawat Masa Depan
Fajar baru merekah di Desa Penyuguk ketika Anastasi Eva memulai aktivitasnya: membersihkan rumah, menyiapkan makanan, lalu merawat bapaknya yang sudah lanjut usia.
Tengah hari menjelang. Ketika orang lain mungkin sedang beristirahat, Eva menuju area restorasi agroforestri untuk memeriksa bibit-bibit pohon dan menyiapkan media tanam bersama warga perempuan Panyuguk lainnya.

Desa Panyuguk adalah salah satu Desa terpencil di Kecamatan Ella Hilir, Kabupaten Melawi, yang terletak di perbatasan Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, jauh dari pusat kota melalui jalanan yang curam. Eva dan warga Penyuguk paham benar arti dari bagaimana mengatasi tantangan, dan seperti apa masa depan yang mereka impikan.
Eva adalah ibu tiga anak sekaligus bendahara dari Kelompok Tani Hutan (KTH) Penyuguk Lestari. Ia mulai tertarik pada restorasi melalui salah satu pelatihan, ketika ia belajar bahwa kopi bisa diintegrasikan ke dalam sistem wanatani yang memungkinkan petani mendapatkan penghasilan tambahan sekaligus mendukung upaya restorasi lahan kritis–sebuah pendekatan yang menghasilkan kemantapan finansial untuk Eva dan anggota KTH lainnya.
Rasa penasaran Eva pun berubah menjadi sebuah visi, “saya melihat kesempatan untuk masa depan kami. Tidak hanya untuk keluargaku, namun juga untuk warga Desa.”
Visi itu lalu membimbing tindakan. Eva mendorong perempuan lainnya di Penyuguk untuk bergabung. Sekarang, tujuh belas perempuan terlibat aktif dalam upaya restorasi. Bersama-sama mereka mengumpulkan bibit dari hutan di sekitar, memindahkannya ke polybag, lalu memantau pertumbuhan pohon kecil yang suatu hari akan menjadi bagian dari hutan yang sehat.

Bagi mereka, proyek restorasi membuka kesempatan bagi pengetahuan dan pengalaman yang baru. Mereka sudah mahir memilih bibit yang sehat dan menyetek kopi, serta membuat pupuk organik. Keterampilan yang tadinya tampak sulit dikuasai kini sudah menjadi rutinitas sehari-hari. “Dulu saya berpikir semua bibit itu sama,” cerita Eva sembari tersenyum, “sekarang saya tahu cara memilih bibit terbaik untuk ditanam.”

Restorasi yang dilakukan masyarakat Penyuguk tidak hanya tentang menanam kembali pohon, tetapi juga membangun fondasi bagi rencana yang lebih besar. Dengan pendampingan WWF-Indonesia, masyarakat tengah menyiapkan usulan Perhutanan Sosial melalui skema Hutan Desa Penyuguk Kanan-Olla Buluh dan Hutan Adat Olla Lalan'k. Saat ini, kedua inisiatif tersebut masih dalam tahap pengajuan kepada pemerintah.
Bagi Eva dan perempuan di KTH Penyuguk Lestari sudah membuktikan kalau restorasi bukan hanya menjadi tanggung jawab laki-laki saja. Ketika para laki-laki menghabiskan waktu lama di dalam hutan, perempuan menemukan cara untuk turut mendukung perekonomian rumah tangga mereka. Melalui kerja tim dan rotasi jadwal, mereka memastikan areal demonstrasi lapangan tetap terawat sepanjang tahun.
“Bahkan Ketika cuaca buruk, jika memang giliran kami, kami tetap bekerja,” kata Eva. Dedikasi Eva dan teman-temannya berhasil mengubah bentang alam sekaligus pandangan masyarakat.
Di masa lalu, hutan di Penyuguk ‘hanya’ dianggap sebagai sumber daya yang mesti dipanen. Sekarang, perbincangan di sana perlahan menjurus kepada cara untuk mendapatkan manfaat ekonomi sambil tetap melindunginya. Warga mulai menyadari bahwa restorasi dan mata pencaharian bisa berjalan beriringan.

Bagi Eva, peralihan sudut pandang tersebut merupakan salah satu capaian, “sekarang masyarakat mulai memikirkan masa depan. Sebelum menanam sesuatu, kami bertanya kepada diri sendiri, manfaat apa yang bisa dihasilkan untuk bertahun-tahun ke depan.”
Seiring dengan bibit yang bertumbuh, begitu pula harapan dari masyarakat. Eva membayangkan sebuah lahan wanatani yang akan menjadi wasiat bagi generasi mendatang, sebuah tempat ketika pemuda dan pemudi bisa sama-sama belajar, bekerja, dan melanjutkan upaya restorasi yang sudah lama dirintis. Di Penyuguk, mereka menumbuhkan kesempatan, ketangguhan, dan harapan di setiap bibit yang mereka tanam.
“Jangan menyerah melindungi hutan. Kita mungkin tidak melihat hasilnya dengan cepat, namun jika kita terus menanam dan merawat tanah kita, generasi mendatanglah yang akan menikmati manfaatnya.”
(Anastasi Eva, Kelompok Tani Hutan Penyuguk Lestari)