ANAK-ANAK HARI INI AKAN MEWARISI LAUT YANG BERBEDA. APA BEKAL MEREKA?
Bali, 7 Juni 2026: Perubahan iklim seringkali hanya dibahas dari sisi angka, laporan ilmiah, atau proyeksi jangka panjang. Namun bagi generasi yang akan hidup paling lama dengan dampaknya ini, rasanya hal yang lebih penting saat ini adalah bagaimana mereka memahami masalah ini sejak dini.
Pertanyaan itu menjadi dasar kolaborasi antara Program Sekolah Pantai Indonesia dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Sekolah Cerdas Iklim dari Save the Children Indonesia dalam sesi “Sekolah Pantai Indonesia x Sekolah Cerdas Iklim” pada World Ocean Day dan Coral Triangle Day 2026 di Bali yang diinisiasi oleh WWF-Indonesia bersama KKP.
Melalui berbagai permainan dan aktivitas interaktif di Stage Mangrove, anak-anak diajak mengenal laut Indonesia sekaligus memahami tantangan yang sedang dihadapi ekosistem pesisir. Mulai dari perubahan iklim, sampah laut, hingga peran mangrove, lamun, dan terumbu karang dalam menjaga kesehatan laut.
Mewakili Direktur Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil KKP, Kak Fina mengingatkan bahwa Indonesia merupakan negara maritim dengan sekitar 70 persen wilayahnya berupa laut. Laut tersebut menjadi rumah bagi berbagai ekosistem penting yang menopang kehidupan masyarakat pesisir maupun masyarakat secara luas.
Namun perubahan iklim memberikan tekanan yang semakin nyata terhadap ekosistem tersebut. "Indonesia itu luas lautannya adalah 70% dan daratan 30%. Tetapi dengan ekosistem kita pada saat ini, kalau kita lihat sudah mulai banyak yang mengalami kerusakan. Akibat suhu semakin panas, cuaca tidak menentu, sehingga laut kita juga mulai rusak," ujarnya.
Melalui pendekatan yang disesuaikan dengan usia anak, peserta diajak memahami bahwa menjaga laut sangat bisa dimulai dari kebiasaan sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya, mengurangi sampah plastik, dan berbagi pengetahuan kepada keluarga maupun teman.
Kolaborasi antara WWF-Indonesia, Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan Sekolah Cerdas Iklim dari Save the Children Indonesia, sesi ini melengkapi pendekatan edukasi konservasi yang selama ini sudah WWF-Indonesia upayakan untuk mengedukasi anak-anak secara langsung terlibat dan mengenal lingkungan melalui aspek paling dasar dari sisi ekologi nya. Seperti yang pernah dilakukan dengan salah satu mitra lain di Sanur Bali 2 tahun sebelumnya, WWF-Indonesia menggunakan konsep edutainment yang rasanya sangat efektif untuk diterapkan kepada anak-anak. selain mengenalkan fungsi ekosistem pesisir melalui materi pembelajaran, peserta juga diajak terlibat langsung dalam berbagai aktivitas, seperti menanam mangrove, melepasliarkan tukik, dan menuliskan cerita tentang apa yang mereka alami selama mengikuti kegiatan. Keterlibatan langsung tersebut membantu anak menghubungkan materi yang dipelajari dengan kondisi yang mereka lihat dan lakukan sendiri. Pendekatan ini dipadukan dengan metode pembelajaran yang aman dan ramah anak sehingga peserta dapat mengikuti setiap kegiatan dengan nyaman. Melalui rangkaian kegiatan tersebut, anak tidak hanya mengenal ekosistem pesisir, tetapi juga memahami hubungan antara manusia dan alam sejak usia dini.
Sebenarnya, harapannya sederhana, yaitu semakin dini anak memahami hubungan antara manusia dan alam melalui pengalaman nyata, semakin besar juga peluang tumbuhnya kepedulian yang akan mereka bawa hingga dewasa.
Selain membahas lingkungan, di sesi ini juga menempatkan keselamatan anak sebagai prioritas utama. Kak Dila, menjelaskan bahwa seluruh kegiatan di Stage Mangrove menerapkan kebijakan safeguarding untuk memastikan anak-anak dapat belajar dan berpartisipasi dalam suasana yang aman, nyaman, dan inklusif.
"Segala bentuk kekerasan dalam bentuk apa pun tidak diperkenankan dalam kegiatan ini. Jadi nanti teman-teman, jika melihat atau merasa tidak aman dan nyaman, teman-teman bisa melapor kepada kami," jelasnya.
Salah satu hal yang diperkenalkan kepada peserta adalah pentingnya melindungi identitas anak di ruang publik dan media sosial. Tiga informasi yang selalu perlu dijaga, yaitu nama, lokasi, dan wajah anak. Ketiga unsur tersebut dapat meningkatkan risiko apabila disebarluaskan tanpa pertimbangan keamanan yang memadai.
Pembelajaran di Stage Mangrove dikemas melalui lima pos permainan yang membahas berbagai isu pesisir dan perubahan iklim. Anak-anak mengikuti permainan ular tangga perubahan iklim, mengenal persoalan sampah plastik di pesisir, mempelajari fungsi lamun dan mangrove melalui kartu interaktif, merancang solusi adaptasi perubahan iklim menggunakan lego, serta memahami konsep daur ulang melalui berbagai aktivitas kreatif.
Melalui kolaborasi ini, Sekolah Pantai Indonesia dan Sekolah Cerdas Iklim menunjukkan bahwa edukasi lingkungan dapat dimulai sejak usia dini dengan cara yang menyenangkan sekaligus relevan dengan tantangan yang akan dihadapi generasi mendatang. Karena pada akhirnya, laut yang sehat di masa depan akan sangat bergantung pada seberapa dini generasi hari ini memahami cara menjaganya.