Strategi jangka benah dan regenerative agriculture adalah pendekatan restoratif untuk mentransformasi sistem produksi komoditas agar lebih berkelanjutan, tangguh terhadap perubahan iklim, serta inklusif dan berpihak pada kesejahteraan masyarakat dan pelestarian keanekaragaman hayati. Kedua pendekatan ini diterapkan di tingkat bentang alam (landscape) dan wilayah administrasi (jurisdiction) dengan melibatkan pemerintah, pelaku usaha, kelompok tani, dan masyarakat sipil secara kolaboratif. 

 

Strategi jangka benah difokuskan pada pengembalian fungsi kawasan hutan yang mengalami keterlanjuran perkebunan kelapa sawit, melalui pendekatan sosio-teknis dan kebijakan. Upaya ini dilakukan dengan menata kembali praktik pengelolaan kawasan hutan untuk menekan dampak ekologis, sekaligus mempertimbangkan kondisi sosial-ekonomi kelompok tani hutan yang bergantung pada kawasan hutan sebagai sumber penghidupan. Pendekatan jangka benah menempatkan penyelesaian konflik tenurial, penguatan kelembagaan kelompok tani hutan, serta dukungan kebijakan lintas sektor sebagai bagian integral dari upaya pemulihan fungsi hutan. 

 

Sejalan dengan itu, WWF Indonesia mendorong regenerative agriculture sebagai pendekatan pemulihan sistem produksi di lahan budidaya, dengan tujuan tidak hanya mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga memperbaiki kesehatan ekosistem dan meningkatkan ketahanan ekonomi smallholder. Praktik yang dikembangkan meliputi peningkatan kesehatan tanah, diversifikasi sistem pertanian seperti tumpangsari dan agroforestri, efisiensi penggunaan air dan input produksi, serta peningkatan kapasitas smallholder melalui pendampingan dan penguatan kelembagaan secara inklusif. 

 

Kedua pendekatan ini saling melengkapi dan terintegrasi dengan kerangka kebijakan, standar keberlanjutan, dan komitmen pasar, sehingga mendorong pemulihan ekosistem, peningkatan kesejahteraan smallholder, serta transformasi tata kelola komoditas menuju sistem produksi yang bertanggung jawab dan bebas deforestasi.