MENJAGA HUTAN, MENYAMBUT DUNIA: PELAJARAN DARI SAUPON UNTUK NANGGOUW
Di Raja Ampat, lima warga Kampung Nanggouw belajar bahwa pengalaman wisata dapat bermula dari sepiring pangan lokal, sebatang sagu, dan hutan yang tetap berdiri. Mereka membawa pulang gagasan untuk mengembangkan pariwisata yang berakar pada kehidupan kampung.
Di meja makan Saupon Homestay, kepiting bakau menjadi bagian dari sebuah perkenalan. Sebagian direbus, sebagian ditumis. Bersamanya tersaji bia kodok, sebutan lokal untuk kerang yang disuguhkan kepada rombongan dari Kampung Nanggouw, Tambrauw. Mama Alma Rumbiak dan Anci Gaman menyiapkan hidangan itu dengan sigap. Di restoran kecil tersebut, makanan ditata rapi untuk menyambut para peserta yang datang menimba pengalaman. Dari lingkungan sekitar, bahan pangan berpindah ke meja makan, mempertemukan tuan rumah dengan orang-orang yang baru tiba.
Bagi tiga pemuda dan dua mama anggota Kelompok Ekowisata Toweuw Nanggouw, sambutan itu menjadi pelajaran awal tentang mengelola penginapan. Sebelum membicarakan paket wisata dan promosi, mereka berhadapan dengan sesuatu yang mendasar: cara membuat tamu merasa diterima.
Di Saupon, keramahan juga hadir melalui nyanyian.
“Hutan mangrove siapa yang punya, yang punya kita semua.”
Lirik yang dibawakan pemandu itu menyampaikan gagasan yang menyertai perjalanan mereka. Hutan adalah bagian dari kehidupan bersama. Ketika wisata tumbuh di sekitarnya, tanggung jawab merawatnya ikut menjadi bagian dari pengalaman menerima pengunjung.
Rombongan Nanggouw mencapai Raja Ampat setelah menempuh perjalanan dengan mobil, kapal cepat, dan perahu bermotor. Pada 29 Juli–4 Agustus 2026, mereka mengikuti kegiatan pembelajaran di Saupon Homestay, Kampung Waifoi, kawasan Teluk Mayalibit. Yayasan WWF Indonesia memfasilitasi pertemuan tersebut bersama kelompok pengelola Saupon yang mendapat pendampingan BBKSDA Papua Barat Daya. Perwakilan Dinas Pariwisata Kabupaten Tambrauw turut mengikuti kegiatan. Peserta memadukan materi dan teori dengan praktik serta pertukaran pengetahuan bersama pengelola Saupon.
Nanggouw sendiri telah dikenal sebagai kampung ekowisata sejak 2024. Penghargaan dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia pada tahun berikutnya memberi pengakuan atas langkah yang telah ditempuh. Namun, pengelola homestay dan pemandunya masih merasa perlu memperkuat keterampilan. Dalam pertemuan kelompok di Nanggouw pada 28 Juli 2026, Herman Yesnath menyampaikan kebutuhan untuk belajar lebih jauh mengenai kampung sadar wisata. Keinginan itu membawa mereka ke Saupon, tempat masyarakat lain telah lebih dahulu mengembangkan penginapan dan kegiatan wisata berbasis potensi kampung.
Homestay di Kampung Waifoi, kawasan Teluk Mayalibit, itu dikembangkan sejak 2018 dengan melibatkan warga untuk menjaga sumber daya kampung. Pengalamannya memberi kelompok Toweuw contoh pengelolaan wisata yang dekat dengan kebutuhan mereka. Pelajaran itu hadir dalam pekerjaan sehari-hari. Peserta mempelajari cara menyambut tamu, menata makanan, merapikan kamar, serta melengkapi fasilitas tidur secara sederhana. Kemewahan bukan syarat yang ditekankan dalam pembelajaran ini. Yang perlu diusahakan ialah kebersihan, kelengkapan dasar, dan perhatian terhadap kebutuhan orang yang menginap. “Dari kegiatan ini saya belajar bahwa mengelola ekowisata bukan hanya tentang memiliki tempat wisata, tetapi juga bagaimana kita menerima tamu, mengatur homestay, menyiapkan makanan, dan memberikan pelayanan yang baik. Pengalaman di Saupon membuat saya melihat hal-hal yang bisa kami terapkan untuk mengembangkan Ekowisata Toweuw di Nanggouw,” ujar Donika Yesnath yang merupakan salah satu peserta dalam pelatihan ini. Bagi Yeheskiel Yekwam, peserta lainnya, pengalaman itu memperjelas hubungan antara pelayanan dan kerja bersama. Sebuah kamar yang siap ditempati atau hidangan yang tersaji merupakan bagian dari pengelolaan kelompok yang harus berjalan di belakangnya. “Sebelumnya kami sudah menjalankan kegiatan ekowisata di Nanggouw, tetapi setelah mengikuti pembelajaran di Saupon saya mendapat gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana sebuah kelompok mengelola tamu dan atraksi wisata. Saya juga belajar bahwa kebersihan, komunikasi dengan tamu, dan kerja sama kelompok sangat penting agar wisatawan merasa nyaman,” katanya.

Di dapur, peserta mengenal pengolahan kepiting bakau yang disebut keraka dan kerang air tawar yang dikenal sebagai bia kodok. Bahan pangan dari lingkungan sekitar menjadi bagian dari pengalaman menerima tamu. Hidangan memberi kesempatan bagi pengunjung untuk mengenal apa yang dimakan masyarakat dan dari mana makanan itu berasal. Rangkaian pengenalan sagu memperluas pengalaman tersebut. Pengunjung diajak mengikuti penanaman, mengenal proses menokok dan meramas sagu, hingga mencicipi papeda. Bagi kelompok Toweuw, kegiatan ini menawarkan contoh bagaimana pekerjaan dan pengetahuan lokal dapat dirangkai menjadi pengalaman belajar, dengan warga sebagai pihak yang mengenalkan dan menjelaskan prosesnya. Peserta juga mengenal kegiatan pertemuan tamu asing dengan anak-anak sekolah dasar, serta pengenalan adat melalui Man Sorandak dan suling tambur. Kampung, dalam pendekatan ini, hadir melalui kehidupan warganya. Pengalaman berkunjung terbentuk dari perjumpaan dengan orang-orang yang merawat pengetahuan tersebut.
Tujuan menjaga alam di Saupon diterjemahkan ke dalam sejumlah praktik pengelolaan. Di antaranya ialah pembatasan penggunaan listrik pada siang hari, tidak menggunakan pendingin ruangan, serta pemusatan kamar mandi dan toilet untuk menata pembuangan limbah. Masyarakat juga menjaga hutan mangrove di sekitarnya. Upaya-upaya ini memperlihatkan bahwa perhatian terhadap lingkungan perlu masuk ke keputusan operasional homestay. Saupon turut mengalokasikan sebagian keuntungan untuk mendukung pendidikan anak-anak Kampung Waifoi. Hubungan antara wisata dan kehidupan kampung menjadi lebih nyata ketika manfaat usaha menjangkau kebutuhan warga. Bagi peserta magang, pengalaman itu menambah bahan pertimbangan tentang untuk siapa ekowisata dikembangkan dan bagaimana hasilnya dapat digunakan.

Selama kegiatan, peserta diperkenalkan pada gagasan climate tourism dan aksi konservasi. Penanaman sagu menjadi salah satu bentuk kegiatannya, berdampingan dengan perlindungan mangrove dan pengelolaan homestay. Pengalaman tersebut memberi contoh tindakan yang dapat dipelajari lebih lanjut; penerapannya di Nanggouw tetap perlu disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan kelompok setempat. Pelatihan yang difasilitasi WWF Indonesia Program Papua juga menjadi ruang membangun hubungan antarpengelola. Kelompok Toweuw dan Saupon bertukar leaflet promosi. Bersama perwakilan Dinas Pariwisata Kabupaten Tambrauw, mereka berharap kerja sama berlanjut dan membuka peluang kunjungan dari Raja Ampat ke Nanggouw. Para kelompok dan perwakilan dinas menyampaikan apresiasi kepada WWF atas kesempatan belajar bersama tersebut. Tindak lanjut di kampung akan menentukan bagaimana pengetahuan ini diterapkan.
Sesudah sepekan belajar, pekerjaan berikutnya menanti di Nanggouw: menerapkan pengetahuan itu dalam kamar yang dirawat, makanan yang disiapkan, dan pembagian tugas di antara anggota kelompok. Rangkaian sagu di Saupon memberi gambaran tentang arah yang bisa ditempuh. Pengalaman seorang tamu dapat berakhir pada semangkuk papeda, tetapi keberlanjutannya bergantung pada tanaman yang tumbuh dan warga yang terus merawatnya.