KAJIAN RISIKO IKLIM: PILAR ADAPTASI UNTUK MASA DEPAN KATINGAN
Perubahan iklim bukan lagi sekadar isu global, melainkan telah menjadi kenyataan yang dirasakan langsung di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Dalam beberapa tahun terakhir, perubahan pola musim, meningkatnya frekuensi gagal panen, melonjaknya kasus demam berdarah, serta kejadian banjir yang semakin sering menunjukkan bagaimana perubahan iklim berdampak nyata terhadap kehidupan masyarakat dan kondisi lingkungan.
Beberapa peristiwa yang menjadi sorotan adalah banjir besar di Kalimantan Tengah pada tahun 2021 yang merendam 13 kecamatan hingga mendorong penetapan status tanggap darurat. Selain itu dampak iklim dan penerapan tata tanam yang kurang adaptif juga terlihat dalam bagaimana penurunan produktivitas hingga 2,5 ton dalam proses pengembangan Food Estate di Desa Belanti Siam yang menyebabkan hampir 90% petani gagal panen (Mongabay, 2021)
Hasil diskusi dan pemantauan lapangan menunjukkan bahwa sejumlah desa, khususnya di wilayah Pulau Malan dan Telaga, juga telah merasakan dampak perubahan iklim secara signifikan dalam lima tahun terakhir. Dampak tersebut antara lain:
- Petani durian mengalami gagal panen akibat musim yang semakin sulit diprediksi.
- Lahan pertanian menjadi kering dan tidak produktif.
- Banjir kini terjadi hingga 2–3 kali dalam setahun.
- Kualitas air tanah menurun, sehingga sumber air bersih semakin sulit diakses.
- Infrastruktur dasar, seperti gardu listrik, belum dirancang untuk menghadapi genangan air dalam waktu lama.
Dari total 154 desa di Kabupaten Katingan, tercatat 4 desa berada dalam kategori sangat rentan ekstrem, 40 desa sangat rentan, dan 83 desa berada pada tingkat kerentanan sedang.

Memahami situasi, awali kolaborasi
Di tengah kondisi anggaran daerah yang terbatas Dengan mayoritas wilayah Katingan yang merupakan tutupan hutan, Katingan menghadapi tantangan unik; yaitu bagaimana menjaga lingkungan dapat beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Potensi lokal seperti rotan, kratom, dan tanaman pangan tradisional bisa menjadi bagian dari solusi selama dikelola secara berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan iklim.
Melihat kondisi ini, Pemerintah Kabupaten Katingan melalui dukungan WWF-Indonesia dan para pemangku kepentingan lokal lainnya, mulai mengambil langkah nyata. Salah satu upaya utamanya adalah penyusunan kajian risiko iklim yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menilai tingkat kerentanan (dan risiko) serta kapasitas adaptif yang bermanfaat dalam perencanaan pembangunan daerah yang lebih tangguh di masa depan.
Kajian ini tidak hanya sekadar dokumen, akan tetapi diharapkan dapat diintegrasikan didalam dokumen perencanaan pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD). Andre Agus Natalius selaku Kepala Bidang Ekonomi, Sumber Daya Alam dan Infrastruktur dari Bappedalitbang Kabupaten Katingan percaya bahwa kajian ini akan menjadi salah satu acuan penting yang menjadi dasar dalam melakukan perancangan kebijakan dan program pembangunan, dari infrastruktur hingga pengelolaan sumber daya alam di Kabupaten Katingan.
Sinergi lintas sektor dan partisipasi aktif masyarakat agar wilayah Katingan bisa lebih siap menghadapi masa depan yang dipengaruhi perubahan iklim akan sangat diperlukan. Merangkul mitra yang selama ini bekerja dalam isu konservasi, kebencanaan dan lingkungan hidup seperti akademisi, NGO hingga mitra teknis dapat memperkuat implementasi di lapangan yang diharapkan dapat mendorong keberadaan aksi adaptasi yang efektif di setiap daerah.