KOLABORASI MEMBANGUN KESEIMBANGAN HUTAN DAN SAWIT SECARA BERKELANJUTAN
Bertempat di Palangka Raya, pada pertengahan Agustus 2025 lalu, WWF-Indonesia menyelenggarakan Stakeholder Meeting terkait implementasi Strategi Jangka Benah (SJB) secara kolaboratif bersama pemerintah daerah, akademisi, serta para pemangku kepentingan perhutanan sosial sebagai ruang dialog untuk menyelaraskan peran, memperkuat koordinasi, dan merumuskan langkah teknis implementasi di lapangan.
Perkebunan sawit merupakan aspek penting bagi perekonomian Kalimantan Tengah dengan kontribusi mencapai 25% terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) serta menjadi penyedia lapangan kerja bagi masyarakat. Namun demikian, tantangan besar muncul ketika keberadaan kebun sawit di dalam kawasan hutan berdampak pada isu lingkungan global seperti hilangnya keanekaragaman hayati dan krisis iklim. Sebagai pendekatan transisi yang lebih adaptif, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah mengedepankan Strategi Jangka Benah (SJB), sebagai upaya memperbaiki struktur dan fungsi ekosistem hutan melalui teknik agroforestri sawit, yang mengubah perkebunan sawit monokultur menjadi agroforestri kompleks tanpa pembongkaran lahan secara mendadak.
Dalam sesi pertama yang menghadirkan para narasumber dari unsur pemerintah, akademisi, dan WWF-Indonesia memaparkan tentang perkembangan kebijakan, tantangan implementasi, serta peluang penerapan SJB dalam program nasional lainnya seperti Folu Net Sink dan pengalaman di lapangan. Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi interaktif yang dipandu oleh moderator, di mana peserta bersama-sama mengidentifikasi kendala lapangan, kebutuhan dukungan kelembagaan, serta pembagian peran yang lebih jelas antar pihak.
Implementasi SJB saat ini secara legal dapat diterapkan pada areal Perhutanan Sosial. Dalam proses transisi ini, para pemangku kepentingan berupaya menyelaraskan mekanisme monitoring dan pengelolaan agar berjalan sesuai standar kelembagaan. Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi sangat penting, khususnya dalam penyusunan dan pengesahan instrumen teknis seperti petunjuk teknis (Juknis) atau SOP resmi yang akan menjadi pedoman operasional bersama.
Di tingkat tapak, tantangan yang dihadapi tidak hanya administratif, namun juga menyangkut persepsi petani terhadap produktivitas sistem agroforestri. Untuk itu, kolaborasi dengan akademisi seperti Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Palangka Raya (UPR) perlu terus diperkuat guna menghadirkan bukti ilmiah bahwa tanaman kehutanan seperti meranti dapat tumbuh berdampingan dengan sawit dan berpotensi mendukung produktivitas jangka panjang. Dukungan pemerintah dalam penyediaan bibit kehutanan berkualitas juga menjadi salah satu rekomendasi penting.
Melalui forum ini, WWF-Indonesia dan seluruh pemangku kepentingan yang hadir menekankan pentingnya integrasi SJB ke dalam dokumen perencanaan daerah seperti RPJMD agar dukungan anggaran dan program kerja lebih terstruktur. Kejelasan pembagian peran “siapa mengerjakan apa” menjadi kunci dalam memastikan implementasi berjalan efektif. Dengan memandang Jangka Benah sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar instrumen penertiban, semangat kolaborasi lintas sektor diharapkan dapat mewujudkan visi “Masyarakat Sejahtera, Hutan Lestari” di Kalimantan Tengah.