MENGINTIP KEHIDUPAN LAUT ROMANG-DAMER DENGAN BAITED REMOTE UNDERWATER VIDEO (BRUV)
Dalam penelitian ekosistem laut, data tentang keberadaan dan perilaku ikan besar, hiu, pari, dan predator lainnya sering sulit dikumpulkan, terutama di kawasan terpencil seperti Romang-Damer, Maluku Barat Daya. Untuk itu, tim spesies WWF-Indonesia melakukan ekspedisi di Oktober 2025, menggabungkan pemantauan tradisional dan teknologi non-invasif dengan menggunakan BRUV. Metode ini memungkinkan peneliti merekam kehidupan bawah laut secara pasif, memberikan gambaran siapa yang “datang” kalau ada umpan, tanpa mengganggu habitat secara langsung.
Apa itu BRUV dan mengapa dipilih?
BRUV adalah rangka logam yang dipasangi kamera (biasanya action camera atau kamera bawah air lain) dan umpan yang ditempatkan pada jarak tertentu dari kamera. Perangkat ditenggelamkan ke dasar laut lalu direkam selama periode tertentu (misalnya 60-90 menit). Dari rekaman itu, peneliti dapat menghitung frekuensi munculnya spesies, memperkirakan kelimpahan relatif, dan mempelajari perilaku pemangsa atau ikan komersial yang sensitif terhadap kehadiran penyelam. Metode ini aman bagi ekosistem karena tidak memerlukan pancing aktif atau interaksi manusia di dalam air.
WWF-Indonesia telah memasukkan BRUV sebagai salah satu metode utama dalam pemantauan hewan laut dan memanfaatkan hasilnya dalam membantu pengelolaan hiu, pari, dan komunitas ikan besar lainnya. Penggunaan BRUV menjadikan data pemantauan hewan laut lebih terstandarisasi sehingga hasilnya dapat dibandingkan antar-lokasi dan waktu.

Peran tim spesies di lapangan
Di ekspedisi Romang-Damer, tim spesies terdiri dari peneliti laut, pengamat spesies (marine mammals observers), pilot drone. Peneliti bertugas menyiapkan, menurunkan, mengangkat serta mengamati hasil dokumentasi BRUV. Prosedurnya meliputi: memilih lokasi berdasarkan habitat dan kedalaman memakai alat pendeteksi kedalaman, menyiapkan umpan standar misalnya ikan sardin atau tongkol, menempatkan BRUV pada koordinat GPS yang tercatat, lalu menunggu dan merekam selama durasi yang telah disepakati. Setelah pengambilan, video dianalisis oleh tim spesies untuk mencatat spesies yang muncul dan mendeskripsikan perilaku yang terlihat.
Pilot drone dan observer juga melakukan pemantauan spesies dari udara dengan metode terbang selama 30 menit dengan harapan bisa mendeteksi keberadaan mamalia laut yang ada di area tersebut.
Temuan dan manfaat untuk konservasi lokal
Menerapkan BRUV di perairan Romang-Damer memberikan beberapa manfaat penting. Pertama, alat ini membantu memetakan distribusi predator besar dan ikan komersial di area yang sebelumnya sedikit terdata, informasi penting untuk merancang zona perlindungan dan aturan penangkapan. Kedua, rekaman BRUV menjadi bukti visual yang kuat untuk dialog dengan masyarakat dan pembuat kebijakan: gambar hiu, pari, atau kawanan ikan besar lebih mudah dimengerti daripada sekadar angka statistik. Ketiga, metode ini cocok untuk wilayah terpencil karena perangkat relatif sederhana, tidak memerlukan penyelam khusus selama perekaman, dan dapat dioperasikan bersama komunitas lokal.
Secara ilmiah, BRUV juga efisien untuk mendeteksi spesies yang takut pada penyelam atau aktif di waktu tertentu. Studi-studi internasional menegaskan bahwa BRUV memberikan data andal pada struktur komunitas predator dan keanekaragaman, jika desain sampling (jumlah drop, durasi, jenis umpan) disusun dengan baik.
Data BRUV tidak berdiri sendiri, tim WWF-Indonesia mengaitkannya dengan survei terumbu karang, lamun, dan mangrove untuk membangun gambaran ekosistem yang holistik. Misalnya, keberadaan predator besar di area tertentu dapat dikaitkan dengan tutupan karang yang baik atau keberadaan padang lamun yang subur. Hasil gabungan ini membantu menetapkan prioritas lokasi untuk konservasi, restorasi habitat, dan kampanye pendidikan laut bagi masyarakat pesisir.

Tantangan dan langkah ke depan
Walau efektif, BRUV juga punya keterbatasan, hasilnya dipengaruhi oleh arus, visibilitas, dan jenis umpan serta tidak selalu mewakili semua jenis ikan (misalnya hewan herbivora pasif mungkin tidak tertarik pada umpan). Oleh karena itu, tim spesies mengombinasikan BRUV dengan metode lain (UVC, transek benthic) untuk mendapatkan dataset yang lebih lengkap. WWF-Indonesia menekankan pentingnya standar protokol dan pelatihan agar data dapat dipakai untuk pemantauan jangka panjang dan kebijakan pengelolaan laut.
BRUV membuka “mata” baru bagi penelitian di Romang-Damer, sebuah jendela pasif yang merekam siapa saja yang datang makan, berkeliaran, atau bertugas menjaga ekosistem laut. Dengan dukungan komunitas dan pendekatan berbasis sains, data BRUV membantu mengubah video menjadi kebijakan dan pelestarian nyata bagi laut Maluku Barat Daya.