PLASTIC SMART CITIES MENINGKATKAN PRAKTIK EKONOMI SIRKULAR UNTUK MENGURANGI POLUSI PLASTIK DI INDONESIA
Jakarta, 19 Juni 2026 —WWF-Indonesia melalui program Plastic Smart Cities (PSC) semakin mengukuhkan sebagai program strategis yang meningkatkan sistem pengelolaan sampah dan mendorong praktik ekonomi sirkular untuk mengurangi polusi plastik di wilayah Indonesia. Pencapaian program yang telah berlangsung sejak 2018 tercermin melalui refleksi dan diseminasi studi bertajuk “Tackling Indonesia’s Plastic Pollution and Leakage: Reflection and Pathways Forward from WWF Plastic Smart Cities Program”. Acara yang digelar pada 19 Juni 2026 ini memaparkan pembelajaran, praktik dari lapangan, serta kajian akademis mengenai pengelolaan sampah dan implementasi Extended Producer Responsibility (EPR) di negara kita. WWF-Indonesia yang menggagas PSC mendorong pembelajaran program untuk terus memperkuat kolaborasi lintas sektor agar mencapai tujuan utama tersebut.
PSC dilahirkan sebagai bentuk komitmen nyata dari sebuah perjanjian global yang mengikat secara hukum untuk mengurangi timbulan sampah plastik dan mencegah pencemaran plastik di wilayah laut pada tahun 2018. Program ini menghubungkan implementasi di tingkat lokal dengan dukungan kebijakan yang lebih luas, termasuk terkait Global Plastics Treaty dan pengembangan regulasi EPR.
Sejak tahun 2020, WWF-Indonesia mengimplementasikan PSC yang memfokuskan pelaksanaan program pada tiga wilayah kota, yaitu Jakarta, Depok, dan Bogor. Program yang berlangsung berkat dukungan WWF-Norwegia ini bermula dari kegiatan percontohan di tingkat Rukun Tetangga dan Rukun Warga. Setelah percontohan mencapai tujuannya, kegiatan berkembang di tingkat kota yang mencakup penguatan infrastruktur pengelolaan sampah, edukasi publik, peningkatan kesiapan EPR, serta kontribusi terhadap pengembangan kebijakan nasional.
Dalam perjalanannya, PSC semakin berkembang dari sebuah inisiatif berbasis kota menjadi platform program multi-level. Selama lima tahun (2021–2026), program ini mengimplementasikan tujuan utama melalui beragam kegiatan, seperti mendukung komitmen pemerintah kota, menggelar studi baseline, melibatkan masyarakat secara aktif, menguatkan bank sampah, mengembangkan fasilitas Material Recovery Facility (MRF) berbasis 3R, meningkatkan sistem pengumpulan sampah, mengadakan edukasi di tingkat sekolah, serta memintal kolaborasi multipihak.
Fasilitas TPS 3R di Jakarta Utara mulai beroperasi pada awal Mei 2026. Sementara itu, infrastuktur yang sama menjadi fasilitas pengelolaan sampah berbasis TPS 3R pertama di Depok. Dalam kurun waktu yang sama, WWF-Indonesia, melalui PSC, terus mendukung pengembangan peta jalan EPR, diskusi pembiayaan, eco-modulasi dan desain produk yang berkelanjutan. serta peningkatan kapasitas bersama produsen, hotel, restoran dan cafe, institusi pemerintah, dan mitra pembangunan.
“Plastic Smart Cities Indonesia menunjukkan bahwa aksi lokal dapat menghasilkan solusi nyata bagi kebijakan nasional dan transformasi ekonomi sirkular,” ujar Dewi Lestari Yani Rizki, Chief Conservation Officer WWF-Indonesia, “Melalui kolaborasi dengan pemerintah, masyarakat, pelaku sektor swasta, sekolah, dan mitra pembangunan, program ini menunjukkan bagaimana pengurangan kebocoran plastik dapat dicapai melalui pendekatan yang terintegrasi, berbasis bukti, dan dapat direplikasi.”
Pada masa mendatang, WWF-Indonesia akan mendorong sejumlah kegiatan program, mulai dari mengintegrasikan pembelajaran dari lapangan, mendukung penguatan peta jalan pengelolaan sampah nasional dan daerah, replikasi model bekerja sama dengan mitra, hingga menggerakkan dukungan pendanaan dan kebijakan. “Indikator capaian yang terukur, metode baseline dan endline, pemantauan kinerja TPS3R, dan keterlacakan pemulihan sampah akan menjadi elemen penting untuk memperkuat capaian program dan mendukung replikasi yang lebih luas," papar Dewi. Lanjut Dewi, ”Selama program lima tahun PSC, sebanyak 237 sekolah yang sudah teredukasi soal sampah plastik, dengan total peserta didik sekitar 71.100, dan 12 universitas di Jakarta, Bogor, Depok dan Jogjakarta”.
Dalam acara refleksi program PSC ini, WWF-Indonesia turut memaparkan dua hasil penelitian. Studi pertama bertajuk, “Analisis Design Kemasan dan Pengelolaan Sampah Kemasan Bernilai Rendah.” Sementara studi kedua, yaitu Rekomendasi Tata Kelola dan Pelaksaan EPR di Indonesia. Kedua studi ini merupakan kajian yang terintegrasi dan bertujuan untuk memberikan masukan terhadap proses penguatan kebijakan EPR dan pengelolaan sampah di Indonesia berdasarkan kondisi rantai nilai kemasan dan ketersediaan infrastruktur pengelolaan sampah saat ini.
Kajian itu memaparkan beberapa temuan penting, seperti kemasan sekali pakai dan kemasan material berlapis (multilayer) masih mendominasi pasar Indonesia. Tentu saja, temuan ini menjadi tantangan dalam pengelolaan sampah dikarenakan infrastuktur pengelolaan yang sangat terbatas menjadikan material-material ini memiliki nilai rendah di pasaran. Hal ini berdampak besar pada tingkat pengumpulan yang rendah sehingga berpotensi tinggi untuk bocor ke lingkungan.
Studi itu merekomendasikan perbaikan sistemik dengan mendorong pasar untuk material bernilai rendah. Kebijakan EPR di Indonesia juga perlu memperhatikan peningkatan pengelolaan sampah bernilai rendah ini dan transisi dalam desain kemasan yang lebih ramah lingkungan. Pembagian peran dan integrasi berbagai sektor termasuk perusahaan, operator pengelola sampah, pemerintah pusat dan daerah adalah kunci perbaikan sistemik.
Dalam langkah selanjutnya, PSC akan mendorong optimalisasi TPS3R, operator pengelola sampah lainnya serta integrasi EPR ke dalam sistem perencanaan daerah. Peluang replikasi dapat diperluas melalui pemerintah provinsi, universitas, sekolah, dan kota-kota baru. Sementara itu, sejumlah kegiatan lainnya, seperti peta jalan EPR, tanggung jawab produsen, pembiayaan campuran (blended finance), dan program pemerintah dapat dihubungkan untuk memperbesar investasi infrastruktur dan meningkatkan sistem pemulihan plastik.
Kristian Netland, Deputy Head of Mission at the Royal Norwegian Embassy mengatakan “Saya mengucapkan terima kasih kepada WWF, mitra, stakeholder dan masyarakat yang berkontribusi kepada PSC, dan juga melanjutkan program ini kedepan. Hari ini kita tidak hanya merayakan keberhasilan program PSC, tetapi tentang refleksi bahwa masih banyak tantangan kedepan yang harus dihadapi bersama, karena mengurangi plastic perlu kerja sama banyak pihak tidak bisa sendirian. Polusi plastik ini bukan sekadar isu pengelolaan sampah, tetapi tentang sistem yang melibatkan desain produk, permintaan pasar, infrastruktur, pembiayaan dan tata Kelola”.
Perjalanan pelaksanaan dan implementasi PSC telah menunjukkan komitmen WWF-Indonesia dalam mendukung agenda pengurangan polusi plastik serta berkontribusi pada visi global WWF yaitu No Plastic in Nature.
**
Informasi lebih lanjut, hubungi:
Karina Lestiarsi, Media Relation Officer
klestiarsi@wwf.id/ 0852-1816-1683
Tentang Yayasan WWF Indonesia
Yayasan WWF Indonesia adalah organisasi masyarakat madani berbadan hukum Indonesia yang bergerak di bidang konservasi alam dan pembangunan berkelanjutan, dengan dukungan lebih dari 100.000 suporter. Misi Yayasan WWF Indonesia adalah untuk menghentikan penurunan kualitas lingkungan hidup dan membangun masa depan di mana manusia hidup selaras dengan alam, melalui pelestarian keanekaragaman hayati dunia, pemanfaatan sumber daya alam terbarukan yang berkelanjutan, serta dukungan pengurangan polusi dan konsumsi berlebihan.
Untuk berita terbaru, kunjungi www.wwf.id dan ikuti kami di X (Twitter) @WWF_ID | Instagram @wwf_id | Facebook WWF-Indonesia | Youtube WWF-Indonesia