SEBANGAU-KATINGAN KOLABORASI SIAP SIAGA KARHUTLA
Matahari mulai condong ke barat ketika kami selesai membagi dan memuat bahan makanan, perlengkapan kegiatan dan tas-tas pakaian ke dalam tiga unit perahu mesin bertenaga 25 PK.
Bentuk perahu memang dirancang sedemikian rupa sehingga mampu mengarungi karakter sungai ini yang membutuhkan pembagian berat yang cermat agar perjalanan tetap nyaman, perahu tetap laju dan, keselamatan seluruh penumpang tetap menjadi prioritas.

Satu per satu, perahu melepas tambat dari Dermaga Kereng Bangkirai di Palangka Raya. Masing-masing motoris mengarahkan perahu ke selatan. “Paling cepat dua jam perjalanan,” jawab Irwan Matsyah, Bengo Project Coordinator WWF-Indonesia.
Siang itu, tim dari Balai Taman Nasional (TN) Sebangau, Dinas Kehutanan (Dishut) Kalimantan Tengah selaku pengelola Taman Hutan Rakyat (Tahura) Isin Mulang Sebangau Berkah, Kepolisian Sektor (Polsek) Sebangau Kuala, bersama mitra pemerintah, WWF-Indonesia Lembaga Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat (eLPaM), serta Tropical Forest and Land Conservation (TFLC), bertolak menuju Kantor Resor Mangkok, TN Sebangau.
Selain kegiatan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Sebangau pada tanggal 2 Mei, kegiatan serupa akan diselenggarakan dengan fokus pada DAS Katingan pada tanggal 18 Juni. Keduanya merupakan upaya untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan mitra pembangunan dalam kesiapsiagaan menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Matahari sudah hampir tenggelam ketika kami bertambat di kompleks Kantor Resor Mangkok, yang sebagian bangunannya dikelola secara kolaboratif bersama Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) dan akan digunakan sebagai pusat kegiatan sekaligus tempat menginap bagi tim. Di sana, beberapa rekan mitra pembangunan dan perwakilan dari perkumpulan nelayan sudah tiba lebih awal.
Setelah mandi dan makan malam, tim segera menggelar rapat teknis untuk kegiatan esok harinya, 2 Mei 2026, yang bertujuan untuk menguatkan komitmen kolaboratif antara pemerintah dengan kelompok masyarakat, “Pelibatan Kapakat Nelayan Danum Babilem menjadi krusial dalam konteks kesiapsiagaan (Kebakaran hutan dan lahan) karhutla maupun pemantauan aktivitas-aktivitas perusakan lingkungan,” papar Irwan.
Perkumpulan Kapakat Nelayan Danum Babilem adalah perkumpulan yang terdiri dari enam belas kelompok nelayan yang mencari nafkah di Sebangau, dan berasal dari Bahasa Dayak Ngaju yang berarti ‘air hitam,’ terinspirasi dari warna air DAS Sebangau yang tinggi akan senyawa asam humus dari lahan gambut yang membentang di kedua sisi sungai.

Sisi selatan Sebangau dikelola oleh Balai Taman Nasional Sebangau, dan Dinas Kehutanan Kalimantan Tengah yang mengelola Taman Hutan Raya (Tahura) Isin Mulang Sebangau Berkah di sisi utaranya; menjadikannya strategis dalam konteks perlindungan dan pengelolaan kawasan secara berkelanjutan.
Seri data yang disajikan dalam Kajian Tata Kelola Kebakaran Hutan di Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) Sebangau-Katingan dan KHG Sebangau-Kahayan (Tim Peneliti Pusat Pengembangan IPTEK dan Inovasi Gambut, PPIIG, Universitas Palangka Raya dan Program Kalimantan Tengah WWF-Indonesia, 2024) menyatakan bahwa kedua KHG tersebut memang ‘memiliki kerentanan terhadap karhutla’ dan ‘dinilai berisiko tinggi.’
Lebih spesifik, kajian lain menyatakan bahwa kurang lebih 1.235.249 Ha area KHG di Kalimantan Tengah memiliki ‘status risiko tinggi’ dalam konteks karhutla (Pantau Gambut, 2023). Data lain menyatakan pada tahun 2023 luas area yang terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah ‘saja’ adalah sekitar 165.896 hektare (SIPONGI, 2023).

Sejak tahun 1980 hingga tahun 2001 area SSI dikelola oleh 13 perusahaan Hak Pengusahaan Hutan (HPH), lalu ‘diambil alih’ oleh pembalak liar yang membangun banyak kanal di Sub-DAS dan DAS Sebangau untuk mempermudah transportasi gelondongan kayu. ‘Wilayah tak bertuan’ ini bertahan hingga setidaknya tahun 2004 ketika kawasan Sebangau seluas 568.700 hektare ditetapkan sebagai taman nasional melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan SK. 423/Menhut-II/2004.
Kanal-kanal yang dibuat oleh pembalak liar tersebut menyebabkan hutan lahan gambut di Sebangau, termasuk SSI, menjadi kering dan menimbulkan karhutla massif di Kalimantan Tengah pada tahun 2006.

Pada tahun yang sama, TN Sebangau bersama masyarakat sekitar dan WWF- Indonesia membangun dam sebagai percontohan untuk menaikkan tinggi permukaan air agar bisa membasahi lahan-lahan gambut yang telah mengering. Secara keseluruhan, hingga tahun 2011 sebanyak 431 unit dam dibangun di tiga sungai-sungai kecil yang bermuara ke DAS Sebangau, yaitu Bakung, Rasah, dan Bangah, termasuk area SSI.


Waktu menunjukkan hampir pukul 10 keesokan paginya ketika lebih dari tiga puluh partisipan kegiatan dari Danum Babilem sudah duduk rapi tersebar mulai teras hingga gazebo dari bangunan tempat tinggal yang dikelola BOSF tersebut.

Kegiatan dibuka oleh Inspektur Satu (Iptu) Djunedie, Kepala Polsek Sebangau Kuala, lalu dilanjutkan oleh Dedi Kariyanson dari Dinas Kehutanan Kalimantan Tengah selaku pengelola Tahura Isin Mulang Sebangau Berkah, dan Okta Simon, Manajer Program Sebangau-Katingan dari WWF-Indonesia.
Dalam pembukaannya Dedi mengatakan, “Kami berharap kita semua bisa saling mendukung kegiatan untuk memperbaiki kondisi alam sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebangau ini alamnya masih terjaga, banyak orang tertarik untuk ke sini.” Dedi juga menekankan, “tugas kita bersama untuk mempertahankan lingkungan, alam kita. Suatu saat kita pasti akan menerima manfaatnya yang besar.”
“Bagaimana Sungai Sebangau dengan adanya Tahura dan Taman Nasional bisa memberikan manfaat bagi orang-orang yang hidup di sini,” Harap Okta Simon, seraya melanjutkan, “diskusi kita hari ini harapannya untuk mencatat supaya program pemerintah nyambung dengan kebutuhan, dan bagaimana keterlibatan nelayan Sebangau, termasuk aturan mainnya.”

Rampung sesi pembukaan, fasilitator dari eLPaM, TFLC dan WWF-Indonesia memandu sesi selanjutnya, yaitu diskusi kelompok yang dengan pertanyaan-pertanyaan kunci mencakup praktik perikanan tradisional, aturan-aturan adat yang berlaku untuk pemanfaatan perikanan di Sebangau, dampak perubahan iklim yang terasa, pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menghadapi perubahan iklim, dan peningkatan pelibatan perempuan dalam pengambilan keputusan di desa masing-masing.
Dalam masing-masing kelompok kecil, satu orang ditugaskan untuk mencatat jawaban yang disepakati. Suara riuh banyak orang, sambil sesekali diiringi gerakan tangan bersemangat menjadi penanda pemahaman individu yang bertolak menuju pemahaman kolektif.

“Dulu menyeberang dari sebelah sana ke sebelah sini; berani, enggak ada yang ganggu. Malahan timbul di pinggir perahu saja, kita enggak takut. Koq sekarang malahan kita takut,” cerita Iyang retoris, salah satu anggota perempuan Danum Babilem, lalu melanjutkan, “oleh apa? Buaya terlalu banyak sekarang; besar, kecil. Malahan ada yang seperti pintu tuh besarnya!”

Secara terpisah, Nur Santi, warga Kampung Garung yang juga merupakan sekretaris Danum Babilem, mengamini pendapat Iyang, “Satu tahun terakhir ini monyet menjadi-jadi, berang-berang menjadi, biawak menjadi-jadi. Kayanya makanan mereka itu kurang,” lalu melanjutkan, “masyarakat itu ketergantungannya dengan ikan, (yang) ada waktu-waktu tertentu (untuk) mendapatkan hasil-hasil yang lumayan. Sekarang ikannya sepi, banyak modal dari dapat ikan.”
Jawaban Iyang dan Nur Santi tersebut adalah jawaban yang disepakati secara kolektif oleh kelompoknya mengenai dampak perubahan iklim yang dirasakan. Meningkatnya agregasi buaya maupun hidupan liar lain di lokasi-lokasi nelayan mencari ikan tentu sangat memengaruhi hasil tangkapan nelayan Sebangau dan, lebih jauh, berpengaruh terhadap mata pencaharian mereka secara keseluruhan karena wilayah tangkap yang meluas berarti meningkatnya biaya operasional dan potensi konflik dengan nelayan-nelayan dari daerah lain.
Setelah makan siang, fasilitator kembali mengumpulkan peserta lalu segera memandu sesi selanjutnya dari kegiatan hari itu, yaitu presentasi oleh perwakilan kelompok yang akan diperdalam dengan diskusi bersama seluruh peserta dan fasilitator setelahnya.

Dari empat kelompok, kesemuanya bersepakat bahwa hasil tangkapan mereka berkurang untuk beberapa waktu belakangan ini. Untuk pertanyaan lanjutannya, keempat kelompok juga bersepakat bahwa mereka mesti mengembangkan ilmu pengetahuan dan keterampilan demi mempertahankan mata pencaharian utama mereka sembari berupaya mengembangkan mata pencaharian alternatif.
Melalui diskusi tersebut, secara kolektif Danum Babilem berkomitmen untuk memantau, menjaga dan menginformasikan jika terjadi karhutla di kampung maupun di wilayah tempat mereka mencari ikan, serta melaporkan jika ada aktivitas-aktivitas merusak lingkungan. Komitmen ini disambut baik oleh perwakilan Dishut Kalimantan Tengah, TN Sebangau, dan Polsek Sebangau Kuala yang hadir.
Sebagai tambahan, kegiatan tanggal 18 Juni untuk DAS Katingan, yang diselenggarakan di Kecamatan Kamipang, Kabupaten Katingan melibatkan perwakilan masyarakat dari lembaga-lembaga pengelola Hutan Kemasyarakatan (HKm.) Hapakat Atei, Hutan Desa (HD) Lapak Taheta Desa Jahankang, serta HD Karuing Hapakat, Kelompok Simpul Wisata Desa Karuing, dan Forum Perhutanan Sosial Gambut (FPSG), perwakilan Masyarakat Peduli Api (MPA) dari ketiga desa tersebut.

Mereka berdiskusi dengan pemerintah tiga desa, yaitu Jahanjang, Karuing, Baun Bango, lalu Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) XXX Katingan Hilir dari Dinas Kehutanan Kalimantan Tengah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Katingan, perwakilan pemerintah Kecamatan Kamipang, Polsek Petak Bandang, Komando Rayon Militer (Koramil) Petak Bandang, dan TN Sebangau.
Di penghujung diskusi di Resor Mangkok, Iptu. Djunedie urun pendapat dengan mengingatkan untuk tidak mengambil risiko dan segera menghubungi pihak berwajib jika anggota Danum Babilem menemukan api atau menjumpai aktivitas mencurigakan yang bisa merusak lingkungan, lalu melanjutkan, “harapan kami, kita bisa bersama-sama melindungi kelestarian alam dan lingkungan di sekitar sini. Kalau enggak kita-kita ini, siapa lagi?”
Diskusi yang hangat, topik yang berat berseling canda tawa, waktu melaju tak terasa matahari lagi ke barat. Satu per satu anggota Danum Babilem dan tamu-tamu undangan menaiki perahu yang membawa mereka ke Mangkok untuk kembali.
Fasilitator dan panitia lainnya melepas kepergian peserta teriring keyakinan bagi Sebangau dalam menghadapi kemarau. Baik di Mangkok maupun Katingan, kolaborasi para pihak adalah kunci dalam menghadapi karhutla yang tidak mengenal batas administratif, kedinasan, kementerian, bahkan batas negara.