MENGAPA SUARA PEDULI LINGKUNGAN HARUS MUNCUL DI MEDIA SOSIALMU?
Sentani, 24 April 2026 – Mungkin, bagi sebagian orang, sisa makanan yang tertinggal di piring dianggap hal biasa. Bahan makanan yang tersimpan lama di kulkas lalu dibuang juga kerap kali dianggap bukanlah sesuatu yang serius. Namun, di balik itu semua, tersimpan persoalan lingkungan yang jauh lebih besar. Sebagai penghasil gas berbahaya, yaitu gas metana, sampah makanan memiliki kemampuan 28x lebih kuat dalam memanaskan bumi dibandingkan karbon dioksida. Tentu, di tengah cuaca yang semakin panas setiap harinya, dan cuaca yang tidak menentu, persoalan iklim menjadi hal relevan yang perlu sekali untuk dibicarakan.
Tepat 24 April 2026, di Kota Jayapura, semangat untuk peduli terhadap lingkungan, seperti sampah makanan diwujudkan dalam kegiatan pelatihan penyusunan konten bertema “Ko Bijak Pangan, Ko Selamatkan Bumi.” Kegiatan tersebut melibatkan komunitas muda-mudi peduli lingkungan bersama pemuda-pemudi lintas agama, serta masyarakat adat. Kegiatan tersebut juga merupakan hasil kolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jayapura, Earth Hour Jayapura, dan WWF Indonesia Program Papua. Mereka hadir untuk memperingati momen Hari Bumi yang jatuh tepat pada 22 April 2026. Mereka berkumpul bukan hanya untuk belajar lingkungan, tetapi juga belajar bahwa menyampaikan pesan tersebut kepada masyarakat melalui media sosial juga menjadi komponen penting dalam memberikan ruang bumi untuk bernapas dari persoalan iklim.
Bagi salah satu partisipan pelatihan, Boy Kallem, Ketua Komunitas Guardian Hollo sekaligus juga merupakan salah satu masyarakat adat yang hidup di kawasan Pegunungan Cycloop, beranggapan isu lingkungan tidak pernah berdiri sendiri. Semua saling berkaitan dan memengaruhi satu sama lain. “Alam adalah warisan adat yang perlu kita jaga dan lestarikan. Menjaga alam bisa dilakukan dengan banyak cara. Selain menjaga hutan, kita juga bisa menjaga alam dengan peduli terhadap sampah yang kita hasilkan setiap hari, apalagi sampah makanan yang ternyata turut mempercepat krisis iklim jika tidak dikelola dengan baik, tuturnya. Alam Papua, begitu juga hutan, seperti Cycloop merupakan Tanah Mama. Di sanalah kehidupan menancapkan nafasnya.
Setelah mereka memahami persoalan sampah makanan, muda-mudi peduli lingkungan yang berpartisipasi juga diajak mempelajari cara menyusun konten kampanye yang efektif. Mereka berlatih menyusun rencana konten agar memudahkan penyebaran pesan di setiap bulannya. Di era digital saat ini, media sosial menjadi ruang yang sangat strategis untuk menyebarkan pesan lingkungan. Namun, pesan yang kuat tidak lahir begitu saja. Dibutuhkan kemampuan untuk mengemas informasi menjadi sesuatu yang dekat, relevan, dan mudah dipahami oleh masyarakat. Tentunya dengan bantuan kertas kerja penyusunan konten dalam satu bulan.

Pada intinya, pelatihan ini menunjukkan bahwa menjaga bumi tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Bisa saja, usaha menjaga bumi dimulai dari hal sederhana, misalnya mulai menghabiskan makanan di piring, mengurangi makanan yang terbuang, hingga membagikan pesan-pesan edukasi yang dikemas sederhana melalui media sosial. Sebab, pada akhirnya, menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah, organisasi, atau komunitas tertentu, melainkan tanggung jawab bersama semua pihak. Dari unggahan sederhana, perubahan mungkin saja hadir di tengah-tengah kita!