MENUJU TRANSISI ENERGI BERKEADILAN: DIMULAINYA PILOT IMPLEMENTASI SAFEGUARD KEANEKARAGAMAN HAYATI DI PLTA KOTO PANJANG, RIAU
Pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) lahir dari kebutuhan akan energi yang menggerakkan kehidupan dan pembangunan ekonomi. Namun, di balik listrik yang tercipta, ada keseimbangan ekosistem yang turut menopangnya mulai dari hutan di hulu, aliran sungai, hingga keanekaragaman hayati yang menjaga stabilitas lanskap. Di sinilah peran safeguard menjadi penting: memastikan bahwa energi terbarukan tidak dibangun dengan mengorbankan fondasi ekologisnya sendiri.
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Koto Panjang telah dirancang sejak tahun 1979. Kehadirannya memanfaatkan aliran Sungai Batang Maek, membentang dari Kabupaten Lima Puluh Kota di Provinsi Sumatra Barat hingga bermuara ke Sungai Batang Kampar di Provinsi Riau. Lebih dari sekadar penyedia listrik, keberadaan PLTA ini turut membentuk dinamika kehidupan, baik bagi masyarakat yang bergantung pada sumber daya air, maupun bagi ekosistem yang menjadi penyangga operasionalnya. Namun, pertanyaan mendasar adalah: bagaimana memastikan semua ini berjalan selaras? Sebagai bagian dari upaya Indonesia mencapai target net zero emission, pengembangan energi terbarukan, seperti PLTA memang menjadi kebutuhan mendesak.
Dalam kerangka transisi energi berkeadilan, kita tidak hanya berbicara tentang pengurangan emisi, tetapi juga terkait aspek lain yang sama pentingnya, baik bagi manusia maupun lingkungan. Artinya, pembangunan infrastruktur energi mampu meminimalkan dampak sosial dan ekologis, serta menjadi bagian dari keberlanjutan sistem alam yang menjadi penopangnya. Dalam hal ini, operasional PLTA sangat bergantung pada kesehatan hutan, kualitas air, dan habitat di sekitarnya. Di sisi lainnya, PLTA juga berdampak pada ekosistem sungai dan kawasan pendukungnya apabila tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, penerapan biodiversity safeguard menjadi langkah penting untuk memastikan energi terbarukan tetap sejalan dengan perlindungan lanskap dan kehidupan masyarakat sekitar.

Melalui dukungan Uni Eropa, WWF-Indonesia menginisiasi pilot perlindungan keanekaragaman hayati di PLTA Koto Panjang dengan menggandeng PT PLN (Persero) serta Rimba Satwa Foundation sebagai mitra lokal yang akan berperan dalam implementasi di tingkat tapak. Kolaborasi ini dirancang sebagai ruang pembelajaran bersama untuk mengintegrasikan prinsip biodiversity safeguard ke dalam praktik pengelolaan energi terbarukan, dengan pendekatan yang kontekstual dengan kondisi setempat.
Rangkaian pilot ini dimulai pada 5 Februari 2026 melalui agenda kick-off yang mempertemukan antara WWF-Indonesia, Rimba Satwa Foundation, PT PLN (Persero), serta para pemangku kepentingan terkait di sekitar kawasan. Pertemuan ini menjadi titik awal menyelaraskan pemahaman dan membangun komitmen bersama bahwa perlindungan keanekaragaman hayati bukanlah sebatas agenda tambahan belaka, melainkan bagian yang melekat dalam pengelolaan PLTA yang berkeadilan.
Ke depan, rangkaian pilot berjalan melalui proses kolaboratif multipihak, mulai dari penyusunan rencana biodiversity safeguard yang sesuai dengan kondisi setempat hingga implementasi aksi nyata di lapangan. Peran Rimba Satwa Foundation menjadi strategis dalam menjembatani proses ini, terutama dalam memastikan suara para pemangku kepentingan, pengetahuan lokal, dan kebutuhan di tingkat tapak benar-benar terintegrasi ke dalam setiap tahapan pilot. Hal ini sejalan dengan semangat proyek Enabling Civil Society on Just Energy Transition ini, yang meyakini organisasi masyarakat sipil memegang peranan penting dalam pemerataan transisi energi di setiap lini.
Pada akhirnya, pilot ini diharapkan tidak hanya menghasilkan pembelajaran teknis, tetapi juga memperlihatkan bahwa masa depan energi tidak harus menjadi pilihan antara terang di rumah dan kelestarian alam. Keduanya dapat berjalan beriringan ketika transisi energi dirancang dengan mempertimbangkan keberlanjutan ekologis, keadilan sosial, dan kepemimpinan aktor-aktor lokal di lapangan.
