BAGAIMANA TINGKAT KEMATANGAN GONAD IKAN BISA MEMBANTU STOK PERIKANAN DI MASA DEPAN?
Tak hanya mengetahui di mana ikan ditangkap, memahami kapan ikan telah mencapai usia "dewasa" juga menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan stok ikan di laut. Bayangkan jika nelayan terus menangkap ikan sebelum mencapai fase reproduksinya , atau dalam istilah biologi disebut belum matang gonad. Gonad adalah organ reproduksi ikan, yaitu tempat telur pada ikan betina dan sperma pada ikan jantan diproduksi dan berkembang. Tentu ikan-ikan tersebut belum memiliki kesempatan untuk berkembang biak dan menghasilkan generasi baru. Jika kondisi ini terus berlangsung , jumlah ikan yang mampu bereproduksi akan semakin berkurang. Pada akhirnya, kemampuan stok ikan untuk memperbarui populasinya secara alami pun ikut menurun.
Lalu, Bagaimana cara mengetahui apakah seekor ikan sudah siap bereproduksi? Salah satu metode yang digunakan adalah pengamatan morfologis. Setiap sampel ikan diukur panjang dan beratnya, kemudian dibedah untuk diamati kondisi gonadnya. Karakteristik gonad tersebut dicocokkan dengan pedoman tingkat kematangan gonad yang disusun khusus untuk setiap jenis ikan. Dari ratusan hingga ribuan sampel, peneliti kemudian menganalisis hubungan antara ukuran tubuh ikan dengan tingkat kematangan gonad untuk memperkirakan ukuran saat sebagian besar ikan mulai siap memijah.

Informasi inilah yang menjadikan data tingkat kematangan gonad (TKG) sebagai salah satu data biologis penting dalam pengelolaan perikanan. Data ini digunakan untuk menentukan ukuran ikan saat pertama kali matang gonad (Length at first maturity atau Lm). Informasi tersebut kemudian menjadi salah satu parameter penting untuk menghitung Spawning Potential Ratio (SPR), terutama melalui metode Length-Based SPR. Sederhananya, SPR membantu peneliti memperkirakan seberapa besar kemampuan populasi ikan yang tersisa di alam untuk menghasilkan generasi berikutnya. Semakin banyak ikan dewasa yang masih dapat bereproduksi, semakin besar pula peluang populasi ikan untuk terus berkembang dan tetap lestari.Pendekatan ini telah dilakukan oleh WWF-Indonesia bersama PT Matsyaraja Arnawa Stambhapura (PT MAS), perusahaan perikanan tangkap asal Kupang yang memasok produk laut seperti kakap, dan kerapu ke pasar domestik maupun internasional. Sejak bergabung sebagai anggota Seafood Savers pada 2019, PT MAS menjalankan Fisheries Improvement Program (FIP) untuk mendorong praktik perikanan yang berkelanjutan sesuai standar ekolabel Marine Stewardship Council (MSC).
Sebagai tindak lanjut rekomendasi perbaikan perikanan, WWF-Indonesia dan PT MAS mengumpulkan data Tingkat Kematangan Gonad (TKG) pada Mei hingga Oktober 2024 guna memperkuat analisis stok serta mendukung implementasi Rencana Pengelolaan Perikanan (RPP) Kakap dan Kerapu di Laut Timor. Pengumpulan data TKG ini difokuskan pada tiga spesies target ikan demersal, yaitu kakap merah (Lutjanus malabaricus), kakap bongkok (Lutjanus sebae), dan kakap anggoli (Pristipomoides multidens). Spesies ini secara nasional menempati peringkat kelima produksi perikanan tangkap Indonesia dengan total mencapai 385.199 ton pada 2024 (kkp.go.id).

pada November 2023 yang diisi oleh Kamaludin Kasim dari KKP sebagai salah satu narasumber
Selama proses pendampingan, WWF-Indonesia memfasilitasi nelayan di Kupang melalui pelatihan pendataan dan identifikasi tingkat kematangan gonad (TKG) serta mendampingi pengumpulan data di lapangan. Data yang terkumpul selama enam bulan kemudian dianalisis menggunakan metode Length-Based Spawning Potential Ratio (LB-SPR). Hasil yang didapat kemudian didiseminasikan kepada Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Nusa Tenggara Timur pada Juni 2025 serta Kementerian Kelautan dan Perikanan pada September 2025.
Analisis terhadap total 4.198 sampel ikan menunjukkan bahwa ukuran pertama kali matang gonad (Lm) kakap merah, kakap bongkok, dan anggoli di Laut Timor masing-masing adalah 44,5 cm, 46,8 cm, dan 46,7 cm. Pada ketiga spesies tersebut, lebih dari 60% ikan yang tertangkap oleh PT MAS telah berukuran di atas nilai Lm. Meski demikian, nilai Spawning Potential Ratio (SPR) ketiga spesies masih berada di bawah target pengelolaan berkelanjutan (40%), yaitu 23% pada kakap merah, 15% pada kakap bongkok, dan hanya 6% pada anggoli. Temuan ini mengindikasikan tingginya tekanan penangkapan dan perlunya upaya pemulihan stok, terutama pada anggoli yang telah mengalami overfishing berat.
“Informasi ini diharapkan dapat mendorong para pemangku kepentingan dalam merumuskan langkah-langkah perlindungan dan mengelola perikanan berbasis data, seperti penetapan ukuran tangkap minimum,” ujar Irvan Ahmad Fikri, Capture Fisheries Program Manager.

Data TKG yang dikumpulkan melalui kolaborasi ini tidak hanya dimanfaatkan untuk mendukung pengelolaan perikanan di Laut Timor, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan melalui publikasi artikel ilmiah bereputasi Q1 yang berjudul “Oceanic Environmental Variability and Fishing Effort Reallocation in Data-Constrained Small-Scale Fishery”. Artikel ini disusun oleh WWF-Indonesia bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan PT MAS.
“Ini adalah sebuah kebanggaan bagi kami,” ujar Breva Rizqi, General Manager PT MAS. “Kami berharap publikasi ini tidak hanya menjadi capaian akademis, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi penguatan pengelolaan perikanan, khususnya di Laut Timor”
Pada akhirnya, data TKG akan membantu peneliti untuk mengetahui waktu pemijahan ikan. Informasi ini menjadi fondasi penting untuk merumuskan kebijakan perikanan seperti menetapkan ukuran minimum ikan yang boleh ditangkap, melindungi daerah dan musim pemijahan, serta mengendalikan upaya dan mortalitas penangkapan. Dengan demikian, lebih banyak ikan memiliki kesempatan untuk bereproduksi sebelum tertangkap sehingga stok perikanan dapat terus terjaga di masa depan.