KETIKA PETANI MENJADI PENGGERAK DATA DAN PERUBAHAN DI KATANJUNG
Di tengah dingin malam yang menyelimuti Desa Katanjung, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, selingan gelak tawa jadi penghangat suasana diskusi di pondok milik Damang Udur. Pak Damang adalah Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Lestari Hutan Katanjung 1, salah satu kelompok Perhutanan Sosial yang menjadi garda depan dalam penerapan petak contoh Strategi Jangka Benah, sebuah upaya memperbaiki struktur dan fungsi ekosistem hutan melalui teknik agroforestri sawit, yang mengubah perkebunan sawit monokultur menjadi agroforestri kompleks tanpa pembongkaran lahan secara mendadak.
Masyarakat sekitar datang dan berkumpul untuk mengikuti diskusi dan penginformasian kajian kondisi awal keanekaragaman hayati dan pemetaan partisipatif yang akan dilakukan selama beberapa waktu ke depan. Diskusi dilakukan dengan rinci namun hangat dengan penyadaran pentingnya rasa kepemilikan atas program ini. Antusiasme masyarakat pun menyeruak, sebagian masyarakat mengangkat tangan teracung tanda ingin tergabung, mereka bersemangat menjadi aktor dalam kegiatan yang disampaikan oleh WWF-Indonesia ini.
Kegiatan pengambilan data dasar ini menjadi ruang untuk mengukur dampak penerapan progam Strategi Jangka Benah dalam melihat bagaimana situasi ekologis saat ini dibanding masa-masa berikutnya.
Kolaborasi juga menjadi kunci dalam kegiatan yang terlaksana pada rentang 10 – 18 Februari 2026 ini. Dukungan datang dari berbagai pihak, mulai dari mahasiswa Universitas Palangka Raya dan Universitas Brawijaya, KPHP Kapuas Hulu, WWF-Indonesia, KTH Lestari Hutan Katanjung 1, hingga masyarakat Desa Katanjung. Semua terlibat dan bekerja bersama di lapangan.
Kebersamaan ini menunjukkan bahwa Strategi Jangka Benah bukan milik satu pihak saja. Strategi ini memang diatur dalam Permen LHK No. 9 Tahun 2021 sebagai langkah penyelesaian keterlanjuran sawit monokultur di kawasan hutan. Namun lebih dari itu, SJB adalah upaya bersama untuk memulihkan fungsi ekologis hutan tanpa mengabaikan kebutuhan ekonomi para pengelolanya. Dengan semangat kolaborasi, proses pemulihan ini menjadi lebih inklusif dan memberi ruang bagi semua pihak untuk berperan.

Kegiatan dimulai dari pengamatan satwa liar yang terdiri dari burung, mamalia, dan hewan melata di dalam tutupan sawit monokultur, peralihan dari tutupan sawit ke hutan, dan tutupan hutan tersisa. Selanjutnya, tim juga bersama-sama melakukan sampling tanah dan pengamatan vegetasi untuk menilai bagaimana situasi terkini. Data akan dianalisis untuk mengetahui bagaimana gambaran areal sawit dan tutupan hutan tersisa yang berada di areal KTH Lestari Hutan Katanjung 1. Hal ini juga sebagai upaya WWF-Indonesia dalam mendorong perbaikan ekologis di kawasan hutan.

Di sela-sela kegiatan, masyarakat mengajak untuk mencari bahan pangan seperti rebung, obat-obatan, dan buah-buahan hutan. Momen ini membuka ruang percakapan tentang kebiasaan masyarakat dalam memanfaatkan hasil hutan bukan kayu. Perjalanan pengambilan data ini tidak hanya satu arah, yang membuatnya istimewa adalah para anggota tim yang berkolaborasi saling belajar mengenai pengetahuan-pengetahuan lokal dan pengetahuan eksak. Ini membuktikan meski sawit menjadi salah satu sumber mata pencaharian bagi sebagian masyarakat, tetapi hutan tetap berfungsi bak tabungan bermanfaat penyedia pangan dan sumber ekonomi bagi masyarakat. Interaksi sederhana ini justru yang menjadi penguat bagi WWF-Indonesia untuk terus berkomitmen sebagai mitra dalam mendorong percepatan perbaikan ekologis lingkungan.

On Pict: Meranti Merah; Shorea spp.
Strategi Jangka Benah (SJB) dalam kerangka Perhutanan Sosial, menjadi pendekatan gradual untuk memperbaiki kondisi kawasan hutan yang telah terlanjur dikelola dalam bentuk monokultur sawit. Melalui pola pengayaan vegetasi, diversifikasi tanaman kehutanan di sela-sela sawit, SJB menjadi jalan tengah untuk mengembalikan fungsi ekologis tanpa serta-merta memutus sumber penghidupan masyarakat.