MENGAPA MASYARAKAT TELUK SALEH KINI LEBIH DEKAT DENGAN HIU PAUS?
Tidak banyak kawasan di Indonesia yang menjadi habitat hiu paus sepanjang tahun. Teluk Saleh di perairan Pulau Sumbawa merupakan salah satunya. Perairan ini menyediakan sumber makanan yang melimpah sekaligus berfungsi sebagai kawasan pembesaran bagi hiu paus pada fase awal kehidupannya. Peran strategis kawasan Teluk Saleh tersebut menjadi pembahasan dalam talkshow “FOMO-in: Whale Shark Learning Center di Teluk Saleh”, yang merupakan bagian dari rangkaian World Ocean Day & Coral Triangle Day 2026 yang diinisiasi WWF-Indonesia bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Iqbal Herwata menjelaskan bahwa Teluk Saleh merupakan habitat penting bagi hiu paus karena menyediakan sumber makanan yang melimpah, terutama bagi hiu paus remaja jantan. Kawasan ini juga diketahui menjadi tempat pembesaran hiu paus, menjadikannya salah satu lokasi yang memiliki nilai penting bagi siklus hidup spesies tersebut. Bersama Teluk Cenderawasih, Teluk Saleh termasuk kawasan yang menjadi habitat hiu paus sepanjang tahun.
Berbagai penelitian yang dilakukan di Teluk Saleh turut memperkuat pentingnya kawasan ini. Melalui program satellite tagging, lebih dari 25 hiu paus telah dipantau pergerakannya dan sebagian besar tetap menunjukkan keterikatan dengan kawasan Teluk Saleh. Penelitian juga mencatat keberadaan hiu paus yang menetap hingga sembilan tahun di lokasi tersebut. Temuan menarik lainnya adalah ditemukannya hiu paus berukuran sekitar dua meter, yang menjadi salah satu catatan penting dalam upaya memahami fase awal kehidupan hiu paus.
Meskipun memiliki nilai ekologis yang tinggi, hubungan antara manusia dan hiu paus tidak selalu berjalan baik. Pada masa lalu, sebagian nelayan menganggap hiu paus sebagai pengganggu karena keberadaannya dinilai mempengaruhi hasil tangkapan. Akibatnya, beberapa hiu paus mengalami luka akibat tindakan nelayan. Salah satu individu bahkan dikenal memiliki luka permanen pada bagian tubuhnya akibat insiden tersebut.
Menurut Iqbal, kondisi tersebut mulai berubah seiring meningkatnya pemahaman masyarakat mengenai hiu paus dan manfaat yang dapat dihasilkan melalui kegiatan edukasi serta ekowisata. Kesadaran yang tumbuh di tingkat masyarakat menjadi salah satu faktor yang mendukung upaya konservasi di Teluk Saleh.
Peran edukasi juga diperkuat melalui pendirian Whale Shark Learning Center di Desa Labuan Jambu. Umi Nurdianti menjelaskan bahwa fasilitas tersebut dibangun untuk menjadi pusat pembelajaran mengenai hiu paus, terutama karena banyak lokasi kemunculan hiu paus berada di luar kawasan konservasi. Learning Center diharapkan menjadi titik awal bagi masyarakat, pelajar, peneliti, dan wisatawan yang ingin memahami hiu paus secara lebih mendalam.
Berbagai fasilitas tersedia di dalam Learning Center, termasuk fun fact wall, historical wall dengan teknologi virtual reality, interactive hub yang memuat informasi penelitian dan data tagging, serta reading corner yang dapat dimanfaatkan pengunjung untuk memperdalam pengetahuan mengenai hiu paus. Learning Center juga menyediakan informasi mengenai peluang beasiswa dan penelitian yang berkaitan dengan hiu paus.
Diskusi turut menyinggung perkembangan ekowisata hiu paus di Teluk Saleh. Berdasarkan penjelasan narasumber, aktivitas wisata telah diatur melalui sejumlah ketentuan yang membatasi interaksi dengan hiu paus. Namun, pelanggaran aturan masih ditemukan sehingga praktik ekowisata yang berjalan saat ini belum sepenuhnya memenuhi standar etika yang diharapkan.
Melalui berbagai penelitian, program edukasi, dan keterlibatan masyarakat, Teluk Saleh menunjukkan peran penting dalam upaya konservasi hiu paus di Indonesia. Pembahasan dalam sesi ini juga menegaskan bahwa menjaga Teluk Saleh berarti menjaga habitat yang mendukung kehidupan hiu paus sepanjang tahun. Karena itu, penguatan edukasi, pengelolaan wisata yang bertanggung jawab, serta perlindungan ekosistem Teluk Saleh menjadi bagian penting dalam mendukung keberlanjutan spesies tersebut di masa mendatang.