DARI CO-DESIGN HINGGA TRAINING OF TRAINERS: PERJALANAN KAMI MENJADI YOUTH CHAMPION, MAHASISWA JADI GARDA DEPAN KAMPUS MINIM PLASTIK
Pernahkah kamu memperhatikan berapa banyak plastik yang kamu pakai dalam sehari di kampus? Botol minum, kemasan makanan, hingga kantong belanja. Semuanya terasa sepele, sampai kami duduk bersama mahasiswa dari berbagai kampus dan mulai mendiskusikannya.
Itulah awal cerita kami di Youth Plastic Advocate, program kolaborasi WWF dan YPBB yang didukung oleh Accenture. Melalui edukasi tentang dampak sampah plastik dan cara menguranginya, program ini mengajak mahasiswa menjadi penggerak perubahan di kampus-kampus di wilayah Kota Bandung dan Jabodetabek. Kami belajar, membangun kesadaran, dan mengambil langkah nyata untuk mengurangi sampah plastik di lingkungan kampus.
Co-Design Workshop: Setiap Kampus Punya Tantangan Berbeda
Salah satu pengalaman yang berkesan bagi kami adalah ketika mengikuti co-design workshop di Panda Hub by WWF Indonesia, Jakarta pada 17 September 2026. Kegiatan ini menjadi ruang bagi kami untuk tidak hanya membahas isu persampahan secara umum, tetapi juga menggali kondisi dan tantangan yang dihadapi di masing-masing kampus. Dalam prosesnya, kami saling berbagi pengalaman mengenai berbagai persoalan, tantangan, sekaligus peluang yang ada di lingkungan kampus.
Pertukaran pengalaman tersebut membuka perspektif baru, salah satunya pandangan kami melihat kampus sendiri yaitu UNPAR. Kami menyadari bahwa meskipun menghadapi isu yang serupa, setiap kampus memiliki kondisi dan tantangan yang berbeda. Contohnya seperti instalasi isi ulang air minum yang selama ini terasa biasa saja, padahal belum tentu tersedia di tempat lain. Dari sini kami belajar bahwa mengurangi sampah plastik butuh pendekatan yang kontekstual dan sesuai dengan kondisi masing-masing kampus.
Di sisi lain, diskusi dalam workshop juga membuat kami menyadari bahwa ketersediaan fasilitas belum menyelesaikan seluruh persoalan sampah. Pengelolaan sampah memang menjadi bagian penting dari upaya menjaga lingkungan, tetapi kita juga perlu mulai bertanya “apa yang bisa dilakukan agar sampah tidak terus bertambah sejak awal?”. Pertanyaan inilah yang kemudian membuat kami melihat isu sampah bukan hanya sebagai persoalan tentang bagaimana mengelola sampah, tetapi juga tentang bagaimana kita mengurangi dan mencegahnya sejak awal.

Training of Trainers: Dua Hari Mendalami Ilmu di Hutanika
Jawaban atas pertanyaan itu mulai kami temukan pada Training of Trainers (ToT) yang diselenggarakan di Hutanika Bandung pada tanggal 26 - 27 September 2026. Berbeda dari workshop sebelumnya, ToT ini dirancang khusus untuk Youth Champions yaitu mentor bagi para Youth Plastic Advocate di setiap kampus.
Hari pertama adalah hari belajar. Kami mendalami ilmu pengolahan sampah dari mulai mengenali jenis-jenisnya, memilah, serta mengolahnya. Kami juga memahami bahwa langkah paling efektif adalah mengurangi sampah dari sumbernya. Ternyata persoalan sampah punya dasar ilmu yang perlu dipahami dan bukan sekadar urusan membuang pada tempatnya.
Hari kedua adalah hari berlatih memimpin. Melalui focus group discussion (FGD), kami mengasah kemampuan kepemimpinan sebagai mentor dalam mengelola sebuah program mengenai pengolahan sampah di lingkungan kampus. Kami berlatih menyampaikan gagasan, mendengarkan, membagi peran, hingga mencari solusi bersama. Kegiatan ini mengajarkan kami bahwa mentor yang baik dituntut mampu merangkul dan menumbuhkan rasa memiliki di antara anggota timnya.
Di sela materi yang padat, suasana tidak selalu serius. Panitia menyiapkan ice breaking yang mencairkan suasana dan membuat peserta dari berbagai kampus cepat akrab, ditambah senam bersama untuk melepas penat. Tawa dan gerak di tengah suasana hutanika menjadi jeda yang menyegarkan sekaligus mempererat kebersamaan para calon mentor.
Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Satu Langkah Kecil yang Konsisten
Di titik inilah kami mulai melihat bahwa kesadaran setiap individu memiliki peran yang tidak kalah penting. Fasilitas yang tersedia akan memberikan dampak yang lebih besar ketika orang-orang di dalamnya memahami cara menggunakan sekaligus alasan adanya keberadaan fasilitas tersebut.
Pada akhirnya, perubahan tidak selalu harus dimulai dari langkah yang besar. Hal-hal sederhana dalam keseharian, seperti membawa botol minum sendiri, mengurangi penggunaan produk sekali pakai, atau lebih bijak dalam menentukan apa yang kita konsumsi juga merupakan bagian dari upaya untuk mengurangi timbulan sampah.
Dengan bekal ilmu dan kepemimpinan dari ToT, para Youth Champions kini bersiap mendampingi mahasiswa di kampus masing-masing agar gerakan ini tidak berhenti di ruang pelatihan.