PERTEMUAN LANGKA DENGAN SANG PENGUASA LAUT: ORCA DI PERAIRAN ROMANG, MALUKU BARAT DAYA
Romang, 31 November 2025 — Langit biru terbentang tanpa cela pagi ini, laut tenang berkilau diterpa sinar matahari pagi ketika tiba-tiba terdengar seruan dari salah satu kru kapal Nusa Kembara: “Orca! Orca di sebelah kanan kapal!”
Spontan, seluruh tim di atas geladak bergegas menuju sisi kapal. Empat ekor orca atau killer whales muncul di permukaan air, berenang dengan anggun dan sesekali memperlihatkan sirip punggungnya yang tinggi menjulang. Adegan yang begitu cepat, namun membekas lama di ingatan semua yang berada di sana.
Momen langka itu terjadi di sekitar perairan Pulau Romang, Maluku Barat Daya, wilayah yang menjadi bagian dari ekspedisi laut yang dilakukan WWF-Indonesia bersama para peneliti. Tidak ada yang menyangka akan melihat mamalia laut besar ini di kawasan terpencil tersebut. Selama beberapa menit, orca-orca itu berenang sejajar dengan kapal sebelum perlahan menghilang ke biru pekat samudra.
“Melihat orca di habitat aslinya adalah pengalaman yang sulit dijelaskan dengan kata-kata,” ujar Ratih Ayustina, marine mammals observer yang ikut dalam ekspedisi. “Ini menjadi tanda bahwa laut Maluku Barat Daya masih sangat sehat dan kaya akan keanekaragaman hayati”, imbuhnya lagi.
Mengapa Orca Ada di Maluku Barat Daya?
Secara ilmiah, orca (Orcinus orca) adalah spesies paus bergigi terbesar dalam keluarga Delphinidae, keluarga yang sama dengan lumba-lumba. Meski lebih sering diasosiasikan dengan perairan dingin seperti Norwegia atau Alaska, orca sebenarnya tersebar hampir di seluruh samudra dunia, termasuk di perairan tropis Indonesia.
Kehadiran orca di Maluku Barat Daya bukanlah kebetulan. Wilayah ini berada di bagian tenggara Laut Banda, yang dikenal sebagai salah satu laut terdalam di dunia dan kaya akan produktivitas biologis. Arus laut yang kuat membawa nutrien dari dasar laut ke permukaan, menarik banyak ikan pelagis besar seperti tuna, cakalang, hingga mamalia laut lainnya, yang menjadi bagian dari rantai makanan orca.
Dalam ekosistem laut, orca berperan sebagai predator puncak (apex predator). Mereka menjaga keseimbangan populasi mangsa dan memastikan dinamika rantai makanan berjalan seimbang. Ketika predator besar seperti orca hadir di suatu wilayah, itu sering kali menjadi indikator bahwa ekosistem laut di area tersebut masih berfungsi dengan baik.
Fakta Unik tentang Orca
Meski sering dijuluki killer whale, sebutan itu sebenarnya keliru. Orca tidak berbahaya bagi manusia di alam liar dan lebih tepat disebut “paus pemburu.” Nama “killer whale” berasal dari perilaku mereka yang berburu paus lain atau ikan besar secara berkelompok.
Yang membuat orca begitu menarik adalah kecerdasan sosialnya. Mereka hidup dalam kelompok keluarga yang disebut pods, dipimpin oleh seekor betina tua yang berperan sebagai pemimpin dan penjaga tradisi berburu. Setiap pod memiliki “dialek” suara dan strategi berburu yang berbeda, seolah-olah setiap kelompok memiliki budaya sendiri.
Studi ilmiah bahkan menunjukkan bahwa orca mampu meniru suara, mengenali diri di cermin, dan menunjukkan perilaku empati terhadap sesama. Semua ini menjadikan mereka salah satu hewan paling cerdas di planet ini. Keberadaan orca juga mengingatkan kita akan pentingnya menjaga laut dari ancaman pencemaran, penangkapan berlebih, dan kebisingan kapal yang dapat mengganggu navigasi akustik mamalia laut.
WWF-Indonesia bersama mitra lokal terus melakukan pemantauan ekosistem laut di kawasan ini, termasuk mendukung penelitian tentang keberadaan megafauna laut seperti paus, lumba-lumba, dan dugong. Data-data semacam ini sangat berharga untuk memastikan bahwa wilayah Maluku Barat Daya dapat tetap menjadi rumah yang aman bagi spesies laut besar.
Bagi tim ekspedisi di atas kapal Nusa Kembara, perjumpaan dengan orca di tengah laut biru Maluku Barat Daya bukan hanya momen kebetulan, melainkan pengingat akan keajaiban laut Indonesia yang masih menyimpan banyak misteri.
“Di antara luasnya samudra, kami merasa sangat kecil, tapi sekaligus sangat beruntung bisa menjadi saksi betapa megahnya kehidupan laut,” tutur Riski Erdana, salah satu anggota tim dengan mata berbinar.
Dan ketika laut kembali tenang dan kapal melanjutkan perjalanannya, semua yang ada di atas kapal tahu: mereka baru saja menyaksikan keajaiban yang akan mereka kenang seumur hidup.