MENILIK KEMBALI SUMBER DAYA UDANG WINDU DI ACEH TIMUR: PENGUATAN PENGELOLAAN UDANG WINDU
Sejak tahun 80-an hingga 90-an Kabupaten Aceh timur menjadi salah satu wilayah penghasil udang windu (Penaeus monodon) di Indonesia. Komoditas ini telah lama menjadi andalan sekaligus berkontribusi pada ekspor, di mana Indonesia merupakan salah satu produsen udang terbesar di sunia, sebagaimana tercatat dalam laporan FAO (2023) dan KKP (2024). Diantara beragam jenis udang yang diperdagangkan, udang windu dikenal sebagai komoditas bernilai ekonomi tinggi karena ukuran tubuhnya yang relatif besar serta kualitas daging yang baik.
Permintaan yang banyak disertai nilai jual tinggi menjadikan industri udang windu berkembang luas. Di Aceh sendiri, udang windu melampaui fungsi komoditas konsumsi karena menjadi sumber indukan (wild Broodstock) bagi budidaya udang windu di Indonesia. Tekanan ganda sebagai komoditas konsumsi sekaligus indukan ini berpotensi mempengaruhi proses rekrutmen dan keberlanjutan stok udang windu di alam apabila tidak dikelola secara berkelanjutan. Kondisi ini semakin relevan mengingat sejak sekitar 1997, budidaya udang windu di Indonesia menurun akibat serangan penyakit, yang kemudian mendorong peralihan ke spesies lain yaitu vanamei pada 2001.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa stok udang windu di perairan Aceh Timur telah berada pada kondisi tangkapan berlebih (Hedianto et al., 2016 dan Damora, 2022), yang berarti tingkat penangkapan telah melampaui kemampuan alami populasi udang untuk pulih. “Penurunan stok udang windu dipicu oleh tingginya tekanan penangkapan dan penggunaan alat tangkap yang kurang selektif, seperti pukat yang dapat menangkap udang dalam berbagai ukuran. Penangkapan juga terjadi di kawasan mangrove yang merupakan habitat penting bagi udang muda. Dalam jangka panjang kondisi ini dapat memicu growth overfishing hingga recruitment overfishing yang pada akhirnya menurunkan biomassa udang di alam.” jelas Damora, Dosen dari Universitas Syiah Kuala.

Meskipun mengalami penurunan, permintaan terhadap udang windu tidak pernah benar-benar surut terutama dari pasar ekspor. Industri pembenihan dan budidaya masih membutuhkan indukan berkualitas dari alam. Situasi tersebut menciptakan dilema klasik dalam pengelolaan perikanan. Di satu sisi sumber daya mengalami tekanan, tetapi di sisi lain kebutuhan ekonomi masyarakat pesisir dan industri perikanan tetap harus dipenuhi. Karena itu, upaya memperbaiki praktik perikanan dan memulihkan stok udang windu menjadi semakin penting melalui pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pembatasan penangkapan, tetapi juga pada penerapan metode penangkapan yang lebih selektif dan bertanggung jawab.
Untuk mendorong perbaikan perikanan yang lebih sistematis di Aceh Timur, pada Februari 2026 lalu tim WWF Indonesia melakukan field assessment guna memahami kondisi terkini perikanan udang windu. Kegiatan ini dilakukan di Kuala Peudawa dan Kuala Bugak melalui wawancara dengan nelayan dan pemangku kepentingan perikanan, serta observasi langsung terhadap hasil tangkapan, alat tangkap, dan armada nelayan. Selain itu, identifikasi kelompok nelayan juga dilakukan sebagai dasar kegiatan pendampingan dan perbaikan praktik perikanan ke depan. Ini merupakan upaya WWF-Indonesia, dalam mendorong pengelolaan perikanan yang lebih berkelanjutan selama satu tahun terakhir. Upaya ini didukung oleh COAST Facility melalui Program Climate and Ocean Adaptation and Sustainable Transition (COAST).

Hasil field assessment menunjukkan beberapa temuan penting, salah satunya tentang komposisi hasil tangkapan nelayan. Udang windu hanya menyumbang sekitar 30% dari total hasil tangkapan, sementara sisanya merupakan jenis udang lain, ikan demersal, dan biota laut lainnya. Selain itu, tingkat kelangsungan hidup udang windu saat pendaratan masih rendah. Menurut laporan nelayan, dari 30% udang yang tertangkap tersebut proporsi udang indukan yang dapat bertahan hidup hingga lokasi pendaratan kurang dari 30%. Kondisi ini dipengaruhi keterbatasan fasilitas penyimpanan dan penanganan pascatangkap yang belum optimal.
Selia Hermawati, Fisheries Science Specialist WWF-Indonesia, menyampaikan bahwa upaya perbaikan perikanan udang windu di Aceh Timur masih sangat memungkinkan untuk dilakukan. Dimulai dari langkah-langkah seperti penguatan kapasitas nelayan melaui optimasi kelembagaan, penggunaan alat tangkap yang lebih selektif, perlindungan terhadap indukan dan daerah asuhannya (nursery ground).
Komitmen pemerintah daerah juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan sumber daya pesisir. Pemerintah Aceh menunjukkan hal tersebut melalui Keputusan Gubernur Aceh No. 500.5.1/223/2024 tentang Penetapan Pencadangan Kawasan Konservasi Perairan Aceh, yang mencakup wilayah perairan di Aceh Timur. Kebijakan ini diharapkan dapat melindungi habitat penting seperti ekosistem mangrove yang menjadi daerah asuhan (nursery ground) bagi berbagai biota laut, termasuk udang windu.
Dalam jangka panjang, integrasi antara pengelolaan stok di alam dan pengembangan indukan juga dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap penangkapan indukan dari alam. Pada akhirnya, masa depan udang windu di pesisir Aceh Timur tidak hanya bergantung pada seberapa banyak yang dapat ditangkap hari ini, tetapi pada bagaimana sumber daya ini dikelola agar berkelanjutan untuk generasi berikutnya.

Referensi
Azam, K., Alam, S. M. N., & Naher, S. S. 2010. Quality assessment of farmed black tiger shrimp (Penaeus monodon) in supply chain: Organoleptic evaluation. Journal of Food Processing and Preservation, 34: 164–175.
Briggs, M., Funge-Smith, S., Subasinghe, R., & Phillips, M. 2005. Introductions and movement of Penaeus vannamei and Penaeus monodon in Asia and the Pacific. FAO Regional Office for Asia and the Pacific, Bangkok.
Damora, A. 2022. Hasil analisis data pendaratan (fish landing) udang windu Penaeus monodon di Kabupaten Aceh Timur dan Kabupaten Aceh Tamiang: Final report. Universitas Syiah Kuala - Yayasan WWF-Indonesia.
FAO. 2023. The State of World Fisheries and Aquaculture 2023: Blue Transformation in Action. Rome: Food and Agriculture Organization of the United Nations.
Hedianto, D. A., Suryandari, A., & Tjahjo, D. W. H. 2016. Dinamika populasi dan status pemanfaatan udang windu Penaeus monodon (Fabricius, 1789) di perairan Aceh Timur, Provinsi Aceh. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia, 22(2), 123–134.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). 2024. Profil Pasar Udang. Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan, Jakarta.
Sriket, P., Benjakul, S., Visessanguan, W., & Kijroongrojana, K. 2007. Comparative studies on chemical composition and thermal properties of black tiger shrimp (Penaeus monodon) and white shrimp (Penaeus vannamei) meats. Food Chemistry.
Tjahjo, D. W. H., Hedianto, D. A., Suryandari, A., Nurfiarini, A., Fahmi, Z., Indriatmoko, & Hariyadi, J. 2019. Konservasi sumber daya udang windu (Penaeus monodon) di Pantai Timur Aceh, Kabupaten Aceh Timur. Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia, 11(1), 1–12.