MENGENAL KOPI GESTE YANG TERSEMBUNYI DI TANAH GAYO
Dalam rangka membantu mendorong perekonomian masyarakat di lanskap Peusangan Aceh, sejak tahun 2025 WWF-Indonesia dalam program Peusangan Elephant Conservation Initiative (PECI) membangun demplot agroforestri di beberapa daerah yang rawan terdampak oleh konflik gajah dan manusia. Dari 12 desa yang direncanakan untuk bekerja sama, saat ini program sudah berjalan di 6 desa yaitu Karang Ampar, Bergang, Pantanlah, Blangrakal, Salah Sirong Jaya, dan Pantan Reduk. Melibatkan lebih dari 150 petani, di desa-desa ini ada beberapa komoditas yang dikembangkan, salah satunya kopi sebagai komoditas utama.
Kenapa menjadi komoditas utama? Karena kopi bukan termasuk pakan gajah, jadi diharapkan dengan menanam kopi, dampak kerugian yang berpotensi terjadi jika suatu saat gajah masuk ke kawasan perkebunan masyarakat dapat ditekan. Jenis kopi yang dibudayakan merupakan kopi Robusta Lampung yang juga dijual di toko WWF-Indonesia, dengan merk kopi Singkite.
Namun apakah kamu tahu kalau ada varietas kopi robusta lainnya dari Tanah Gayo yang sekarang jarang bisa ditemui?
Kopi ini bernama Kopi Geste dari Desa Karang Ampar dan Desa Bergang, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah. Di daerah asalnya, kopi ini dikenal oleh warga desa dengan beberapa panggilan lain, seperti Kopi Kucak atau Kopi Negara. Secara fisik, kopi Geste umumnya memiliki ukuran biji yang kecil dan bulat, dengan warna yang pucat dan bergaris di tengah. Jika digenggam, biji kopi Geste terasa padat. Tidak seperti kopi Robusta Lampung yang biji kopinya cenderung lebih besar. Walaupun berbatang kecil, pohon kopinya menjulang tinggi lalu melengkung ke bawah. Karena tingginya bisa mencapai 4 meter, biasanya batang pohon dipangkas oleh petani untuk mempermudah panen, menjadi sekitar 2 meter saja. Pohon kopi Geste cukup kuat dan tahan dari hama; dikenal bisa tumbuh di berbagai tipe dataran, yang rendah hingga menengah. Dedaunannya terdiri dari beragam nuansa warna hijau, berbentuk oval lebar dan tebal.

Menurut Ketua Kelompok Perempuan Singkite Bergang, Halimatusakdiah, di masa lalu kopi Geste lebih sering dikonsumsi dibandingkan kopi lain karena dirasa bisa menghilangkan kantuk dengan lebih efektif. Namun saat ini, sudah tak banyak lagi yang mempertahankan kopi Geste di kebun mereka, hanya tersisa beberapa petani saja yang masih menanam. Walaupun terbilang jarang, masih ada permintaan khusus pembeli untuk kopi Geste. Budidaya kopi sudah begeser ke kopi Robusta Lampung karena dianggap lebih menguntungkan.
Kopi Geste memiliki rasa yang sangat pekat dan pahit, tapi tidak terlalu asam jika dibandingkan dengan kopi Robusta yang cenderung lebih kompleks. Tingkat keasaman kopi Geste terbilang rendah sehingga lebih aman dikonsumsi untuk lambung dan memberi sensasi rasa yang tertinggal di mulut. Walaupun kurang asam, kandungan kafein kopi Geste lebih tinggi daripada Robusta Lampung. Ketika dihirup, kopi Geste memiliki aroma yang segar dan kuat, dideskripsikan seperti wangi kacang yang disangrai dan cokelat yang manis. Menurut warga, aroma kopi Geste cukup menonjol dan mudah dikenali.
Sayangnya, saat ini budidaya Kopi Geste sudah tidak seperti dulu lagi. Buahnya tumbuh tak selebat dedaunannya. Faktor itulah yang membuat Kopi Geste tersingkir oleh varietas kopi lainnya di Aceh yang budidayanya lebih mudah dan bisa menghasilkan banyak buah.
“Kopi Lampung buahnya lebih besar dan banyak, jadi setiap panen akan lebih banyak hasilnya dibanding Geste,” ungkap Diah.
Sariman, petani kopi yang sekaligus agen pengepul kopi di Karang Ampar mengatakan bahwa sebetulnya masih banyak yang mencari kopi Geste, namun kelangkaannya membuat persediaan kopi jadi sangat terbatas. Harganya juga lebih mahal sekitar Rp 6.000 dibanding kopi Lampung.

“Tapi karena kopi Geste ini buahnya jarang, akhirnya petani mencampurnya dengan kopi Lampung saat dijual. Lagi pula, kopi Geste berbuah bisa setahun sekali. Itu yang membuat masyarakat tidak sabar,” katanya.
Menanam kopi Geste juga rumit. Petani tidak bisa menggunakan herbisida dan pestisida. Panennya juga tidak menentu, bisa jadi tidak berbuah selamanya. Namun kopi ini bisa ditemukan di hutan di pegunungan karena buahnya dimakan burung dan bijinya disebar kemana-mana.
Inilah yang membuat keberadaan kopi Geste menjadi terancam. Jika semakin sedikit masyarakat yang meneruskan budidaya kopi Geste, maka kopi ini akan semakin sulit ditemukan. Jangan sampai kopi khas Karang Ampar dan Bergang yang berasa kuat dan membuat mata melek seketika ini jadi sekedar cerita rakyat.