MENJAGA AKAR KEHIDUPAN DI PESISIR ROMANG-DAMER: PERAN PENTING HUTAN MANGROVE
Damer, 28 Oktober 2025 — Di perbatasan laut dan darat, tempat ombak lembut menyentuh pasir dan air payau mengalir di antara akar-akar lentur, tumbuhlah salah satu ekosistem paling produktif di bumi: hutan bakau (mangrove). Di kawasan konservasi Romang-Damer, Maluku Barat Daya, kawasan terpencil yang menjadi bagian dari ekspedisi laut WWF-Indonesia, hutan mangrove bukan hanya pelindung alami pesisir, tetapi juga penyambung kehidupan antara daratan dan laut.
Selama ekspedisi penelitian pada Oktober 2025, tim WWF-Indonesia tidak hanya meneliti terumbu karang dan padang lamun, tetapi juga melakukan survei pada ekosistem mangrove di beberapa teluk dan pesisir Romang-Damer. Hasilnya, kawasan ini ternyata menyimpan potensi ekologi yang besar, dengan struktur vegetasi mangrove yang masih relatif alami dan berfungsi baik sebagai pelindung pesisir serta tempat hidup bagi berbagai spesies laut dan burung.
Hutan yang Tumbuh di Antara Dua Dunia
Mangrove adalah tumbuhan yang unik. Mereka hidup di wilayah pasang surut, beradaptasi dengan kadar garam tinggi, dan memiliki akar khas seperti akar tunjang atau akar napas yang memungkinkan mereka bernapas di tanah berlumpur dan tergenang. Di Romang-Damer, tim mangrove menemukan berbagai spesies utama seperti Rhizophora mucronata (bakau), Avicennia marina (api-api), dan Sonneratia alba (pidada).
Struktur vegetasi yang berlapis dari jenis yang tumbuh di tepi laut hingga ke bagian daratan yang lebih kering menunjukkan bahwa ekosistem ini masih dalam kondisi stabil. Di beberapa lokasi, hutan mangrove bahkan mencapai kerapatan tinggi, dengan akar-akar bakau menjuntai seperti jaring alami yang menahan gelombang dan menambatkan sedimen.
Tempat Berlindung dan Bertumbuh
Hutan mangrove di Romang-Damer berfungsi sebagai nursery ground atau tempat pembesaran bagi berbagai jenis ikan, udang, dan kepiting. Saat air pasang, hewan-hewan laut muda masuk ke area akar mangrove untuk mencari makan dan berlindung dari predator. Saat air surut, mereka kembali ke laut, membawa energi dan nutrisi yang menjadi dasar rantai makanan laut.
Selain itu, ekosistem ini juga menjadi rumah bagi berbagai jenis burung air, reptil, dan mamalia kecil. Tim ekspedisi beberapa kali mencatat kehadiran burung kuntul, bangau laut, dan elang laut yang menjadikan mangrove sebagai tempat mencari makan dan bersarang.
“Hubungan antara mangrove, lamun, dan terumbu karang di Damer sangat kuat,” ujar Muhammad Faisal, mangrove team lead. “Ketiganya membentuk sistem yang saling mendukung. Mangrove melindungi pesisir dan menyuplai nutrisi, lamun menstabilkan dasar laut, dan karang menjadi benteng terakhir dari hempasan gelombang”, imbuhnya lagi.
Pelindung Alami dan Penyimpan Karbon
Selain fungsi ekologisnya, mangrove juga memiliki peran penting dalam menghadapi perubahan iklim. Akar dan tanah mangrove mampu menyimpan karbon dalam jumlah besar bahkan hingga empat kali lipat lebih banyak dibandingkan hutan daratan biasa. Karena itu, ekosistem ini disebut sebagai penyerap karbon biru (blue carbon ecosystem) yang sangat penting bagi keseimbangan iklim global.
Di Romang-Damer, kondisi geografis yang relatif jauh dari aktivitas industri membuat hutan mangrove masih terjaga. Namun, ancaman tetap ada. Perubahan pola pasang surut, peningkatan suhu laut, sampah dan potensi pembukaan lahan untuk permukiman dapat mempengaruhi keberlangsungan ekosistem ini.
Upaya Perlindungan Berbasis Pengetahuan dan Komunitas
WWF-Indonesia bersama masyarakat lokal kini berupaya memperkuat perlindungan hutan mangrove melalui pendekatan berbasis sains dan kearifan lokal. Salah satu langkah yang dilakukan adalah pemetaan tutupan mangrove menggunakan data lapangan dan citra satelit untuk mengetahui luas dan kondisi vegetasi di setiap titik. Pendataan ini tidak hanya bertujuan ekologis, tetapi juga ekonomi. Harapannya dari data yang didapat masyarakat dapat memanfaatkan hasil hutan non-kayu seperti madu mangrove, kepiting bakau, atau kegiatan ekowisata berbasis alam.

Akar yang Menyimpan Harapan
Ketika senja tiba di Romang-Damer, akar-akar mangrove yang terendam air laut terlihat seperti siluet yang menenun antara daratan dan samudra. Di bawahnya, kehidupan laut berdenyut, ikan-ikan muda bersembunyi, kepiting mencari makan, dan burung-burung kembali ke sarangnya.
Mangrove mungkin tampak sederhana, tapi ia adalah fondasi ekosistem pesisir, melindungi pantai dari abrasi, menyediakan sumber makanan, dan menyimpan karbon untuk bumi.
Selama hutan mangrove di Romang-Damer tetap hijau dan hidup, maka pesisir ini akan tetap kuat menghadapi perubahan. Karena dari akar-akar yang tumbuh di lumpur itulah, kehidupan laut dan darat menemukan keseimbangannya.