WWF-INDONESIA DUKUNG WORKSHOP KAJIAN STOK IKAN KKP BERSAMA AKADEMISI DI SEMARANG
WWF-Indonesia turut mendukung kegiatan Workshop Stock Assessment Batch III yang diselenggarakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sebagai bagian dari upaya memperkuat implementasi kebijakan Penangkapan Ikan Terukur (PIT). Dukungan ini merupakan bentuk nyata kerja sama antara WWF dan Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap dalam memperkuat data dan informasi stok sumber daya ikan. Workshop yang berlangsung di Semarang pada 9–11 Juni 2025 ini diikuti oleh 33 calon Scientific Service Provider (SSP) dari berbagai perguruan tinggi yang diusulkan oleh Unit Pengelola Perikanan Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (UPP WPPNRI) 573, 711, dan 712.
Sebagai negara maritim dengan wilayah perairan seluas 16 juta kilometer persegi, Indonesia memiliki potensi sumber daya perikanan yang sangat besar. Pada tahun 2024, produksi perikanan tangkap laut Indonesia mencapai 7,3 juta ton, yang terdiri atas berbagai komoditas penting seperti tongkol, kakap, cakalang, tuna, dan lainnya (kkp.go.id). Besarnya potensi ini perlu diimbangi dengan pengelolaan yang mampu menjaga keberlanjutan sumber daya ikan agar tetap tersedia bagi generasi mendatang.
Sejalan dengan upaya tersebut, KKP terus memperkuat pengelolaan perikanan melalui penerapan kebijakan Penangkapan Ikan Terukur (PIT) sebagai bagian dari implementasi prinsip Blue Economy. Kebijakan ini membutuhkan data ilmiah yang akurat mengenai potensi sumber daya ikan, tingkat pemanfaatan, dan Jumlah Tangkapan yang Diperbolehkan (JTB) di setiap WPPNRI sebagai dasar bagi Komisi Nasional Pengkajian Sumber Daya Ikan (Komnas KAJISKAN) dalam menyusun rekomendasi ilmiah untuk penetapan estimasi potensi sumber daya ikan nasional.
Dalam prosesnya, Komnas KAJISKAN didukung oleh Scientific Service Provider (SSP), yaitu lembaga yang memiliki kompetensi dalam pengkajian stok ikan dan analisis data perikanan. Namun, jumlah SSP yang terverifikasi di Indonesia saat ini masih terbatas. Oleh karena itu, KKP menyelenggarakan Workshop Stock Assessment untuk memperluas jejaring SSP melalui keterlibatan perguruan tinggi dan lembaga riset. Melalui pembekalan metode pengkajian stok ikan yang terstandar, peserta calon SSP diharapkan mampu melakukan kajian secara mandiri, bersinergi, serta menghasilkan kajian yang lebih akurat sebagai dasar penyusunan rekomendasi ilmiah di wilayah kerjanya masing-masing.
Pada Workshop Stock Assessment Batch III, para calon SSP dibekali metodologi dan protokol pengkajian stok ikan sesuai standar Komnas KAJISKAN. Pembekalan ini ditujukan untuk mendukung pengkajian stok ikan di UPP WPPNRI 573, 711, dan 712 yang mencakup wilayah perairan di Samudra Hindia bagian selatan Jawa hingga Nusa Tenggara, Selat Karimata, Laut Natuna dan Laut Natuna Utara, serta Laut Jawa.
Workshop dibuka oleh Direktur Pengelolaan Sumber Daya Ikan (PSDI) KKP, Syahril Abd Raup, yang menegaskan pentingnya data ilmiah sebagai dasar pengelolaan sektor kelautan dan perikanan.
“Data dan informasi terkait stok sumber daya merupakan fondasi utama bagi pemerintah dalam menyusun dan menetapkan kebijakan sektor kelautan dan perikanan yang tepat sasaran," ujarnya.

Selama workshop berlangsung, peserta mendapatkan pembekalan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Komnas KAJISKAN. Prof. Indra Jaya, Ketua Komnas KAJISKAN, menjelaskan bahwa penerapan metode pengkajian stok ikan yang terstandar akan menghasilkan informasi yang lebih akurat untuk mendukung keberlanjutan sumber daya ikan di Indonesia.
Selain mendukung kebijakan PIT, hasil pengkajian stok ikan juga menjadi landasan dalam penetapan Jumlah Tangkapan yang Diperbolehkan (JTB) yang nantinya akan dialokasikan secara transparan melalui sistem kuota penangkapan ikan. Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan tata kelola perikanan yang berkeadilan sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem laut.

Workshop ini sejalan dengan komitmen WWF-Indonesia dalam mendorong kelangsungan produktivitas sumber daya hayati perairan yang berkelanjutan. Melihat tujuan baik dari kegiatan ini, Achmad Mustofa, Sustainable Fisheries and Aquaculture Lead WWF-Indonesia, menyampaikan apresiasinya terhadap penyelenggaraan workshop. Menurutnya, penguatan kapasitas nasional melalui peningkatan jumlah SSP menjadi investasi jangka panjang untuk mendukung pengelolaan sumber daya ikan yang berkelanjutan.
“WWF meyakini bahwa pengelolaan perikanan yang baik harus dibangun di atas fondasi ilmu pengetahuan yang kuat, data yang kredibel, serta proses pengambilan keputusan yang transparan dan berbasis bukti.” Ujarnya.
WWF-Indonesia berharap workshop ini tak hanya bermanfaat sebagai forum pembelajaran teknis, namun juga sebagai wadah dalam membangun jejaring kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, dan mitra organisasi dalam memperkuat tata kelola perikanan Indonesia. Melalui kolaborasi tersebut, diharapkan semakin banyak tenaga ahli yang mampu menghasilkan informasi ilmiah berkualitas untuk mendukung pengelolaan sumber daya ikan yang berkelanjutan.