PERJUANGAN TPFF MENEMBUS ISOLASI PEUSANGAN
Sungai Krueng Peusangan yang biasanya menjadi nadi kehidupan, mendadak berubah menjadi rintangan yang mencekam bagi warga Desa Karang Ampar, Bergang, dan Pantan Redup di Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah. Banjir bandang yang melanda wilayah ini pada akhir November tahun lalu, tidak hanya merusak jalan karena tertimbun longsor, tetapi memutus total akses masyarakat menuju keluar dari desa karena jembatan satu-satunya hilang tersapu air sungai yang meluap.
Hampir 2.000 jiwa seketika menghadapi ancaman kelaparan karena persediaan makanan yang tersimpan di rumah sangat terbatas. Stok yang ada diperkirakan hanya cukup untuk bertahan hidup selama 3 hari. Akibatnya, masyarakat terpaksa mengandalkan sisa hasil kebun yg masih tersedia seperti ypisang dan ubi, sebagai sumber makanan utama untuk bertahan hidup.
Muslim, Ketua Tim Pengamanan Flora Fauna (TPFF) Karang Ampar-Bergang segera menggerakan timnya untuk bertindak cepat. Ia menghubungi anggota TPFF, aparatur desa, serta warga dari desa tetangga untuk bersama-sama membuka kembali akses yang terputus meski ada keterbatasan peralatan. Hanya dalam tempo waktu lima hari, mereka berhasil membangun jembatan darurat berupa titi kabel dengan memanfaatkan kabel listrik PLNdari tiang yang telah tumbang. Berkat upaya tersebut, akses sementara akhirnya tersambung dan masyarakat dapat kembali keluar masuk desa melalui jalur darurat yang dirintis secara gotong royong.
Dalam situasi darurat, kerja sama erat antara masyarakat Desa Bergang, Desa Karang Ampar, Desa Pantai Redup, Desa Digul, Desa Simpang Rahmat, dan Desa Meriah Jaya telah mempercepat upaya pembukaan akses dari isolasi. Sebelumbantuan tiba, masyarakat berisiniatif membangun jembatan darurat secara swadaya. Upaya ini tidak hanya membuka kembali jalur keluar – masuk desa, tetapi juga juga memungkinkan mereka menyampaikan kondisi keterisoliran kepada pihak luar. Berkat inisiatif tersebut, bantuan pangan akhirnya bisa menjangkau desa-desa terdampak.
Pada minggu pertama pascabencana,setiap desa menerima bantuan beras sebanyak 600 kilogram dari Pemerintah Kabupaten. Sekilas jumlah tersebut tampak besar, namun pada praktiknya belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan seluruh warga. Bantuan dari berbagai pihak lain, termasuk WWF-Indonesia dan sejumlah terkait, kemudian mulai berdatangan. Dukungan ini cukup membantu terutama bagi masyarakat yang masih berada dalam kondisi terisolasi. Namun demikian, proses distribusi tidak mudah. Warga harus memanggul beras dan barang bantuan sejauh belasan kilometer untuk mencapai permukiman mereka. Dalam beberapa kesempatan, pemerintah juga mengirimkan bantuan melalui helikopter guna menjangkau desa-desa yang sulit diakses melalui jalur darat.
Seiring berjalannya waktu, warga bersama sejumlah pihak, termasuk Korps Brigade mobil, membangun beberapa sling penyeberangan untuk membuka kembali akses antarwilayah. Keberadaan akses ini memungkinkan warga dari tiga desa kembali menjual hasil panen durian mereka ke pasar. Pada awalnya, hasul kebun harus dibawa dengan berjalan kaki sejauh belasan kilometer. Namun setelah sling penyeberangan diperkuat dan diperbesar, fasilitas tersebut tidak hanya lebih kokoh, tetapi juga mampu mengangkut sepeda motor serta hasil perkebunan dalam jumlah yang lebih besar, sehingga distribusi menjadi jauh lebih efisien.
"Kami harus berpikir bagaimana motor warga bisa lewat untuk membawa hasil tani. Awalnya kami menarik beban secara manual dengan tangan sampai melepuh. Akhirnya kami berinisiatif menggunakan sling yang ditarik kendaraan roda dua di seberang sungai agar beban hingga 500 kilogram bisa melintas," ujar Muslim.
Di tengah derasnya bantuan, kebutuhan penerangan sempat menjadi tantangan utama. Selama masa tanggap darurat, warga mengandalkan listrik tenaga surya yang penggunaannya dibatasi dan diprioritaskan bagi bayi, warga sakit, lansia, serta kebutuhan mendesak lainnya. Kini, kondisi listrik berangsur membaik dengan hadirnya genset dan akses internet melalui Starlink yang memudahkan komunikasi ke luar desa.
Di tengah upaya pemulihan, tim TPFF tetap menjaga mandat konservasi. Awalnya tidak ada tanda keberadaan Gajah Sumatera, memicu kekhawatiran. Namun tiga minggu pascabencana, laporan warga dari Payalah dan Pantan Jerik mengungkap jejak sedikitnya delapan ekor gajah. Temuan ini memberi harapan bahwa satwa tersebut masih bertahan di Aceh, sekaligus mengingatkan pentingnya harmoni manusia dan alam.
Meski demikian, proses pemulihan tidak selalu berjalan mulus. Tak lama setelah tim WWF-Indonesia bersama Cinta Laura dan Luna Maya kembali dari kunjungan ke Aceh, hujan lebat merusak kembali Jembatan Darurat Ayun di Bergang. Tanah di pangkal jembatan tergerus arus deras, meninggalkan lubang besar yang membuat konstruksinya miring dan berisiko tinggi.
Saat ini, meski semula diharapkan bisa dilalui kendaraan roda empat, kondisi jembatan darurat tersebut memaksa warga untuk ekstra hati-hati. Hanya kendaraan roda dua yang relatif memungkinkan untuk melintas, sehingga akses ekonomi kembali terhambat. Situasi ini memperpanjang rasa was-was masyarakat yang tinggal di sepanjang DAS Krueng Peusangan.
Meski tantangan seolah datang bertubi-tubi, semangat tim TPFF dan masyarakat lokal tidak lantas padam. Mereka tetap berkomitmen untuk terus bergerak secara swadaya demi memastikan desa mereka kembali normal.
"Kami tidak pernah ingin mengemis. Jika seluruh akses jalan itu baik-baik saja, sebenarnya hasil tani kami melimpah," pungkas Muslim. "Kami hanya meminta akses jalan dan jembatan dipercepat pembangunannya agar anak-anak bisa sekolah dan ekonomi masyarakat bisa segera berputar kembali".
Kisah dari Peusangan ini menjadi pengingat kuat bahwa konservasi sejati bukan hanya tentang melindungi satwa liar, tetapi juga tentang memperkuat ketangguhan komunitas lokal. Di balik jembatan yang rusak dan jejak gajah di tanah berlumpur, ada semangat kemanusiaan yang menolak untuk menyerah pada keadaan.