PERKUAT KESIAPSIAGAAN, PEMANGKU KEPENTINGAN DILATIH TANGANI PESUT TERDAMPAR
Kampung Pela, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur — 23 Oktober 2026. Sebanyak 33 peserta dari berbagai unsur mengikuti “Pelatihan Penanganan Pesut Terdampar dan Terlilit Jaring serta Panduan Wisata Pesut Berkelanjutan” pada 22–23 Oktober 2026.
Pelatihan ini diselenggarakan oleh Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) dan bertujuan untuk memperkuat jejaring penanganan darurat serta meningkatkan kapasitas sebagai first responder atau petugas tanggap pertama ketika menemukan pesut dalam kondisi darurat.

Partisipan pelatihan terdiri dari Tim Pantau RASI, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pela, Kepolisian Sektor (Polsek) Kota Bangun, Komando Rayon Militer (Koramil) Kota Bangun, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bangun, penyuluh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Kutai Kartanegara, Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Pontianak, serta Tim Area Konservasi Kelola Masyarakat (AKKM) Kahoi Lestari dari Kampung Minta.
Materi pelatihannya mencakup prosedur penanganan pesut hidup yang terdampar atau terlilit jaring, penanganan pesut mati, teknik dokumentasi dan pengukuran tubuh, serta pengenalan prosedur nekropsi, atau bedah mayat, untuk mendukung pengumpulan informasi mengenai penyebab kematian.

Meningkatkan Kemampuan Penanganan Darurat di Lapangan
Selama pelatihan, peserta memperoleh pengetahuan teknis melalui penyampaian materi dan simulasi situasi darurat. Dalam simulasi pembebasan pesut yang terlilit jaring rengge atau jaring insang (gill net), peserta mempelajari pentingnya kehati-hatian untuk mengurangi risiko cedera pada tubuh dan sirip pesut, serta kiat-kiat untuk menghindari tindakan yang dapat meningkatkan stres pada pesut.
Peserta juga diperkenalkan pada prinsip pertolongan terhadap pesut yang terdampar, termasuk menjaga kelembapan kulit dengan menggunakan kain basah, memastikan lubang pernapasan atau blowhole tetap bebas dari air dan lumpur, serta memahami cara menopang tubuh pesut dengan benar agar tidak menimbulkan tekanan yang membahayakan. Seluruh tindakan penanganan harus mengikuti arahan petugas atau ahli yang kompeten.
Selain aspek teknis, pelatihan ini menekankan pentingnya koordinasi lintas instansi dan komunikasi antardesa di sepanjang Sungai Mahakam. Jejaring respons yang terkoordinasi diharapkan dapat membantu masyarakat melaporkan kejadian dengan cepat dan memastikan penanganan dilakukan oleh pihak yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang sesuai.

Kepedulian Masyarakat Menjadi Kekuatan Konservasi
Salah satu peserta, Roni Irfan, anggota Tim AKKM Kahoi Lestari dari Kampung Minta, menyampaikan bahwa kepedulian terhadap kelestarian pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) menjadi motivasi utamanya untuk mengikuti pelatihan.
”Rasa cinta dan kekhawatiran terhadap kelestarian pesut Mahakam mendorong saya untuk belajar. Saya menyadari bahwa jaring rengge yang menjadi alat tangkap utama nelayan dapat secara tidak sengaja menjadi perangkap berbahaya bagi mamalia air langka ini,” ungkapnya.
Populasi pesut Mahakam diperkirakan tersisa kurang dari 70 individu, dan Daftar Merah IUCN menetapkan statusnya sebagai “Critically Endangered” (CR) atau ‘sangat terancam punah.’
Menurutnya, pengetahuan praktis sangat diperlukan agar masyarakat tidak kebingungan ketika menghadapi kejadian pesut terdampar atau terlilit jaring. Ia juga menilai simulasi memberikan pemahaman tentang tindakan yang harus dilakukan dan hal-hal yang perlu dihindari dalam situasi darurat.
Pelatihan ini mencerminkan pentingnya melibatkan masyarakat yang hidup berdampingan dengan Sungai Mahakam dalam upaya konservasi. Nelayan, relawan muda, kelompok masyarakat, dan aparat setempat dapat menjadi bagian penting dari jejaring pelaporan dan respons awal, tanpa mengabaikan keselamatan manusia maupun satwa.

Konservasi Pesut Mahakam Berawal dari Sungai yang Sehat
Selain wawasan praktis, pelatihan ini juga memperkuat pemahaman bahwa perlindungan pesut Mahakam tidak hanya bergantung pada penanganan saat terjadi keadaan darurat, tetapi juga membutuhkan upaya pencegahan dan pengelolaan habitat secara berkelanjutan.
“Pelestarian populasi dan konservasi habitat pesut di Sungai Mahakam memerlukan kolaborasi erat yang mampu menyelenggarakan beragam upaya, mulai dari advokasi dan penegakan kebijakan berbasis ilmiah, pengelolaan kolaboratif kawasan inti mulai dari Kutai Kartanegara hingga kawasan-kawasan penyangganya di Kutai Barat, mendorong praktik perikanan berkelanjutan, hingga kepada restorasi hutan bantaran sungai dan hutan rawa gambut,” tegas Sri Jimmy Kustini, Mahakam-Kayan Project Leader dari WWF-Indonesia.
Masyarakat dengan dukungan dari Yayasan Konservasi RASI bersama WWF-Indonesia sedang mengembangkan Other Effective Area-based Conservation Measure atau OECM, yaitu sebuah kawasan yang dikelola untuk tujuan-tujuan konservasi namun berada di luar kawasan konservasi perairan.
Di Sungai Mahakam, OECM sedang dikembangkan di perairan Kecamatan Muara Pahu dan Penyinggahan, Kabupaten Kutai Barat. OECM ini, bersama-sama dengan Kawasan Konservasi di Perairan (KKP) Mahakam Wilayah Hulu yang dikelola oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 49 Tahun 2022), diharapkan mampu memperluas wilayah konservasi sekaligus meningkatkan efektivitas perlindungan populasi dan habitat pesut Mahakam.
Al-Hadid, peserta dari Kampung Minta yang mendapatkan pendampingan WWF-Indonesia, merenungkan upaya konservasi habitat pesut Mahakam melalui pengelolaan sampah, serta menyoroti keterkaitan antara kesehatan sungai dan kelangsungan hidup pesut. Melalui kegiatan bank sampah dan edukasi pemilahan sampah, masyarakat didorong untuk tidak membuang sampah ke Sungai Mahakam.

Sampah yang masuk ke sungai dapat mencemari habitat dan menimbulkan risiko bagi satwa air. Plastik yang terurai menjadi mikroplastik juga menjadi perhatian dalam upaya menjaga kualitas ekosistem perairan, meskipun dampak spesifiknya terhadap individu Pesut Mahakam masih memerlukan kajian ilmiah lebih lanjut.
”Selama ini saya khawatir ketika mendengar ada pesut yang terlilit rengge. Saya ingin menolong, tetapi bingung bagaimana melakukannya dengan benar. Setelah mengikuti simulasi, saya mendapat pengetahuan baru tentang pentingnya penanganan yang tepat dan tindakan yang harus dihindari,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pengalaman mengikuti pelatihan menjadi salah satu bagian paling berkesan karena menumbuhkan kepedulian terhadap mamalia air penghuni Sungai Mahakam tersebut.

Mendorong Wisata Pesut yang Bertanggung Jawab
Melalui materi panduan wisata pesut berkelanjutan, kegiatan ini turut menegaskan pentingnya praktik wisata yang mengutamakan keselamatan satwa dan menghormati perilaku alaminya. Wisatawan, pemandu, operator perahu, dan masyarakat perlu memahami pentingnya menjaga jarak aman, menghindari pengejaran atau gangguan terhadap pesut, serta tidak mengganggu induk dan anak pesut.
Pendekatan wisata yang bertanggung jawab diharapkan dapat mendukung mata pencaharian masyarakat setempat sekaligus menjaga kualitas habitat dan keberlangsungan populasi pesut Mahakam.
Danielle Kreb, pelatih yang juga merupakan salah satu pendiri sekaligus Scientific Program Leader dari Yayasan RASI berharap pelatihan ini menjadi langkah konkret untuk membangun kesiapsiagaan bersama, memperkuat koordinasi antarpihak, serta meningkatkan peran masyarakat sebagai mitra dalam melindungi keanekaragaman hayati Sungai Mahakam.
Perlindungan pesut Mahakam membutuhkan keterlibatan semua pihak. Respons yang tepat saat terjadi keadaan darurat, praktik perikanan yang lebih aman, wisata yang bertanggung jawab, dan kebiasaan tidak membuang sampah ke sungai merupakan bagian dari upaya bersama untuk menjaga warisan keanekaragaman hayati Kalimantan Timur.