WWF-INDONESIA BERSAMA PARA PIHAK DORONG PEMBIAYAAN BERBASIS LANSKAP UNTUK PERKEBUNAN BERKELANJUTAN DAN PERLINDUNGAN ALAM
Jakarta, 4 November 2026 – Transformasi menuju pertanian berkelanjutan memerlukan pendekatan pembiayaan yang tidak hanya mendukung peningkatan produktivitas, tetapi juga memperkuat perlindungan ekosistem dan kesejahteraan masyarakat. Melalui pembiayaan berbasis lanskap (Landscape Finance Approach), investasi harus dapat menjawab kebutuhan produksi sekaligus menjaga fungsi ekologis hutan, sumber air, keanekaragaman hayati, dan habitat satwa liar. Pendekatan ini membutuhkan kolaborasi pemerintah, lembaga keuangan, pelaku usaha, petani, dan masyarakat sipil agar pertumbuhan ekonomi tidak menambah tekanan terhadap ekosistem alami.
Demi mewujudkan hal tersebut, WWF-Indonesia berkolaborasi dengan Inisiatif Keuangan Berkelanjutan Indonesia (IKBI) dan Partnership for Indonesia’s Sustainable Agriculture (PISAgro) menggelar diskusi multipihak bertajuk “Advancing Nature-Positive Agriculture through Landscape Finance: Building Inclusive and Transparent Supply Chains” pada 3 November 2026 di Jakarta. Dalam kolaborasi ini, PISAgro selaku konsorsium multipihak yang menjembatani kolaborasi antara sektor swasta, pemerintah dan petani dalam mendorong praktik pertanian berkelanjutan serta memperkuat keterhubungan antara pelaku usaha di sepanjang rantai pasok komoditas. Acara ini adalah upaya untuk mempertemukan pelaku industri komoditas, lembaga keuangan, pemerintah dan organisasi masyarakat sipil untuk mengeksplorasi pendekatan pembiayaan yang mampu mendorong transformasi perkebunan berkelanjutan, meningkatkan daya saing, serta memperkuat perlindungan ekosistem.
Sektor perkebunan memiliki peran strategis bagi perekonomian Indonesia. Pada 2025, subsektor perkebunan berkontribusi lebih dari sebesar Rp1.075,29 [1]triliun rupiah terhadap produk domestik bruto (PDB). Komoditas seperti kopi, karet dan kakao adalah sumber devisa, serta menopang penghidupan jutaan lapisan masyarakat di berbagai wilayah. Meski demikian, keberlanjutan sektor ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari risiko tekanan komoditas tersebut terhadap ekosistem, perubahan iklim, produktivitas petani yang rendah hingga meningkatnya tuntutan pasar terhadap praktik produksi yang bertanggung jawab.
CEO WWF-Indonesia, Aditya Bayunanda menyampaikan “Peningkatan produktivitas pertanian harus dilakukan dengan mengoptimalkan lahan yang sudah dimanfaatkan, tanpa memperluas tekanan terhadap hutan dan ekosistem alami. Hutan, sumber air, keanekaragaman hayati, dan konektivitas habitat satwa liar merupakan bagian penting dari ketahanan lanskap yang menopang keberlanjutan produksi dan penghidupan masyarakat. Karena itu, investasi dalam pertanian berkelanjutan perlu berjalan seiring dengan investasi untuk perlindungan dan pemulihan ekosistem”.
Pendekatan ini membuka peluang untuk menyelaraskan berbagai sumber pendanaan, mulai dari investasi komersial, pembiayaan dengan bunga rendah, pendanaan publik, hingga skema pembiayaan campuran (blended finance), sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing lanskap,” lanjut Aditya.
Pendekatan pembiayaan berbasis lanskap atau Landscape Finance Approach (LFA) menempatkan produksi komoditas berkelanjutan untuk perlindungan ekosistem sebagai bagian dari satu kesatuan yang saling berkaitan. Melalui pendekatan ini, investasi akan diarahkan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi rantai pasok, serta mendukung praktik perkebunan berkelanjutan, konservasi ekosistem hutan, perlindungan sumber daya air, pemulihan ekosistem serta penguatan penghidupan masyarakat.
Insan Syafaat, Executive Director PISAgro, turut menyampaikan, “Perubahan persyaratan pasar global perlu direspons melalui kolaborasi yang kuat antara pemerintah, pelaku usaha, dan seluruh rantai pasok. Peningkatan produktivitas tanpa membuka lahan baru menjadi kunci untuk memenuhi kebutuhan pasar sekaligus menjaga kelestarian hutan dan ekosistem. Hal ini dapat diwujudkan melalui kemitraan dari hulu hingga hilir yang memperkuat kapasitas petani, akses pembiayaan, serta insentif bagi praktik produksi berkelanjutan.”
Lebih lanjut, Insan menjelaskan bahwa kolaborasi tersebut telah diterapkan oleh sebagian besar anggota PISAgro melalui Inclusive Closed Loop Model, yang terbukti mampu meningkatkan produktivitas petani hingga tiga kali lipat dan pendapatan hingga lima kali lipat. Dukungan dan kepastian pasar dari offtaker juga menjadi insentif bagi petani untuk terus berproduksi. Dengan demikian, penerapan EUDR dan prinsip keberlanjutan harus menjadi upaya bersama untuk menjaga ketahanan pangan dan kesejahteraan petani kecil, bukan menjadi hambatan perdagangan.
Memperkuat Produktivitas dan Keterlibatan Petani Swadaya
Transformasi menuju komoditas perkebunan yang berdampak positif bagi alam (nature-positive agriculture) tidak dapat terwujud tanpa keterlibatan petani. Sebagai aktor strategis dan penting dari rantai pasok komoditas perkebunan Indonesia, hingga saat ini petani kerap menghadapi keterbatasan modal, akses teknologi, pendampingan dan informasi pasar untuk memenuhi persyaratan keberlanjutan yang terus berkembang. Oleh karena itu, penguatan inklusi menjadi aspek penting untuk memastikan bahwa transformasi menuju praktik produksi berkelanjutan tidak hanya menjawab kebutuhan industri dan pasar, tetapi juga mencerminkan kebutuhan, aspirasi, dan kepentingan masyarakat di tingkat tapak.
Melalui pendekatan pembiayaan berbasis lanskap, kebutuhan petani dapat dihubungkan dengan kepentingan industri, investor dan pemerintah dalam kerangka kolaborasi yang lebih terintegrasi. Pendekatan ini memungkinkan investasi harus mendukung peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani sekaligus menjaga fungsi ekologis lanskap, termasuk
kesehatan tanah, ketersediaan sumber air, kelestarian hutan dan keanekaragaman hayati. Dalam hal ini petani bukan hanya menjadi penerima manfaat, tetapi sebagai aktor utama yang turut dalam pengambilan keputusan.
Melalui kerjasama ini, WWF-Indonesia bersama para pihak mendorong kolaborasi nyata antara lembaga keuangan dan pelaku rantai pasok untuk membuka peluang investasi berkelanjutan di lanskap produksi komoditas Indonesia. Kolaborasi ini diharapkan dapat menjembatani kebutuhan konsumen akan pasokan yang bertanggung jawab dengan kebutuhan pembiayaan di tingkat produsen, sekaligus memperkuat transparansi rantai pasok, perlindungan ekosistem dan manfaat sosial bagi masyarakat.
-selesai-
Tentang Yayasan WWF Indonesia
WWF-Indonesia adalah organisasi masyarakat madani berbadan hukum Indonesia yang bergerak di bidang konservasi alam dan pembangunan berkelanjutan, dengan dukungan lebih dari 100.000 suporter. Misi WWF-Indonesia adalah untuk menghentikan penurunan kualitas lingkungan hidup dan membangun masa depan di mana manusia hidup selaras dengan alam, melalui pelestarian keanekaragaman hayati dunia, pemanfaatan sumber daya alam terbarukan yang berkelanjutan, serta dukungan pengurangan polusi dan konsumsi berlebihan.
Untuk berita terbaru, kunjungi www.wwf.id dan ikuti kami di X (Twitter) @WWF_ID | Instagram @wwf_id | Facebook WWF-Indonesia | YouTube WWF-Indonesia
Tentang Partnership for Indonesia’s Sustainable Agriculture (PISAgro)
PISAgro adalah platform kemitraan multipihak yang mempertemukan pemerintah, sektor swasta, organisasi non-pemerintah, dan asosiasi petani untuk mendukung pemerintah Indonesia dalam mencapai ketahanan pangan nasional dan meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan melalui model kemitraan inklusif.
Website: www.pisagro.org | Social Media: PISAgro (LinkedIn) | @pisagro_secretariat (Instagram)
Kontak Media
Karina Lestiarsi, Media Relations Officer, klestiarsi@wwf.id, +62 852-1816-1683